Saat Ini Hanya 2 Tanker Minyak Lintasi Selat Hormuz Setiap Hari — Dengan Izin Iran
Pengiriman melalui Selat Hormuz anjlok sekitar 90%, dengan hanya 2 kapal tanker dilaporkan melintas setiap hari di bawah koordinasi Iran sementara pasar minyak global tetap berada di bawah tekanan
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Data terbaru menunjukkan bahwa saat ini hanya dua kapal tanker minyak per hari yang melintasi Selat Hormuz, dan bahkan kapal-kapal tersebut dilaporkan bergerak dengan koordinasi dari Iran.
Aktivitas pelayaran di jalur perairan strategis tersebut telah turun sekitar 90 persen. Sebelumnya, sekitar 55 hingga 60 kapal tanker minyak melintasi selat itu setiap hari, mengangkut puluhan juta barel minyak mentah.
Menurut data pemantauan terbaru dari peta pelacakan maritim dan udara, dari sekitar 60 kapal tanker yang biasanya melintasi selat setiap hari, baru-baru ini hanya dua kapal yang melewati rute tersebut, dan dilaporkan menuju China.
Pada saat yang sama, pasar energi global mulai merasakan tekanan. Harga minyak Brent telah stabil di kisaran 84 hingga 85 dolar per barel, meskipun Amerika Serikat berupaya menahan lonjakan harga tersebut.
Di dalam Amerika Serikat, harga diesel telah naik di atas 4 dolar per galon untuk pertama kalinya dalam sekitar dua setengah tahun, sementara harga bensin tetap berada di sekitar 3,2 dolar per galon, perkembangan yang dapat membawa konsekuensi ekonomi yang signifikan bagi perekonomian Amerika.
Produsen Minyak Teluk Menghadapi Krisis Penyimpanan
Sementara itu, situasi di antara negara-negara produsen minyak di Teluk Persia semakin tegang.
Produsen utama di kawasan—terutama Arab Saudi, Kuwait, dan sampai batas tertentu Qatar—secara kolektif memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 100 juta barel minyak, dengan sekitar 80 juta barel dianggap sebagai kapasitas operasional.
Jika tren saat ini berlanjut, para analis memperkirakan bahwa fasilitas penyimpanan tersebut dapat menjadi sepenuhnya penuh dalam waktu sekitar tiga minggu.
Apabila tangki penyimpanan mencapai kapasitas penuh sementara lalu lintas kapal tanker tetap terbatas, negara-negara tersebut mungkin terpaksa menghentikan produksi minyak.
Namun menghentikan produksi di ladang minyak bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan seperti menekan saklar yang kemudian dapat segera dinyalakan kembali. Menghidupkan kembali ladang-ladang tersebut memerlukan waktu dan melibatkan konsekuensi teknis serta ekonomi yang signifikan. Bahkan penghentian sementara sekalipun dapat memicu dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan penyimpanan sekitar 80 juta barel minyak.
Kekhawatiran lain adalah bahwa cadangan minyak yang sangat besar ini sendiri dapat menjadi sasaran potensial. Peristiwa dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kemungkinan bahwa Amerika Serikat kembali dapat melakukan tindakan provokatif, serupa dengan insiden sebelumnya yang melibatkan serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco.
Tindakan semacam itu dapat digunakan untuk menciptakan persepsi bahwa infrastruktur minyak Arab berada di bawah ancaman, yang berpotensi mendorong negara-negara kawasan untuk semakin berpihak pada kebijakan Amerika Serikat serta mengamankan dukungan politik mereka. (FG)


