Rezim Arab Lindungi Pangkalan AS yang Digunakan Serang Negara-Negara Muslim: Sayyed Abdulmalik
Pangkalan militer AS di Teluk digunakan untuk melancarkan serangan terhadap negara-negara kawasan, sementara sebagian pemerintah Arab melindungi, membiayai, dan memberi perlindungan politik untuk itu
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Sayyed Abdulmalik Badr al-Din al-Houthi mengatakan bahwa pangkalan militer Amerika yang tersebar di berbagai negara Arab—terutama di kawasan Teluk—menjadi platform utama bagi agresi militer Amerika Serikat terhadap negara-negara di kawasan.
Berbicara dalam ceramah Ramadan-nya, pemimpin Ansarullah itu menyoroti peran pangkalan-pangkalan tersebut dalam konflik yang berlangsung di kawasan serta sikap yang diambil oleh sebagian pemerintah Arab terhadapnya.
Pangkalan AS Digunakan untuk Menyerang Negara-Negara Kawasan
Sayyed Abdulmalik menjelaskan bahwa pasukan Amerika menggunakan instalasi militer di sejumlah negara Arab untuk melancarkan serangan terhadap negara-negara Muslim, termasuk Republik Islam Iran.
Ia mengatakan bahwa ketika Iran merespons serangan tersebut dengan menargetkan pangkalan yang digunakan untuk menyerangnya, sebagian pemerintah Arab justru bereaksi dengan kemarahan dan menggambarkan respons Iran sebagai agresi terhadap negara mereka sendiri.
“Ketika pihak Iran merespons pangkalan-pangkalan yang menyerangnya,” kata Sayyed Abdulmalik, “sebagian rezim Arab menjadi marah dan menggambarkan pembelaan rakyat Iran sebagai agresi terhadap Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, atau Uni Emirat Arab.”
Menurut Sayyed Abdulmalik, pemerintah-pemerintah tersebut secara aktif berusaha melindungi pangkalan-pangkalan itu dari serangan balasan, meskipun instalasi tersebut digunakan untuk melancarkan serangan terhadap negara lain.
Perlindungan Politik dan Finansial bagi Pangkalan Amerika
Sayyed Abdulmalik menekankan bahwa sejumlah pemerintah Arab memberikan dukungan politik, militer, finansial, dan media bagi instalasi militer Amerika di kawasan.
Ia mengatakan bahwa sebagian negara bahkan membiayai biaya operasional untuk mempertahankan pangkalan-pangkalan tersebut.
“Mereka memberikan perlindungan dan payung politik bagi pangkalan-pangkalan itu,” kata Sayyed Abdulmalik. “Sebagian dari mereka bahkan menanggung sepenuhnya biaya finansial pangkalan-pangkalan yang digunakan untuk melakukan agresi tersebut.”
Ia menambahkan bahwa pemerintah yang sama justru mengharapkan negara-negara yang diserang dari pangkalan tersebut untuk tetap diam dan tidak melakukan pembelaan diri.
Standar Ganda terhadap Kaum Tertindas
Sayyed Abdulmalik mempertanyakan logika yang menuntut bangsa-bangsa tertindas untuk menerima serangan tanpa perlawanan hanya karena agresi tersebut berasal dari pangkalan yang berada di negara lain.
“Mengapa suatu bangsa harus tetap diam sementara rakyatnya dibunuh dan negaranya dihancurkan?” tanyanya.
Ia menggambarkan situasi ini sebagai contoh nyata dari ketidakadilan dan dominasi yang dipaksakan terhadap bangsa-bangsa tertindas.
“Mereka ingin kaum tertindas tetap terbelenggu dan tidak mampu membela diri,” kata Sayyed Abdulmalik, “bahkan ketika agresi dilancarkan terhadap mereka dari pangkalan-pangkalan itu sendiri.”
Kemunafikan di Dalam Kawasan
Sayyed Abdulmalik menyatakan bahwa realitas ini menyingkap apa yang ia sebut sebagai pola kemunafikan yang lebih luas di sebagian kawasan.
Ia mengatakan bahwa sebagian pemerintah secara politik dan strategis berpihak kepada kekuatan yang melakukan agresi, sementara pada saat yang sama mereka menentang gerakan-gerakan yang membela kaum tertindas.
Menurut Sayyed Abdulmalik, kebijakan semacam itu tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga memengaruhi bangsa-bangsa dan masyarakat lain di seluruh kawasan yang menghadapi tekanan serupa.
“Hal ini menunjukkan keadaan tirani dan ketidakadilan yang sangat jelas,” katanya, seraya menambahkan bahwa kerja sama dengan kekuatan luar melawan kepentingan kawasan pada akhirnya akan merugikan seluruh dunia Islam. (FG)


