Rudal Iran Hantam 11 Titik di Tel Aviv, Militer Israel Hadapi Ancaman Keruntuhan Internal
Serangan rudal Iran menghantam sejumlah lokasi di Tel Aviv, sementara pejabat senior Israel memperingatkan militernya berada di ambang kehancuran di tengah eskalasi perang.
Israel, FAKTAGLOBAL.COM - Otoritas penyiaran resmi Israel mengonfirmasi bahwa serpihan rudal Iran menghantam sedikitnya 11 titik di seluruh Tel Aviv, menyebabkan kerusakan luas di jantung wilayah pendudukan.
Menurut laporan tersebut, kehancuran besar terjadi di berbagai lokasi di kawasan metropolitan Tel Aviv, termasuk kerusakan pada bangunan, jalan, dan kendaraan akibat jatuhnya puing-puing rudal.
Gambar-gambar yang beredar di media sosial juga menunjukkan dampak serangan Iran dalam gelombang operasi terbaru yang dilakukan pada Jumat malam, menegaskan jangkauan dan presisi kemampuan balasan Iran yang semakin meningkat.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi yang terus berlanjut sebagai respons terhadap agresi AS–Israel terhadap Iran dan Poros perlawanan, sekaligus menunjukkan bahwa pusat-pusat perkotaan strategis milik entitas Israel kini tidak lagi berada di luar jangkauan.
Kepemimpinan Israel Akui Krisis Mendalam di Tubuh Militer
Dalam perkembangan signifikan, mantan Perdana Menteri Israel, Yair Lapid, mengeluarkan peringatan keras terkait kondisi militer Israel yang terus memburuk.
Dalam pernyataannya menjelang hari raya Paskah Yahudi, Lapid mengatakan bahwa rezim tersebut tengah menghadapi “bencana keamanan lainnya,” merujuk pada penilaian internal yang mengkhawatirkan dari Kepala Staf, Eyal Zamir.
“Saya tidak pernah mengingat, dalam 13 tahun masa pengabdian, adanya peringatan sekeras yang disampaikan tadi malam,” ujar Lapid, seraya menegaskan bahwa sejumlah “tanda bahaya” telah diangkat terkait kondisi militer.
Ia memperingatkan bahwa militer Israel berada “di ambang kehancuran,” sebuah pernyataan yang sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran atas kelelahan operasional dan tekanan sistemik.
Kelelahan, Kekurangan Personel, dan Kegagalan Strategis
Lapid mengungkapkan bahwa militer Israel kini tidak lagi mampu mempertahankan mobilisasi pasukan cadangan, dengan sebagian personel telah dikerahkan hingga enam atau tujuh kali, menyebabkan kelelahan fisik dan psikologis yang parah.
Ia juga menyatakan bahwa pasukan reguler mengalami kemunduran cepat, dengan kekurangan personel yang signifikan untuk menjalankan misi secara efektif.
“Pemerintah membiarkan tentara terluka di medan perang,” kata Lapid, mengkritik kepemimpinan yang gagal menangani krisis yang semakin dalam.
Kekhawatiran tambahan juga muncul terkait berlanjutnya pengecualian kelompok ultra-Ortodoks dari wajib militer, yang disebut Lapid sebagai ancaman serius terhadap kesiapan militer.
Di saat yang sama, pasukan Israel juga dialihkan ke Tepi Barat akibat persoalan keamanan internal, semakin membebani sumber daya yang sudah terbatas.
Pergeseran Strategis di Medan Perang
Kombinasi antara serangan langsung Iran ke Tel Aviv dan peringatan internal dari para pemimpin Israel menunjukkan adanya perubahan keseimbangan dalam konflik ini.
Apa yang sebelumnya dipresentasikan oleh Amerika Serikat dan Israel sebagai eskalasi yang terkendali, kini justru mengungkap kerentanan mendalam dalam struktur militer Israel.
Seiring meningkatnya intensitas operasi Iran yang memperlihatkan rapuhnya mesin perang Israel, narasi kekuatan yang dibangun oleh Washington dan Tel Aviv semakin terbantahkan oleh realitas di lapangan. (FG)



