Rusia Bagikan Bukti Serangan Drone Gagal ke Kediaman Putin
Moskow Menyebut Kawanan UAV Ukraina Menargetkan Rumah Presiden di Valdai di Tengah Eskalasi Barat
Rusia, FAKTAGLOBAL.COM — Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa pihaknya secara resmi telah membagikan bukti kepada Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa operasi drone Ukraina berskala besar awal pekan ini diarahkan ke kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin di Wilayah Novgorod.
Menurut pejabat Rusia, serangan tersebut melibatkan 91 wahana udara tak berawak (UAV) Ukraina yang diluncurkan pada malam 28–29 Desember. Seluruhnya berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Rusia sebelum mencapai sasaran.
Kementerian Pertahanan menggambarkan insiden ini sebagai serangan teroris yang direncanakan secara matang oleh rezim Kiev terhadap kepala negara Rusia.
Data Penerbangan yang Dipulihkan Mengonfirmasi Target
Dalam pernyataan yang dirilis Kamis, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut dinas khusus Rusia berhasil memulihkan data navigasi yang masih utuh dari salah satu drone Ukraina yang ditembak jatuh.
“Rencana penerbangan yang diekstraksi dengan jelas menunjukkan bahwa target akhir serangan UAV adalah salah satu fasilitas yang berada di kediaman presiden Rusia di Wilayah Novgorod,” ujar kementerian tersebut.
Para pakar Rusia menyimpulkan bahwa kawanan drone itu diprogram dengan rute presisi menuju kompleks Valdai, sehingga tidak menyisakan ambiguitas mengenai tujuan yang dimaksud.
Bukti Diserahkan ke Kedutaan AS
Pada hari yang sama, Moskow mengonfirmasi bahwa bukti yang dipulihkan tersebut secara resmi diserahkan kepada perwakilan bagian atase militer di Kedutaan Besar AS di Moskow.
Langkah ini dipresentasikan sebagai pemberitahuan langsung kepada Washington mengenai eskalasi yang dilakukan Kiev, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa aksi Ukraina yang didukung Barat secara sengaja memperluas cakupan konflik dan menargetkan kepemimpinan politik.
Rekaman Video dan Kesaksian Saksi Mata
Pada Rabu, Kementerian Pertahanan merilis rekaman video yang disebut memperlihatkan salah satu drone jarak jauh Ukraina yang berhasil dicegat—bagian ekornya rusak akibat pertahanan udara Rusia namun badan drone sebagian besar masih utuh.
Pejabat militer Rusia mengatakan kesaksian warga di Wilayah Novgorod, yang menyaksikan sistem pertahanan udara beroperasi sepanjang malam, secara langsung membantah klaim media Barat dan media anti-Rusia yang menyatakan tidak ada serangan semacam itu.
Bantahan Kiev, Reaksi Washington
Pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky membantah terjadinya serangan drone tersebut, menepis klaim Moskow meski bukti teknis telah dipaparkan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dilaporkan menunjukkan kemarahan atas insiden tersebut dalam percakapan telepon dengan Putin, menurut penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yury Ushakov.
Kremlin sebelumnya menyatakan bahwa serangan drone itu tidak hanya menargetkan Putin secara pribadi, tetapi juga dimaksudkan untuk melemahkan upaya Trump yang telah dideklarasikan untuk mendorong penyelesaian negosiasi atas konflik Ukraina.
Kekhawatiran Internasional atas Eskalasi
Sejumlah negara, termasuk China, India, Uni Emirat Arab, Pakistan, Belarus, Uzbekistan, Tajikistan, dan Kazakhstan, menyuarakan keprihatinan atas upaya serangan terhadap kediaman presiden Rusia, seraya memperingatkan bahwa tindakan semacam itu berisiko semakin mengguncang stabilitas keamanan regional dan global.
Pejabat Rusia membingkai insiden ini sebagai eskalasi berbahaya yang dimungkinkan oleh dukungan militer, intelijen, dan politik Barat yang berkelanjutan bagi Kiev—sebuah pendekatan yang menurut Moskow mengancam upaya diplomatik dan mendorong konflik menuju konfrontasi yang lebih luas. (FG)


