Sayyed al-Houthi: Yaman Teguh Berdiri Hadapi Salah Satu Agresi Paling Keji di Dunia
Pemimpin Yaman Menyatakan Agresi yang Terus Berlangsung terhadap Yaman Merupakan Salah Satu Ketidakadilan Terbesar di Dunia dan Bagian dari Proyek AS–Zionis
Yaman | FAKTAGLOBAL.COM — Pemimpin Yaman Sayyed Abdul-Malik al-Houthi menegaskan bahwa penderitaan rakyat Yaman merupakan salah satu bentuk penindasan terbesar yang masih berlangsung di dunia saat ini. Ia menekankan bahwa penderitaan tersebut bukanlah kebetulan, bukan pula konflik internal, melainkan hasil dari perang yang dirancang secara sengaja dan direkayasa dari luar.
Dalam pidatonya pada 22 Januari 2026, bertepatan dengan peringatan syahidnya Presiden Saleh Ali al-Sammad, Sayyed Abdul-Malik al-Houthi menyatakan bahwa setiap aspek kehidupan di Yaman telah ditandai oleh kampanye agresi berkelanjutan yang dirancang untuk menundukkan negara tersebut dan mematahkan kehendak rakyatnya.
Agresi yang Dirancang di Washington
Sayyed Abdul-Malik al-Houthi menjelaskan bahwa perang terhadap Yaman pada hakikatnya adalah agresi Amerika, yang dirancang dalam kerangka Zionis dan dijalankan di bawah pengawasan Amerika Serikat, Inggris, dan Israel, dengan rezim Saudi bertindak sebagai pelaksana utama.
Ia menegaskan bahwa agresi tersebut diumumkan dari Amerika Serikat bahkan sebelum dideklarasikan dari Riyadh, sehingga tidak menyisakan keraguan sedikit pun tentang siapa yang mengarahkan dan mengelola perang ini.
Menurut Pemimpin Yaman, sejak awal tujuan perang itu sudah jelas: mengubah Yaman menjadi negara yang sepenuhnya diduduki dan menjadikan rakyatnya sebagai bangsa yang diperbudak.
Pembantaian Massal sebagai Strategi yang Disengaja
Pemimpin Yaman menggambarkan pembunuhan massal sebagai metode utama dan sistematis dari agresi tersebut. Sejak serangan udara pertama, penargetan secara membabi buta diterapkan terhadap rakyat Yaman.
Warga sipil diserang di mana-mana—di kota dan desa, di jalan-jalan, masjid, pasar, sekolah, rumah sakit, dan kawasan permukiman—dengan anak-anak dan perempuan termasuk di antara korban pertama.
Sayyed Abdul-Malik al-Houthi menegaskan bahwa hal ini bukanlah kerusakan insidental, melainkan strategi yang disengaja untuk meneror masyarakat dan menghancurkan fondasi kehidupan mereka.
Penghancuran Kehidupan dan Sumber Penghidupan
Di luar pembunuhan, agresi tersebut juga bertujuan menghancurkan kehidupan itu sendiri. Ribuan rumah diratakan, infrastruktur dihancurkan, serta sekolah dan rumah sakit diserang secara sengaja. Bahkan tempat penampungan bagi tunanetra, masjid, situs bersejarah, pemakaman, dan sumber-sumber penghidupan turut menjadi sasaran serangan.
Bersamaan dengan pemboman, diberlakukan pula pengepungan menyeluruh dan perang ekonomi. Kekayaan minyak nasional Yaman dirampas, pelabuhan dan bandara ditutup, serta makanan, obat-obatan, dan bahan bakar diblokade secara sengaja. Langkah-langkah ini menimbulkan penderitaan luar biasa dalam kehidupan sehari-hari dan dirancang untuk mencekik rakyat hingga tunduk.
Wilayah-wilayah luas di Yaman hingga hari ini masih berada di bawah pendudukan, yang—sebagaimana ditegaskan Sayyed Abdul-Malik al-Houthi—menegaskan bahwa tujuan perang ini adalah pendudukan dan dominasi, bukan perdamaian.
Mengapa Yaman Tidak Tumbang
Meski skala agresi begitu besar, Sayyed Abdul-Malik al-Houthi menegaskan bahwa Yaman tidak runtuh. Ia mengaitkan keteguhan tersebut dengan karunia Allah, pertolongan Ilahi, dan pengorbanan rakyat Yaman yang merdeka.
Keteguhan berbasis iman, kesadaran, dan penolakan untuk menyerah telah menjaga negara ini. Tanpa unsur-unsur tersebut, katanya, Yaman hari ini akan menjadi salah satu negara yang sepenuhnya diduduki dan ditundukkan. (FG)


