Sayyed Houthi: AS Minta Gencatan Senjata dengan Iran, Namun Masuk Negosiasi dengan Arogan
Sayyed al-Houthi menyatakan agresi AS–Israel gagal, memaksa gencatan senjata dengan Iran, sementara Washington memasuki negosiasi dengan arogansi tanpa hasil.
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Sayyed Abdul-Malik al-Houthi menyatakan bahwa Amerika Serikat dan musuh Israel dipaksa menyetujui gencatan senjata dengan Republik Islam Iran setelah mengalami kegagalan besar dalam mencapai tujuan mereka.
Dalam pidato yang membahas perkembangan terbaru kawasan, ia menegaskan bahwa agresi AS–Israel terhadap Iran tidak memiliki legitimasi dan membawa dampak serius bagi stabilitas regional maupun global, termasuk konsekuensi ekonomi.
Ia juga mengkritik pendekatan Washington dalam negosiasi, yang menurutnya berakar pada dominasi dan paksaan, bukan diplomasi yang tulus.
Pendekatan Negosiasi AS Didorong Arogansi
Sayyed al-Houthi mengecam kerangka negosiasi Amerika, dengan menyatakan bahwa pendekatan tersebut didasarkan pada pemaksaan syarat dan pelanggaran terhadap kedaulatan negara.
Ia mengatakan: “Ketika Amerika bergerak menuju negosiasi, mereka melakukannya dengan metodologi yang didasarkan pada kesombongan, keangkuhan, dan tirani—dengan memaksakan syarat-syarat mereka, serta berupaya meraih melalui negosiasi apa yang gagal mereka capai melalui agresi militer.”
Menurutnya, pendekatan ini menyebabkan kegagalan putaran pertama pembicaraan di Pakistan, karena tidak bertujuan mencapai solusi yang adil, melainkan menekan secara politik untuk memperoleh keuntungan militer.
Kerugian Besar Memaksa AS Menuju Gencatan Senjata
Pemimpin Yaman tersebut menegaskan bahwa AS dan sekutunya dipaksa menuju gencatan senjata setelah mengalami kerugian besar, baik dari sisi personel maupun militer.
Ia menyatakan bahwa ratusan perwira dan tentara Amerika tewas atau terluka, disertai kerugian besar pada peralatan militer serta kehancuran pangkalan-pangkalan AS di kawasan.
“Kerugian ini,” ujarnya, membuat poros AS–Israel tidak memiliki pilihan selain beralih ke jalur negosiasi.
Proyek Zionis Akar Ketidakstabilan Kawasan
Dalam bagian lain pidatonya, Sayyed al-Houthi menyebut proyek Zionis sebagai sumber utama ketidakstabilan di kawasan, dan menegaskan bahwa tidak akan ada perdamaian yang langgeng selama pendudukan Palestina terus berlangsung.
“Kondisi negara-negara dan bangsa-bangsa di kawasan ini tidak akan pernah stabil hingga kaum Yahudi diusir dari Palestina,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pendudukan Zionis merupakan fondasi konflik yang terus berlangsung, yang secara historis didukung oleh kekuatan Barat.
Seruan Perlawanan dan Persatuan
Sayyed al-Houthi menyerukan kepada bangsa Arab dan umat Islam untuk mengambil sikap tegas terhadap proyek Zionis dan menyadari bahwa itulah akar krisis di kawasan.
Ia mengatakan:
“Kaum Yahudi tidak akan menghentikan kejahatan mereka terhadap umat ini kecuali melalui jihad di jalan Allah, serta dengan menghadapi mereka untuk menolak kejahatan dan menghapusnya.”
Ia juga menolak pelabelan kelompok perlawanan sebagai “proxy Iran,” yang ia sebut sebagai narasi Amerika–Israel untuk menghilangkan identitas perjuangan umat.
“Istilah ‘agen Iran’ adalah label Amerika–Israel dengan tujuan tertentu—untuk menggambarkan bangsa Arab sebagai bangsa tanpa perjuangan, serta meniadakan setiap perjuangan yang berkaitan dengan tanah, tempat suci, dan kebebasan mereka.”
Persatuan Front Terbukti Penting
Menyoroti konfrontasi terbaru, Sayyed al-Houthi memuji efektivitas persatuan front perlawanan.
Ia menyatakan bahwa koordinasi lintas berbagai medan telah memberikan dampak signifikan dalam menghadapi agresi AS–Israel, baik secara militer maupun moral.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa persatuan di antara kekuatan perlawanan merupakan prinsip fundamental dalam Islam sekaligus faktor penentu dalam meraih kemenangan. (FG)


