Sayyed Houthi: Setiap Kehadiran Israel di Somaliland adalah Target Sah
Sayyed menegaskan kehadiran Israel di Somaliland merupakan ancaman langsung bagi Yaman, Laut Merah, dan keamanan kawasan
Yaman | FAKTAGLOBAL.COM — Sayyed Abdulmalik Badr al-Din al-Houthi menegaskan kembali dukungan penuh dan tak tergoyahkan Yaman terhadap rakyat Muslim Somalia, seraya menekankan bahwa Yaman memandang perkembangan di Somaliland sebagai persoalan strategis dan kepentingan nasional.
Dalam pidatonya pada Hari Kamis saat memperingati hari wafatnya Pemimpin Syahid untuk tahun 1447 H, Sayyed Abdulmalik menyatakan bahwa isu tersebut secara langsung mengancam Yaman, bangsa-bangsa di kawasan, Laut Merah, serta Selat Bab al-Mandab.
Ia menegaskan bahwa bahaya ini tidak dapat diabaikan dalam keadaan apa pun, seraya memperingatkan bahwa ekspansi Israel di Tanduk Afrika merupakan eskalasi serius terhadap stabilitas kawasan dan keamanan maritim.
Kehadiran Militer Israel adalah Garis Merah bagi Yaman
Sayyed Abdulmalik menekankan bahwa pernyataan dan kecaman semata tidak berarti apa-apa dalam menghadapi agresi Israel, dengan menyatakan secara tegas bahwa musuh Israel sama sekali tidak memberi nilai pada sikap verbal atau retorika politik.
“Harus ada sikap-sikap praktis,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa Yaman terus melanjutkan dan memperkuat operasi pemantauan.
Ia menyatakan keseriusan penuh Yaman untuk menargetkan setiap kehadiran Israel di Somaliland, termasuk pangkalan militer atau segala bentuk penempatan permanen Zionis.
“Setiap kehadiran Zionis yang bersifat tetap dan dapat kami jangkau, serta mampu kami serang, kami tidak akan ragu untuk menargetkannya secara militer,” tegasnya, menekankan kesiapan Yaman untuk mengambil tindakan tegas.
Israel Berupaya Menguasai Jalur Laut Strategis
Sayyed Abdulmalik menjelaskan bahwa Israel secara konsisten berupaya mendorong agenda-agendanya di Somalia karena posisi geografisnya yang strategis yang menghadap Laut Merah, Teluk Aden, dan Selat Bab al-Mandab.
Ia memperingatkan bahwa lokasi Somalia sangat vital dan sensitif, serta Israel berupaya mengeksploitasinya untuk mengancam seluruh kawasan dengan menguasai rute dan jalur pelayaran utama.
Ia juga menyinggung kunjungan terbaru Menteri Luar Negeri Zionis Gideon Sa’ar ke wilayah yang disebut sebagai “Somaliland,” dan menggambarkan perjalanan tersebut sebagai penyusupan terselubung, bukan kunjungan resmi.
Menurut Sayyed Abdulmalik, kunjungan itu dilakukan secara sengaja dengan kerahasiaan tinggi tanpa pengumuman sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa menteri Israel tersebut diam-diam melakukan perjalanan ke Ethiopia, lalu melanjutkan ke Somaliland dengan pesawat Rumania guna menghindari deteksi.
Ia mempertanyakan mengapa seorang menteri luar negeri yang mengklaim dirinya resmi, harus menempuh cara-cara rahasia seperti itu, dan menyimpulkan bahwa Sa’ar takut terhadap posisi Yaman—bukan terhadap sikap Arab atau Islam. (FG)


