Rezaei: Iran Serius dalam Perundingan, Lebih Serius dalam Perang dan Pertahanan
Komandan senior Iran menyatakan Trump datang ke Beijing dari posisi lemah dan memperingatkan bahwa setiap agresi baru dapat mengubah Laut Oman menjadi kuburan bagi kapal-kapal perang Amerika.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Mayor Jenderal Mohsen Rezaei menegaskan bahwa Republik Islam Iran sepenuhnya berkomitmen pada diplomasi, namun jauh lebih bertekad dalam mempertahankan negara secara militer. Ia menekankan bahwa Washington harus terlebih dahulu mengambil langkah-langkah konkret sebelum kemajuan apa pun dapat dicapai dalam perundingan.
“Kami serius dalam perundingan, dan lebih serius lagi dalam perang serta dalam membela Iran,” kata Rezaei dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, sebagaimana dikutip Tasnim News Agency.
Mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu mengatakan bahwa Amerika Serikat berulang kali melanggar komitmennya dan kini tidak lagi memiliki legitimasi, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.
Trump Datang ke Beijing dari Posisi Lemah
Rezaei mengatakan bahwa kunjungan Donald Trump ke Beijing baru-baru ini terjadi dalam kondisi strategis terburuk yang dihadapi Amerika Serikat.
Menurut Rezaei, Trump berharap datang ke China dengan posisi unggul, tetapi perang Amerika- Israel terhadap Iran memaksanya bernegosiasi dari posisi yang lemah.
Ia mencatat bahwa Trump secara terbuka mengklaim China sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, padahal Teheran sendiri secara konsisten menegaskan bahwa Iran tidak mencari maupun memiliki senjata semacam itu. Posisi tersebut diperkuat oleh fatwa Ayatullah Sayyed Ali Khamenei dan dikonfirmasi oleh lembaga-lembaga pemantauan internasional.
Rezaei juga mengatakan bahwa pernyataan Trump tentang dukungan China terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz bersifat menyesatkan.
“Iran mengatakan bahwa selat itu terbuka untuk perdagangan, tetapi tertutup bagi pengerahan militer dan perang,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa posisi sebenarnya China sejalan dengan sikap Teheran.
Amerika Memberikan Konsesi Besar kepada China
Rezaei mengatakan Washington pada praktiknya memberikan konsesi signifikan kepada China sebagai imbalan atas apa yang Trump gambarkan sebagai pencapaian diplomatik.
Konsesi tersebut mencakup pengurangan tarif, penerimaan terhadap kelanjutan pembelian minyak Iran oleh China, serta sikap diam terhadap peringatan China mengenai Taiwan.
Dari sudut pandang taktis maupun teknis, kata Rezaei, hasil tersebut merupakan kekalahan yang jelas bagi Amerika Serikat.
Ia menambahkan bahwa konsekuensi strategis yang lebih luas bahkan lebih penting: dunia kini melihat bahwa Amerika membutuhkan China dan tidak lagi memegang posisi dominan.
Serangan Amerika terhadap Iran Mengguncang Ekonomi Global
Rezaei menggambarkan serangan Amerika terhadap Iran sebagai tindakan ceroboh dan kriminal yang dampaknya telah dirasakan di seluruh dunia, dari Amerika Serikat dan Eropa hingga Asia Timur.
Ia mengatakan bahwa berlanjutnya tekanan maritim dan ketegangan militer di Selat Hormuz telah menimbulkan kerusakan serius terhadap ekonomi global dan pasar energi.
Menurut Rezaei, Iran telah menunjukkan kesabaran, namun kesabaran itu tidak boleh ditafsirkan sebagai penerimaan.
“Saya menyarankan militer Amerika untuk mundur sebelum Laut Oman menjadi kuburan bagi kapal-kapal perang mereka,” tegasnya.
Peringatan kepada UEA
Rezaei juga melontarkan peringatan keras kepada Uni Emirat Arab (UEA), dengan menyatakan bahwa Abu Dhabi telah melakukan kesalahan besar dengan berpihak kepada rezim Zionis.
Ia mengatakan bahwa UEA sedang membiarkan dirinya terjerat dalam agenda regional Israel, dan memperingatkan bahwa Benjamin Netanyahu berupaya menyeret Emirat ke dalam konfrontasi langsung dengan Iran untuk membuktikan kepada Trump bahwa Israel tidak sendirian di kawasan.
Rezaei menegaskan bahwa Iran belum menutup pintu persahabatan dengan UEA, namun menambahkan bahwa kesabaran Teheran memiliki batas.
Trump Menghadapi Krisis Legitimasi
Rezaei berpendapat bahwa Trump tidak memiliki legitimasi hukum, politik, maupun dukungan rakyat.
Ia mencatat bahwa Presiden Amerika Serikat gagal memperoleh otorisasi Kongres untuk berperang dan tidak mendapatkan dukungan berarti dari NATO maupun sekutu-sekutu tradisional Washington.
Resolusi-resolusi anti-Iran, tambahnya, juga gagal memperoleh dukungan internasional.
Menurut Rezaei, Trump telah bergeser dari ambisi perubahan rezim dan pemecahan Iran menjadi sekadar berupaya membenarkan tindakannya dengan dalih mendukung Israel dan membuka Selat Hormuz.
Iran Menuntut Tindakan Nyata
Rezaei menegaskan bahwa Teheran bersikeras Washington harus mengambil langkah-langkah praktis sebelum perundingan dapat bergerak maju.
Ia mengingatkan bahwa Iran telah berkali-kali berunding dan mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, namun Washington selalu melanggar komitmennya.
Kepada rakyat Iran, Rezaei menegaskan bahwa negara tetap berkomitmen pada diplomasi, tetapi musuh harus memahami bahwa Iran jauh lebih teguh di medan pertempuran.
Sebuah Peluang Bersejarah bagi Iran
Menutup pernyataannya, Rezaei menggambarkan situasi saat ini sebagai peluang strategis besar bagi Iran.
Ia mengatakan bahwa keteguhan dan persatuan yang ditunjukkan oleh rakyat Iran dan angkatan bersenjata telah membuktikan bahwa permusuhan Amerika Serikat dan rezim Zionis ditujukan kepada Iran itu sendiri, bukan semata-mata kepada Republik Islam.
“Sebagai seorang prajurit, saya katakan bahwa kita harus memanfaatkan peluang besar yang telah muncul bagi Iran ini,” ujar Rezaei, seraya menambahkan bahwa dukungan Imam Mahdi (aj) dan kepemimpinan Ayatullah Sayyed Ali Khamenei yang penuh energi terus membimbing bangsa ini ke depan. (FG)


