Rodríguez Akui Legitimasi Maduro, Namun Isyaratkan Normalisasi dengan AS
Presiden sementara mengecam penahanan Maduro oleh AS sebagai tindakan ilegal, namun memberi sinyal keterlibatan dengan Washington di tengah pembicaraan sektor minyak.
Venezuela | FAKTAGLOBAL.COM — Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez menyatakan bahwa Nicolás Maduro tetap merupakan pemimpin sah negara tersebut meskipun ditahan oleh pasukan Amerika Serikat, menolak tuduhan terhadapnya dan menggambarkan operasi tersebut sebagai bentuk intervensi ilegal.
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dalam sebuah operasi militer AS di Caracas pada 3 Januari dan dipindahkan ke New York, di mana keduanya ditahan dalam tahanan federal atas tuduhan perdagangan narkoba.
Keduanya telah menyatakan tidak bersalah. Rodríguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden, mengambil alih kewenangan eksekutif setelah intervensi tersebut.
Penolakan atas Tuduhan AS, Sinyal Keterlibatan
Rodríguez menegaskan bahwa baik Maduro maupun Flores tidak bersalah dan mengecam tindakan Washington. Pada saat yang sama, ia mengakui adanya langkah-langkah menuju normalisasi hubungan dengan Amerika Serikat, dengan mengatakan bahwa dirinya telah diundang ke ibu kota AS dan sedang mempertimbangkan kunjungan tersebut “setelah kami menetapkan kerja sama ini.”
Pernyataannya muncul di tengah kembali terjalinnya kontak antara Caracas dan Washington, meskipun penahanan Maduro oleh otoritas AS masih terus berlangsung.
Fokus AS pada Sektor Minyak Venezuela
Pernyataan tersebut bertepatan dengan kedatangan Menteri Energi AS Chris Wright di Caracas untuk melakukan pembicaraan yang berfokus pada perombakan sektor minyak Venezuela dan upaya menghidupkan kembali perekonomian. Wright menggambarkan hubungan kedua negara sebagai berada “pada titik balik dalam sejarah.”
Washington secara terbuka berupaya mendapatkan akses ke cadangan minyak Venezuela yang sangat besar—cadangan terbukti terbesar di dunia—yang diperkirakan mencapai sekitar seperlima dari total cadangan global.
Para pejabat AS telah mengumumkan bahwa embargo minyak Venezuela yang telah berlangsung lama kini “pada dasarnya telah berakhir” dan menyerukan peningkatan produksi secara drastis, dengan pendapatan yang diarahkan ke proyek-proyek tertentu.
Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan Rodríguez bahwa ia akan menghadapi konsekuensi berat jika gagal memenuhi tuntutan Amerika Serikat.
Rodríguez sebelumnya menolak ancaman tersebut, dengan menyatakan bahwa dirinya telah “cukup dengan perintah-perintah Washington” dan menegaskan bahwa urusan internal Venezuela akan diselesaikan oleh rakyat Venezuela sendiri.
Sikap Rodríguez menyoroti ketegangan yang semakin meningkat antara penolakan Caracas terhadap intervensi militer AS dan keterlibatannya secara bersamaan dengan Washington melalui jalur ekonomi dan diplomatik.
Situasi yang terus berkembang ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai kedaulatan, legitimasi, dan sejauh mana pengaruh Amerika Serikat terhadap masa depan politik dan ekonomi Venezuela. (FG)


