Sayyed Houthi: Kesyahidan Sayyed Khamenei Akan Kuatkan Perlawanan, Hancurkan Proyek AS–Israel
Pemimpin Yaman menegaskan bahwa pembunuhan Imam Khamenei menargetkan sistem Islam Iran, namun justru akan menguatkannya dan menguatkan perlawanan terhadap dominasi AS–Israel.
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Pemimpin Revolusi di Yaman, Sayyed Abdul Malik al-Houthi, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Sayyed Ali Husseini Khamenei, rakyat Muslim Iran, institusi-institusi resmi Iran—termasuk Garda Revolusi—serta seluruh Umat Islam, menyusul kesyahidan pemimpin Iran tersebut.
Dalam pidatonya pada 1 Maret 2026, Sayyed Abdul Malik al-Houthi menggambarkan pembunuhan tersebut sebagai kehilangan besar bagi dunia Islam, sembari menegaskan bahwa tindakan itu gagal mencapai tujuan Amerika Serikat dan Israel.
Agresi yang Disengaja terhadap Peran Iran
Al-Houthi menyatakan bahwa agresi terhadap Iran bukanlah tindakan terpisah, melainkan bagian dari strategi besar AS–Israel untuk membentuk ulang kawasan.
“Agresi terhadap Iran dimaksudkan untuk memungkinkan musuh Israel mendominasi kawasan dengan menyingkirkan hambatan terbesar bagi proyek tersebut,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Iran menjadi sasaran karena sistem Islamnya serta sikap revolusioner dan berjihad yang menolak hegemoni Zionis, mendukung perjuangan Palestina, dan berpihak kepada bangsa-bangsa tertindas di kawasan.
“Kejahatan keji yang dilakukan Amerika dan Israel ini bertujuan menghapus peran besar Sayyed Khamenei dalam menghadapi tirani mereka dan menggagalkan konspirasi-konspirasi mereka,” tegas al-Houthi.
Mengapa Imam Khamenei Menjadi Sasaran
Menurut pemimpin Yaman itu, pembunuhan tersebut secara khusus bertujuan menyingkirkan kepemimpinan Imam Khamenei atas sistem Islam dan peran globalnya dalam membela kaum tertindas.
“Menargetkan Imam Khamenei dimaksudkan untuk menyingkirkan kepemimpinan yang berpegang teguh pada isu-isu keadilan dan hak-hak sah Umat Islam, khususnya Palestina,” katanya.
Ia menambahkan bahwa serangan tersebut juga bertujuan mematahkan tekad rakyat Iran, meruntuhkan semangat mereka, serta menekan rezim-rezim tunduk di kawasan agar menyerah di bawah dominasi Zionis—sebuah upaya yang ia sebut pasti gagal.
Kehormatan Iran dan Kelanjutan Jalan Perjuangan
Al-Houthi menegaskan bahwa kehormatan berada di pihak bangsa Iran, Garda Revolusi yang berani, serta institusi-institusi resminya, seraya menyebut kesyahidan ini sebagai sumber kekuatan baru, bukan kelemahan.
“Ini adalah penghormatan terhadap darah suci Sayyed Khamenei dan komitmen pada jalan kebebasan, martabat, dan keberanian,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kesyahidan tersebut menjadi dorongan kuat untuk melanjutkan perjuangan dengan “keberanian Husaini dan keteguhan Khomeini.”
Ia mencatat bahwa Revolusi Islam sejak awal telah menempuh jalan pengorbanan dan pembebasan, serta tetap teguh menghadapi segala tekanan dan kesulitan.
Kegagalan Musuh dan Pilihan Umat
Al-Houthi menyatakan bahwa kegagalan sejati justru berada di pihak para agresor, karena kejahatan ini malah memperkuat persatuan dan keteguhan di dalam Iran.
“Kegagalan musuh terletak pada runtuhnya tujuan-tujuan di balik kejahatan ini, akibat ketangguhan rakyat Iran dan komitmen teguh mereka pada jalan jihad dan pembebasan,” ujarnya.
Ia membingkai situasi ini sebagai pilihan menentukan bagi Umat Islam: perlawanan atau penyerahan diri.
“Penyerahan dan kepatuhan kepada tirani Amerika–Israel berarti kehilangan kebebasan, martabat, kehormatan, agama, kehidupan dunia, dan akhirat,” peringatnya.
Janji Ilahi dan Kelanjutan Perlawanan
Menutup pernyataannya, pemimpin Yaman itu menekankan pentingnya bersandar pada janji Ilahi dan melanjutkan perlawanan.
“Pilihan yang benar adalah bersandar kepada Allah, mempercayai janji-Nya yang benar, dan berkorban demi tujuan-tujuan suci,” katanya, seraya menegaskan bahwa kriminalitas Zionis–Amerika pada akhirnya akan menjerumuskan entitas pendudukan itu ke dalam kehancuran.
Al-Houthi menegaskan bahwa posisi Iran tetap solid dan kokoh, responsnya kuat dan berkelanjutan, serta bahwa Iran, poros jihad dan perlawanan, dan bangsa-bangsa merdeka di seluruh dunia akan terus berdiri di jalan pembebasan. (FG)


