Rusia Peringatkan Washington: Iran Lebih Siap Dibanding Juni 2025
Utusan Rusia Peringatkan AS soal Eskalasi, Sebut Teheran Lebih Siap Menghadapi Agresi AS
Rusia | FAKTAGLOBAL.COM — Perwakilan Tetap Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Vassily Nebenzia, menyatakan bahwa Republik Islam Iran kini berada dalam kesiapan yang lebih baik untuk menghadapi potensi agresi militer dibandingkan pada Juni 2025, di tengah berlanjutnya ancaman dan meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan saluran televisi Rossiya-24, Nebenzia mengatakan bahwa meskipun kemungkinan serangan militer terhadap Iran tidak dapat dikesampingkan, tingkat kesiapan Teheran telah meningkat dibandingkan musim panas lalu.
“Situasinya mengkhawatirkan. Serangan bisa saja dilancarkan. Namun, saya pikir Iran sekarang lebih siap menghadapi kemungkinan tersebut dibandingkan pada bulan Juni,” ujar Nebenzia.
Ia juga menasihati Washington agar bertindak dengan hati-hati, memperingatkan terhadap keputusan gegabah yang dapat mengguncang stabilitas kawasan.
“Itulah sebabnya kami semua menasihati pihak Amerika untuk mengukur dua kali dan tidak memotong sama sekali,” tambahnya.
Militerisme AS dan Sinyal Eskalasi
Pernyataan Nebenzia disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa armada laut besar sedang menuju Iran, dengan membingkai langkah tersebut sebagai tekanan untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan sesuai dengan syarat-syarat Washington.
Trump mengklaim berharap Iran kembali ke apa yang ia sebut sebagai “kesepakatan yang adil dan setara,” sambil mengulangi tuntutan yang berpusat pada penghapusan total kemampuan nuklir Iran—syarat yang sejak lama ditolak Teheran sebagai tidak sah dan bersifat memaksa.
Presiden AS itu juga merujuk pada serangan Amerika yang dilakukan pada Juni 2025 terhadap fasilitas nuklir Iran, sebuah aksi agresi militer yang oleh Washington dijuluki “Operation Midnight Hammer.” Trump memperingatkan bahwa serangan apa pun di masa depan akan “jauh lebih buruk,” sebuah ancaman yang secara luas dipandang sebagai upaya intimidasi, bukan diplomasi.
Posisi Teheran: Kekuatan dan Daya Cegah, Bukan Ketundukan
Iran secara konsisten menolak ancaman dan sanksi AS, menegaskan bahwa kemampuan pertahanan dan keamanan nasionalnya tidak dapat dinegosiasikan. Para pejabat Iran berulang kali menyatakan bahwa tekanan dan intimidasi militer tidak akan memaksa Teheran untuk tunduk, melainkan justru akan memperkuat tekadnya untuk mempertahankan kedaulatan dan stabilitas kawasan.
Penilaian Rusia bahwa Iran kini lebih siap dibandingkan Juni 2025 memperkuat posisi tersebut, dengan menyoroti bahwa militerisme AS yang berkelanjutan serta strategi eskalasi yang didukung Israel telah gagal melemahkan Iran, sekaligus meningkatkan risiko konfrontasi regional yang lebih luas.
Peringatan Nebenzia mencerminkan meningkatnya kekhawatiran internasional bahwa sikap agresif Washington—yang sering selaras dengan kepentingan Israel—dapat memicu konflik dengan konsekuensi yang jauh melampaui Iran, mengancam stabilitas West Asia dan tatanan global.
Posisi Rusia
Kremlin terus mencermati secara saksama perkembangan seputar Iran, demikian disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam perundingan dengan mitranya dari Uni Emirat Arab yang sedang berkunjung, Mohammed bin Zayed Al Nahyan.
Sebelumnya, pemimpin Rusia tersebut mengadakan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Situasi di Middle East dan seputar Iran menjadi fokus pembicaraan Putin dengan Netanyahu.
Pemimpin Rusia itu menegaskan kembali kesiapan Rusia untuk “melanjutkan upaya mediasi yang relevan serta mendorong dialog konstruktif yang melibatkan semua negara terkait.”
Dalam percakapan telepon dengan Pezeshkian, kedua pemimpin menyatakan dukungan terhadap normalisasi situasi secepat mungkin di sekitar Iran dan di kawasan secara umum.
Kremlin menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menolak metode penyelesaian melalui kekuatan dalam menangani situasi seputar Iran, ujar juru bicara kepresidenan Rusia Dmitry Peskov.
Ia juga menegaskan bahwa masih terdapat ruang untuk bernegosiasi dan bahwa penggunaan kekuatan hanya akan menciptakan kekacauan di kawasan.
Mengomentari potensi agresi Amerika Serikat terhadap Iran, Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, kembali menasihati Washington agar “mengukur dua kali dan tidak memotong sama sekali.”
Ia menegaskan bahwa Iran kini lebih siap menghadapi potensi serangan dibandingkan pada musim panas 2025.
Reaksi Global
Negara-negara Teluk, termasuk Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab, berupaya mencegah terjadinya perang baru antara Amerika Serikat dan Iran, demikian dilaporkan Financial Times.
Menurut surat kabar tersebut, negara-negara Arab dan Muslim “telah melakukan keterlibatan dengan AS maupun Iran dalam upaya meredakan ketegangan” antara kedua negara.
Secara khusus, mereka berusaha membujuk Presiden Donald Trump agar tidak menyerang Iran.
Negara-negara tersebut khawatir bahwa langkah semacam itu dapat “memicu konflik yang lebih luas di Middle East dan menyebabkan Teheran menargetkan fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk,” tulis surat kabar itu.
Azerbaijan tidak akan pernah mengizinkan wilayah atau wilayah udaranya digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran, kata Menteri Luar Negeri Jeyhun Bayramov dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi.
Menurut diplomat tertinggi Azerbaijan tersebut, negaranya menolak segala langkah dan retorika yang dapat mendestabilisasi situasi di dalam dan sekitar Iran. (FG)


