Sayyed Houthi: Keteguhan Iran Gagalkan Rencana Zionis-Amerika di Asia Barat
Pemimpin perlawanan Yaman menegaskan operasi militer Iran, persatuan internal, dan koordinasi poros perlawanan sedang meruntuhkan proyek besar AS-Israel di kawasan
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Sayyed Abdul Malik al-Houthi, pemimpin gerakan revolusioner Yaman, menyatakan bahwa Republik Islam Iran menghadapi agresi Amerika dan Israel dengan efektivitas tinggi dan keteguhan yang tak tergoyahkan, serta menggambarkan kinerjanya sebagai penghalang utama terhadap proyek Zionis-Amerika yang lebih luas di kawasan.
Dalam pidatonya mengenai perkembangan terbaru di kawasan, Sayyed al-Houthi menegaskan bahwa respons Iran mencerminkan legitimasi sekaligus kapabilitas.
“Dengan penuh keteguhan dan efektivitas, Republik Islam Iran… menghadapi tirani Amerika dan Israel serta agresi Zionis yang brutal, biadab, dan kriminal,” ujarnya.
Ia menyoroti operasi rudal dan drone yang terus berlangsung siang dan malam, yang menurutnya telah menghasilkan penghancuran pangkalan militer AS, kerusakan besar pada kemampuan Israel, serta penembakan jatuh sejumlah drone musuh.
Ia menambahkan bahwa dampak terhadap pasukan Amerika telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang ia gambarkan sebagai “kehancuran besar kemampuan militer Amerika… yang belum pernah terjadi sebelumnya bahkan menurut pengakuan Amerika sendiri.”
Kinerja Militer Iran Didukung Persatuan Rakyat
Sayyed al-Houthi menekankan bahwa efektivitas militer Iran diperkuat oleh kohesi politik dan dukungan rakyat yang kuat.
Ia menyoroti mobilisasi publik secara luas di berbagai kota di Iran sejak awal agresi, yang menurutnya menjadi bukti nyata persatuan nasional di sekitar kepemimpinan, Garda Revolusi, dan angkatan bersenjata.
“Keteguhan besar ini menjadi penghalang yang tak tertembus terhadap apa yang diinginkan musuh—sebuah fase berbahaya dalam rencana Zionis mereka,” katanya.
Ia memperingatkan bahwa taruhan konflik ini jauh melampaui Iran, dengan menegaskan bahwa runtuhnya Republik Islam akan membuka jalan bagi dominasi regional yang lebih luas.
“Jika musuh berhasil… mereka akan segera bergerak untuk menyapu bangsa-bangsa di kawasan ini,” tegasnya.
Menurutnya, Iran menjadi target utama karena perannya yang sentral dalam menggagalkan proyek yang mengancam seluruh dunia Islam.
Respons Terpadu Poros Perlawanan Mengubah Dinamika Kawasan
Tema utama lainnya dalam pidato tersebut adalah aksi terkoordinasi poros perlawanan di berbagai front.
Sayyed al-Houthi menyatakan bahwa poros tersebut bergerak “dalam satu sikap terpadu di bawah judul: kesatuan medan,” yang ia gambarkan sebagai model yang seharusnya diadopsi oleh seluruh umat dalam menghadapi proyek Zionis yang telah lama direncanakan.
Ia menegaskan bahwa sifat perang ini secara terbuka bersifat Zionis, baik dalam desain maupun tujuannya, serta menambahkan bahwa rencana musuh bergantung pada eskalasi cepat melalui serangan terhadap kepemimpinan dan infrastruktur strategis.
Namun, harapan tersebut gagal, karena operasi Iran terbukti presisi dan strategis.
“Itu bukan operasi acak; melainkan menargetkan musuh pada titik-titik paling krusial,” ujarnya, seraya mencatat bahwa serangan telah menghantam pangkalan militer, pusat komando, dan fasilitas vital.
Daya Tangkal Pulih, Strategi Musuh Melemah
Sayyed al-Houthi menggambarkan fase saat ini sebagai titik balik dalam keseimbangan kekuatan di kawasan.
Ia menyatakan bahwa hasil dari posisi Iran, bersama respons poros perlawanan secara lebih luas, telah memulihkan daya tangkal dan meruntuhkan persamaan lama berupa kerentanan.
“Umat kita sedang memulihkan persamaan daya tangkal dan meruntuhkan persamaan kerentanan serta penyerahan diri,” katanya.
Ia memaknai pengorbanan yang berlangsung sebagai bagian dari perjuangan yang perlu dan bermakna, dengan menegaskan bahwa perlawanan efektif akan membebankan biaya kepada agresor dan mencegah agresi tanpa batas.
Pertarungan Narasi Mengungkap Posisi Pro-Barat
Sayyed al-Houthi juga menyinggung apa yang ia sebut sebagai kampanye media terkoordinasi untuk mendistorsi peran Iran dan poros perlawanan.
Ia menyatakan bahwa pihak pro-Amerika dan pro-Israel berupaya menggambarkan respons sah Iran sebagai agresi, sekaligus mendeligitimasi gerakan perlawanan di kawasan.
“Mereka menggambarkan respons sah Iran sebagai agresi terhadap kawasan,” ujarnya.
Ia menolak klaim bahwa menghadapi Israel tidak relevan bagi bangsa Arab dan Muslim, dengan menegaskan bahwa isu Palestina tetap menjadi isu sentral.
“Palestina adalah urusan kita… setiap negara Muslim yang berada di bawah agresi adalah urusan kita,” tambahnya.
Menurutnya, konfrontasi saat ini telah membuka perpecahan internal di kawasan, dengan jelas membedakan antara pihak yang mendukung perlawanan dan pihak yang selaras dengan narasi Barat dan Israel.
Agresi AS-Israel Menargetkan Infrastruktur Sipil
Sayyed al-Houthi menolak klaim Barat bahwa operasi militer hanya menargetkan sasaran politik, dengan menyatakan bahwa serangan jelas berdampak pada kehidupan sipil.
Ia menunjuk pada serangan terhadap kawasan permukiman, universitas, sekolah, dan infrastruktur publik, yang menurutnya menunjukkan bahwa target sebenarnya adalah masyarakat secara keseluruhan, bukan hanya pemerintah.
“Mereka dengan jelas membuktikan bahwa mereka adalah musuh bagi rakyat itu sendiri,” katanya.
Palestina Tetap di Pusat Konfrontasi
Sayyed al-Houthi kembali menegaskan bahwa قضية Palestina tetap menjadi isu utama yang menyatukan kawasan.
Ia memperingatkan meningkatnya langkah Israel terhadap Masjid Al-Aqsa, yang ia gambarkan sebagai perkembangan berbahaya, serta mengecam kebijakan terhadap tahanan Palestina sebagai tindakan kriminal.
Ia menekankan bahwa operasi Israel yang berlanjut di Gaza dan Tepi Barat semakin memperkuat kebutuhan akan respons regional yang terpadu.
Yaman Bergabung dalam Operasi Terkoordinasi
Sayyed al-Houthi mengonfirmasi bahwa Yaman telah memasuki fase konfrontasi saat ini melalui operasi bersama dengan poros perlawanan.
“Tangan yang kami katakan berada di pelatuk telah mulai… meluncurkan rudal dan drone dalam operasi bersama melawan musuh Zionis yang kriminal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa posisi Yaman berakar pada kewajiban agama dan tanggung jawab kawasan.
“Kami adalah bagian dari umat ini—bahkan dari jantung umat ini,” tegasnya.
Menggambarkan konfrontasi ini sebagai jelas secara moral, ia menambahkan:
“Posisi melawan musuh Israel dan mitra Amerikanya adalah posisi yang paling murni, paling benar, dan paling jelas.”
Sayyed al-Houthi menutup pidatonya dengan menyerukan mobilisasi massa di Yaman, serta mendorong demonstrasi besar-besaran sebagai bagian dari upaya perlawanan yang lebih luas dan berkelanjutan terhadap agresi Amerika dan Israel. (FG)


