Respon Tegas Araghchi atas Klaim Trump: Bicaralah dengan Bukti!
Iran menolak klaim Trump yang tidak berdasar soal 32.000 kematian dalam kerusuhan Januari, dengan menunjukkan data resmi dan menuding Washington merekayasa narasi.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara tegas menolak klaim Presiden AS Donald Trump bahwa 32.000 orang tewas selama dua hari kerusuhan di Iran pada Januari, seraya menuntut Washington untuk menyertakan bukti, bukan sekadar melontarkan angka tanpa dasar.
Dalam unggahan di platform X, Araghchi menyatakan bahwa pemerintah Iran telah merilis data resmi korban dan menegaskan bahwa siapa pun yang mempersoalkan angka tersebut harus membuktikan klaimnya dengan bukti.
Sebelumnya, Trump mengklaim dalam sebuah pengarahan di Gedung Putih pada Jumat bahwa 32.000 orang tewas selama dua hari kerusuhan di Iran pada Januari, tanpa menyebutkan sumber atau bukti apa pun.
Pernyataan itu disampaikan saat ia membahas putusan Mahkamah Agung terkait tarif AS yang tidak berkaitan langsung, sehingga memicu kritik atas ketiadaan dasar klaim tersebut.
Teheran Soroti Kekerasan yang Didukung Asing
Pejabat Iran berulang kali menyatakan bahwa kerusuhan tersebut kemudian dibajak oleh jaringan yang didukung pihak asing, dengan mengemukakan bukti dan pernyataan resmi yang mengaitkan kekerasan dengan Amerika Serikat dan rezim Israel.
Otoritas Iran juga merujuk pada pernyataan mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo serta unggahan media sosial yang dikaitkan dengan badan intelijen Israel, Mossad, sebagai bukti adanya dorongan eksternal terhadap aksi kerusuhan.
Kantor berita milik negara Rusia, TASS, juga melaporkan bahwa pemeriksaan forensik menemukan amunisi kelas militer Israel pada tubuh anak-anak yang tewas selama kerusuhan tersebut.
Pejabat menyatakan bahwa kerusuhan bermula pada akhir Desember 2025 sebagai demonstrasi damai yang dipicu tekanan ekonomi dan sanksi, yang diizinkan berlangsung di bawah pengamanan polisi. Namun, otoritas menegaskan situasi kemudian meningkat setelah jaringan kekerasan terorganisir campur tangan, mengalihkan protes menuju kekacauan dan serangan bersenjata.
Klaim Palsu AS Digunakan untuk Mendorong Eskalasi terhadap Iran
Klaim palsu mengenai angka korban dilontarkan Washington di tengah meningkatnya ketegangan, menyusul laporan bahwa pejabat Amerika Serikat membahas skenario pembunuhan yang menargetkan kepemimpinan Iran, termasuk Sayyed Ali Khamenei, sebagaimana dilaporkan Axios.
Teheran menegaskan bahwa penggembungan angka korban secara sengaja merupakan bagian dari operasi propaganda dan perang narasi yang bertujuan menciptakan pembenaran politik bagi konfrontasi dan agresi terhadap Iran, meskipun penolakan terhadap perang regional baru terus meluas di dalam Amerika Serikat sendiri. (FG)



