Sayyed Al-Houthi: AS Siapkan Eskalasi Baru, Yaman Siap Hadapi Segala Perkembangan
Pemimpin Ansarullah menegaskan bahwa Washington persiapkan putaran eskalasi baru setelah gagal dalam kampanye sebelumnya, dan memperingatkan bahwa setiap agresi baru akan membawa konsekuensi berbahaya
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Sayyed Abdul-Malik al-Houthi menyerukan kepada umat untuk bergerak menghadapi musuh-musuhnya di seluruh bidang, terutama di bidang militer, serta menegaskan bahwa rakyat Yaman sepenuhnya siap menghadapi segala perkembangan yang akan datang.
Dalam pidato yang disampaikan pada hari Senin dalam rangka menyambut bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah, Sayyed Abdul-Malik memuji kehadiran besar rakyat Yaman di berbagai lapangan, demonstrasi jutaan orang, serta upaya luas dalam mobilisasi umum, pelatihan, persiapan, dan kesiapsiagaan di semua tingkatan.
Ia menggambarkan gerakan menyeluruh ini sebagai “kebangkitan iman yang agung dan mulia” yang layak bagi rakyat Yaman, yang ia sebut sebagai “Yaman iman, hikmah, dan jihad.”
“Kami tetap teguh pada prinsip-prinsip kami yang jelas dan mendasar, yang telah kami tegaskan dalam setiap pidato dan setiap sikap, baik dalam ucapan maupun tindakan,” ujarnya. “Dan kami siap menghadapi segala perkembangan yang akan datang, dengan izin Allah SWT.”
AS Mempersiapkan Eskalasi Baru Setelah Gagal pada Putaran Sebelumnya
Sayyed Abdul-Malik menyatakan bahwa terdapat indikasi yang jelas bahwa Amerika Serikat sedang mempersiapkan putaran eskalasi baru setelah gagal dalam kampanye sebelumnya.
Ia menyayangkan bahwa persiapan Washington untuk eskalasi tersebut didasarkan pada pemanfaatan sejumlah negara Arab.
Ia menegaskan bahwa beberapa pemerintah dan rezim tidak mengambil pelajaran dari konfrontasi sebelumnya, meskipun telah menyaksikan konsekuensi serius dari penyediaan pangkalan militer Amerika yang digunakan untuk menyerang Republik Islam Iran.
Menurut Sayyed Abdul-Malik, pemerintah-pemerintah tersebut justru membebani diri mereka sendiri dengan biaya finansial dan keamanan tambahan demi melindungi pangkalan-pangkalan Amerika dan menjaga keamanan musuh Israel.
Kerja Sama dengan Washington dan Israel Membahayakan Kawasan
Pemimpin Ansarullah itu mengecam tindakan sejumlah negara Teluk, termasuk pencabutan kewarganegaraan terhadap warga asli serta pengambilan sikap politik, media, dan intelijen yang melayani kepentingan Amerika dan Israel.
Ia mengatakan bahwa perilaku semacam itu mendorong Amerika Serikat dan musuh Israel untuk menebarkan fitnah di seluruh kawasan dan justru menempatkan negara-negara tersebut dalam bahaya besar.
“Eskalasi baru akan membawa konsekuensi yang berbahaya bagi kawasan secara keseluruhan, dan lebih dari itu, bagi dunia,” tegasnya.
Sayyed Abdul-Malik menekankan bahwa umat harus memahami dengan jelas siapa musuh yang sebenarnya dan siapa sahabat yang sesungguhnya.
Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat dan musuh Israel adalah agresor asing yang datang untuk menduduki, menindas, melakukan kejahatan, menguasai kawasan, dan memperbudak bangsa-bangsa di dalamnya.
Satu-Satunya Jalan adalah Kesadaran, Persatuan, dan Perlawanan
Sayyed Abdul-Malik menegaskan bahwa tolok ukur yang benar dalam menentukan sikap politik harus berakar pada prinsip-prinsip Islam dan identitas umat sebagai satu kesatuan yang menghadapi musuh bersama.
Ia menyatakan bahwa proyek Zionis pada dasarnya menargetkan negara-negara Arab dan Muslim, seraya menunjuk pada visi terbuka tentang “Israel Raya” sebagai bukti ambisi ekspansionis yang pertama-tama diarahkan terhadap dunia Arab.
Ia menolak klaim Barat mengenai senjata nuklir sebagai dalih yang menyesatkan, dengan mengingatkan bahwa Amerika Serikat adalah negara pertama yang menggunakan senjata nuklir untuk pemusnahan massal, sementara rezim Israel sendiri memiliki senjata tersebut dan menggunakannya untuk menindas serta menghancurkan bangsa-bangsa lain.
“Iran tidak berupaya memiliki senjata nuklir,” katanya, seraya menambahkan bahwa Amerika Serikat dan musuh Israel tidak akan berhenti menargetkan bangsa-bangsa di kawasan selama mereka memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Ia menutup pidatonya dengan menyerukan kepada umat agar tetap waspada dan menunaikan tanggung jawab sucinya, sambil menegaskan bahwa kemenangan akan diraih melalui iman, persatuan, dan komitmen terhadap rencana Ilahi dalam menghadapi kejahatan yang diwakili oleh Zionis dan para pendukung mereka. (FG)


