Sayyed Houthi Tegaskan Kesiapan Penuh Yaman di Tengah Eskalasi AS–Israel di Kawasan
Pemimpin Yaman Mengaitkan Momentum Rajab dengan Identitas Berbasis Iman, Tegaskan Dukungan Berkelanjutan bagi Palestina di Tengah Eskalasi Kejahatan AS–Israel
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Dalam pidatonya pada Jumat pertama bulan Rajab, Sayyed Abdul-Malik Badr al-Din al-Houthi menegaskan bahwa momen tersebut jauh melampaui peringatan keagamaan semata.
Ia memaknainya sebagai pengingat strategis atas akar keislaman Yaman, identitasnya yang berlandaskan iman, serta kewajiban untuk berdiri teguh di tengah eskalasi agresi Amerika–Israel yang kian meningkat.
Sepanjang pidato, al-Houthi menekankan bahwa posisi Yaman bukanlah reaksi sesaat atau sikap sementara, melainkan postur kesiapan berkelanjutan—secara spiritual, sosial, kultural, dan militer—yang berakar pada peran historis Yaman sebagai “Yaman iman dan hikmah,” dan hari ini diuji di medan Palestina serta konfrontasi yang lebih luas melawan “tirani zaman ini.”
Rajab dan Masuknya Yaman ke dalam Islam: “Nikmat Terbesar”
Al-Houthi membuka pidato dengan mengucapkan selamat kepada rakyat Yaman atas salah satu momentum religius-historis paling penting bagi bangsa Yaman: Jumat pertama Rajab, yang dalam ingatan kolektif Yaman terkait dengan tonggak besar masuknya Yaman ke dalam Islam.
Ia menyebut petunjuk menuju Islam dan iman sebagai nikmat Ilahi terbesar, seraya menegaskan bahwa peringatan momen ini merupakan bentuk syukur kepada Allah sekaligus peneguhan identitas di saat umat menghadapi penargetan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap jati diri berbasis iman dan afiliasi Islam.
Menurutnya, peringatan ini juga memiliki fungsi kultural dan edukatif: memperkuat kesadaran, meneguhkan kejelasan moral, serta melawan upaya-upaya yang ingin mencabut identitas dan nilai-nilai masyarakat.
“Iman Itu Yaman”: Kehormatan yang Mengandung Tanggung Jawab
Salah satu poros utama pidato adalah karakterisasi Nabi bahwa “iman itu Yaman dan hikmah itu Yaman,” yang oleh Sayyed al-Houthi dipandang sebagai kehormatan besar sekaligus tanggung jawab abadi.
Ia menjelaskan bahwa ungkapan tersebut menunjukkan keaslian identitas iman Yaman dan peran historis orang-orang Yaman pada fase-fase awal Islam—mulai dari figur-figur Yaman di antara kaum Muslimin generasi awal hingga gelombang besar masuknya Yaman ke dalam Islam pada masa Nabi.
Bagi Sayyed al-Houthi, warisan ini menuntut Yaman hari ini untuk tetap teguh dalam iman, nilai, dan orientasi, serta menghadapi setiap upaya untuk menyesatkan rakyat Yaman—khususnya generasi muda—dari identitas keagamaannya dan tanggung jawab etiknya.
Amerika dan Israel: “Tirani Zaman Ini”
Pidato Sayyed al-Houthi berulang kali kembali pada konsep taghut—kekuatan tiranik yang berupaya mendominasi bangsa-bangsa, menghapus identitas, dan memaksakan ketundukan. Ia menggambarkan bentuk modern tirani ini sebagai Amerika dan Israel, bersama Zionisme serta para agen mereka.
Ia menilai poros ini sangat berbahaya karena menggabungkan kehancuran militer, manipulasi kultural, perampokan ekonomi, dan propaganda—beroperasi tanpa kepedulian terhadap etika, hukum internasional, maupun prinsip-prinsip kemanusiaan.
Sayyed Al-Houthi memperingatkan proyek pembentukan kawasan di bawah slogan seperti “Timur Tengah Baru,” yang menurutnya bertujuan memaksakan dominasi dan memperluas kendali Israel, memaksa bangsa-bangsa menerima kehinaan dan kerentanan permanen. Ia menegaskan bahwa umat tidak boleh tunduk pada proyek semacam itu.
Palestina sebagai Poros: Kejahatan Harian dan Upaya Menormalisasi Kekejian
Sayyed Al-Houthi menempatkan Palestina—khususnya Gaza dan Tepi Barat—sebagai inti konfrontasi, dengan menggambarkan tindakan musuh Israel sebagai kejahatan harian yang sistematis, dilakukan dengan kemitraan Amerika dan dukungan Barat.
Ia merinci beragam pelanggaran yang terus berlangsung: pembunuhan, penculikan, pelukaan, perobohan rumah, perampasan tanah, pengusiran, penghancuran lahan pertanian, pencurian sumber daya, serta penyerangan berkelanjutan terhadap kesucian Islam.
Ia juga menyinggung penyiksaan dan penghinaan terhadap para tahanan, serta upaya menjadikan kejahatan-kejahatan ini sebagai “berita rutin” tanpa reaksi publik atau respons bermakna.
Bahaya terbesar, tegasnya, adalah upaya sistematis untuk membiasakan umat menerima persamaan pelanggaran: Israel boleh menumpahkan darah, merampas tanah, menjarah kekayaan, dan menodai kesucian, sementara pihak yang menolak justru disalahkan dan ditekan untuk diam.
Lebanon dan Suriah: Agresi Berlanjut, Pelucutan Senjata adalah Jebakan
Dalam konteks regional yang lebih luas, Sayyed al-Houthi menunjuk agresi Israel yang terus berlanjut di berbagai arena, termasuk Lebanon dan Suriah, sebagai bukti bahwa musuh akan terus meluas setiap kali daya tangkal dilemahkan dan masyarakat didorong menuju ketundukan.
Ia memperingatkan bahwa kampanye pelucutan senjata terhadap kekuatan perlawanan dirancang untuk melucuti perlindungan bangsa-bangsa dan membiarkan mereka terbuka terhadap dominasi Israel. Ia juga menyinggung bahwa kekuatan bersenjata tertentu hanya ditoleransi ketika melayani agenda Amerika–Israel secara internal, sementara setiap senjata yang berpotensi diarahkan melawan Israel akan menjadi target pelumpuhan atau pembatasan.
Bagi Sayyed al-Houthi, pelajarannya jelas: menyerah dan “konsesi” tidak membawa keamanan; kewaspadaan dan kesiapan adalah keharusan untuk mencegah agresi lebih lanjut.
Venezuela: Contoh Global Perampokan Amerika
Sayyed Al-Houthi juga menyebut Venezuela sebagai contoh tirani Amerika yang terbuka di luar Asia Barat—menyoroti perampokan, pemaksaan, dan intervensi dengan dalih-dalih menipu.
Ia menilai Washington menggunakan slogan dan justifikasi palsu untuk menutupi eksploitasi telanjang, dan menggambarkan kasus Venezuela sebagai bagian dari pola global yang sama: dominasi melalui tekanan, pencurian sumber daya, dan intervensi agresif.
Al-Qur’an dan Perang terhadap Identitas: Medan Pertempuran Kultural
Bagian penting pidato menegaskan bahwa konfrontasi ini bukan hanya militer, tetapi juga perang terhadap identitas. Sayyed Al-Houthi menyatakan bahwa kekuatan bermusuhan berupaya menjauhkan masyarakat Muslim dari Al-Qur’an karena kitab suci itu membongkar tipu daya dan tirani, serta memberi kejelasan moral untuk melawan manipulasi.
Ia menyebut penghinaan berulang terhadap Al-Qur’an sebagai upaya sadar untuk melemahkan kesuciannya di hati umat dan menguji apakah umat masih memiliki kehendak membela fondasi sucinya. Ia mengkritik pemerintah dan para pemimpin yang diam atau menolak mengambil langkah diplomatik maupun ekonomi paling dasar sebagai respons.
Bagi Sayyed al-Houthi, perlawanan kultural—pendidikan, kesadaran, orientasi berprinsip, dan kerja media—tidak terpisahkan dari kesiapan di medan pertempuran.
Kesiapan Yaman: Mobilisasi, Kewaspadaan, dan Komitmen kepada Palestina
Pesan utama pidato adalah kesiapan Yaman menghadapi ancaman yang meningkat. Sayyed Al-Houthi menggambarkan Yaman yang aktif membangun dan bersiap di berbagai lini: mobilisasi publik, kewaspadaan keamanan internal, aktivitas kultural, kesiapan kabilah dan sosial, serta pengembangan berkelanjutan kemampuan militer.
Ia menegaskan bahwa posisi Yaman dalam mendukung Palestina bukan simbolik. Ia merujuk pada operasi-operasi Yaman yang terus berlanjut meski menghadapi agresi Amerika yang bertujuan menghentikan dukungan Yaman kepada Gaza, seraya menegaskan bahwa tekanan tersebut gagal dan akan gagal lagi karena posisi Yaman berlandaskan iman, prinsip, dan keteguhan.
Ia juga memuji peran media Yaman, menyebut kerja informasi sebagai salah satu arena konfrontasi terpenting, dan menegaskan bahwa mereka yang terlibat di medan ini sangat krusial untuk menjaga kesadaran dan keteguhan.
Pesan kepada Umat: Kewaspadaan, Kekuatan, dan Penolakan terhadap Ketundukan
Sayyed Al-Houthi menutup pidatonya dengan seruan untuk terus waspada, menjaga kesiapan berkelanjutan, dan bekerja tanpa henti menghadapi agresi saat ini serta mempersiapkan diri menghadapi putaran eskalasi berikutnya.
Baginya, persamaan ini sederhana: Amerika dan Israel menghendaki kawasan yang tunduk; Yaman menegaskan kawasan yang bermartabat dan berperlawanan—berakar pada iman, ditentukan oleh tanggung jawab, dan diwujudkan melalui dukungan teguh terhadap Palestina. (FG)


