Sekjen Hizbullah Paparkan Lima Prinsip untuk Fase Baru Lebanon
Sheikh Qassem menyampaikan terima kasih kepada Iran karena membantu mematahkan proyek Israel-Amerika, menuntut penarikan penuh Israel, dan memaparkan lima prinsip bagi tahap baru Lebanon.
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, memaparkan lima prinsip yang menurutnya menjadi landasan fase baru Lebanon. Ia mengatakan proyek Israel-Amerika telah dipatahkan dan Israel kini tidak memiliki pilihan selain menarik diri sepenuhnya dari setiap jengkal wilayah Lebanon.
Berbicara dalam prosesi Asyura pada 10 Muharram, Sheikh Naim Qassem mengatakan Lebanon telah menghadapi perang yang bertujuan melenyapkan Hizbullah, lingkungan pendukungnya, dan masyarakat yang terkait dengan Perlawanan. Ia mengatakan agresi tersebut dilakukan melalui jalur militer, politik, ekonomi, sosial, serta melalui upaya memicu perpecahan di dalam negeri.
Proyek Israel-Amerika Telah Dipatahkan
Sheikh Naim Qassem mengatakan perang yang baru-baru ini terjadi tidak terbatas pada serangan militer secara langsung, tetapi merupakan bagian dari upaya Israel-Amerika yang lebih luas untuk menghapus Perlawanan dari Lebanon.
Ia mengatakan agresi tersebut menargetkan warga sipil, infrastruktur, berbagai lembaga, pendidikan, kegiatan sosial, kebudayaan, serta kehidupan masyarakat Perlawanan secara keseluruhan.
Menurutnya, perang tersebut juga mengandalkan tekanan dari negara-negara asing, para agen di dalam negeri, kriminalisasi politik, blokade ekonomi, serta upaya memicu fitnah dengan tentara, sekte, dan komunitas keagamaan.
“Kami melawan perang yang dilancarkan untuk melenyapkan keberadaan Hizbullah, lingkungan pendukungnya, rakyatnya, dan warga yang terhubung dengannya di Lebanon.
Agresi Israel-Amerika melalui darat, laut, dan udara ini menargetkan warga sipil, pepohonan, bebatuan, dan kehidupan itu sendiri, dengan menggunakan segala jenis persenjataan, negara-negara asing, para agen, skenario fitnah dengan tentara, sekte, dan komunitas, kriminalisasi politik, blokade ekonomi, serta rencana untuk menghantam lembaga pendidikan, sosial, dan budaya.”
Ia mengatakan Perlawanan beserta rakyatnya berhasil mencegah proyek tersebut mencapai tujuannya.
“Namun segala puji bagi Allah, melalui sikap Karbala yang ditunjukkan seluruh rakyat kami yang mulia dan kami cintai, kami mampu menghentikan agresi ini. Kami mampu meraih pencapaian besar. Kami menyatakannya secara terbuka: kami telah mematahkan proyek Israel-Amerika, dan kami telah memasuki fase baru. Siapa pun yang ingin bertindak sekarang harus bertindak berdasarkan fase baru ini.”
Israel Harus Mundur Tanpa Syarat
Prinsip pertama, kata Sheikh Naim Qassem, adalah bahwa Israel harus menarik diri sepenuhnya dari wilayah Lebanon dan menghentikan seluruh bentuk agresi melalui darat, udara, dan laut. Ia menolak segala rumusan yang memungkinkan Israel memperoleh konsesi, mempertahankan sebagian kehadiran, atau memaksakan komitmen yang melanggar kedaulatan Lebanon.
“Israel tidak memiliki pilihan selain menarik diri sepenuhnya dari setiap jengkal tanah Lebanon kami dan menghentikan agresi melalui udara, darat, laut, serta dalam segala bentuknya. Agresi mereka gagal mencapai tujuan ekspansionisnya, dan inilah titik awal yang mendasar yang menjadi pijakan kami.”
Ia mengatakan setiap pengaturan politik yang melanggar kedaulatan Lebanon akan ditolak.
“Israel harus pergi tanpa syarat ataupun pembatasan. Setiap komitmen yang bertentangan dengan kedaulatan Lebanon tidak akan pernah diterima, dan tidak seorang pun berhak menandatangani atau menyetujui apa pun.
Batas tertinggi seluruh solusi adalah kedaulatan penuh dan kemerdekaan sepenuhnya bagi Lebanon: tidak ada normalisasi, tidak ada penghapusan keadaan permusuhan, tidak ada keuntungan bagi Israel, dan tidak ada kehadiran sebagian Israel di wilayah Lebanon.”
Sheikh Naim Qassem menambahkan bahwa kerangka kedaulatan tersebut tetap terkait dengan hasil kesepakatan 27 November 2024, yang secara khusus terbatas pada Lebanon selatan di wilayah sebelah selatan Sungai Litani.
Perlawanan Tetap Menjadi Pilar Kemerdekaan Lebanon
Prinsip kedua, kata Sheikh Naim Qassem, adalah bahwa Perlawanan akan terus mempertahankan keberadaan, kehadiran, keputusan, dan kemampuannya. Ia menggambarkan Perlawanan sebagai fondasi kemerdekaan dan pembebasan Lebanon, bukan sebagai struktur sementara yang hanya terkait dengan satu pertempuran.
“Perlawanan terus berlanjut dengan keberadaannya, kehadirannya, keputusan-keputusannya, dan kemampuan-kemampuannya. Kini Perlawanan menjadi pilar kemerdekaan dan pembebasan Lebanon, dan akan tetap demikian. Inilah rakyat ini, tanah ini, sejarah ini, masa kini ini, dan masa depan ini.”
Sheikh Naim Qassem mengatakan fase baru ini tidak melemahkan peran Perlawanan. Sebaliknya, ia menggambarkannya sebagai fase yang lebih kuat, di mana Perlawanan tetap menjadi unsur utama dalam melindungi Lebanon dan mencegah Israel memperoleh keuntungan politik maupun teritorial setelah gagal mencapai tujuannya melalui perang.
Otoritas Lebanon Harus Memilih Kedaulatan
Prinsip ketiga berfokus pada negara Lebanon. Sheikh Naim Qassem mengatakan otoritas Lebanon tidak dapat menentang lebih dari separuh rakyat Lebanon dan tetap berharap negara dapat berjalan secara normal.
Ia menyerukan kepada kepemimpinan politik agar meninjau kembali arah kebijakannya dalam dua hal: pertama, dengan menyatukan sikap nasional menghadapi Israel dan menolak dikte asing; kedua, dengan menangani secara serius krisis ekonomi Lebanon, dana para deposan, rekonstruksi, dan keruntuhan sosial.
“Otoritas Lebanon tidak dapat menentang dan memusuhi lebih dari separuh rakyat Lebanon lalu tetap berjalan secara normal. Negara berdiri melalui seluruh komponennya, bukan melalui posisi-posisinya. Para pejabat diberi amanah untuk menjaga negara; mereka akan dihormati apabila berhasil, dan rakyat akan meminta pertanggungjawaban mereka apabila gagal.”
Ia mengatakan Hizbullah tetap siap bekerja sama dengan negara apabila negara menempuh jalan kedaulatan.
“Otoritas politik harus meninjau kembali jalannya dalam dua hal: pertama, menyatukan suara, menyatukan barisan, dan membentuk satu sikap politik dalam menghadapi musuh Israel, sekaligus menghentikan pelaksanaan dikte pihak-pihak yang ingin menguasai Lebanon dan dikte musuh, serta menghentikan keputusan-keputusan yang melayani kepentingan Amerika dan Israel.
Kami siap, dan kami mengulurkan tangan kepada kalian. Manfaatkan kesempatan ini. Perlawanan kuat, dan kami bersama kalian apabila kalian menempuh jalan kedaulatan Lebanon.”
Ia menambahkan bahwa setelah Israel menarik diri, berbagai pihak di Lebanon harus bersama-sama menyusun strategi keamanan nasional yang menyeluruh.
Iran Membantu Menciptakan Keseimbangan Baru
Prinsip keempat, kata Sheikh Naim Qassem, adalah bahwa Lebanon harus memanfaatkan jalur saling pengertian antara Iran dan Amerika Serikat sebagai dukungan besar bagi kedaulatan Lebanon. Ia menggambarkan kekuatan Iran sebagai faktor luar biasa yang harus dimanfaatkan demi Lebanon yang merdeka, berdaulat, dan independen.
Ia mengaitkan konfrontasi Lebanon dengan agresi baru-baru ini terhadap Republik Islam Iran. Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel berupaya melenyapkan peran Iran melalui pergantian rezim serta penguasaan atas negara itu beserta seluruh kemampuannya.
“Agresi ini bertepatan dengan agresi terhadap Republik Islam Iran. Amerika dan Israel juga ingin melenyapkan keberadaan Iran dengan mengganti rezimnya dan menguasai negara beserta seluruh kemampuannya. Mereka mengumumkannya, merencanakannya, dan meyakini bahwa mereka dapat mewujudkannya.”
Sheikh Naim Qassem mengatakan Iran tetap teguh dan berhasil mencapai apa yang ia sebut sebagai nota kesepahaman yang secara resmi menyatakan kekalahan Amerika dan Israel.
“Iran tetap teguh. Iran menghadirkan Imam Khamenei sebagai simbol, panji, cahaya, petunjuk, revolusi, dan penggerak, bersama para pemimpinnya, rakyatnya, warga sipilnya, serta pengorbanan-pengorbanannya yang besar. Melalui semua itu, Iran mampu bertahan dan tetap teguh. Iran berhasil mencapai nota kesepahaman, yang merupakan deklarasi resmi tentang kekalahan Amerika dan Israel. Hari ini Iran sedang membentuk masa depan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi kawasan.”
Ia mengatakan Hizbullah dan Iran bekerja sama selama masa agresi dan bersama-sama mematahkan proyek tersebut.
“Kami bekerja sama dengan Iran selama masa agresi dan menghadapinya bersama. Kami mematahkan proyek itu bersama-sama. Mereka ingin kami terisolasi dan tercerai-berai, tetapi kami bertindak sebagai satu Poros, dan itu adalah hak yang wajar.”
Selanjutnya, ia secara terbuka menyampaikan terima kasih kepada Iran dan mengatakan Hizbullah akan tetap bersama Iran.
“Terima kasih, Iran. Terima kasih, Iran, agar rasa terima kasih ini masuk ke dalam jiwa-jiwa yang sakit dan mengalahkan mereka dengan penyesalan mereka. Terima kasih, Iran, dan kami akan tetap bersama kalian. Kami menginginkan kalian berada di sisi kami, dan kami ingin tetap berada dalam satu keadaan bersama, karena kini telah menjadi jelas bahwa kekuatan kalian, bersama kekuatan para pejuang Perlawanan di medan, membantu menciptakan keseimbangan yang tepat yang membawa kita memasuki fase baru: fase mematahkan proyek Israel sebagai persiapan untuk menyingkirkan entitas Israel dari tanah kami.”
Tolak Tekanan Asing dan Normalisasi
Prinsip kelima, kata Sheikh Naim Qassem, adalah bahwa Lebanon harus menghentikan upaya negara-negara Arab dan negara-negara asing yang mendorongnya menuju fitnah, rekonsiliasi dengan Israel, atau kebijakan yang melayani kepentingan Israel. Sebaliknya, menurutnya, Lebanon harus bekerja sama dengan negara-negara yang bersedia membantu membangun kembali negara, memulihkan kedaulatan, memperkuat tentara Lebanon, dan menekan Israel agar menarik diri.
“Jauhkan tangan negara-negara Arab dan negara-negara asing yang menekan kalian untuk menyeret kalian menuju fitnah, rekonsiliasi dengan Israel, atau kepentingan Israel. Bekerja samalah semaksimal mungkin dengan negara-negara Arab dan negara-negara asing yang membantu Lebanon dalam menjaga kedaulatan dan melakukan rekonstruksi.”
Ia menolak setiap formula yang menjadikan pelucutan senjata Perlawanan sebagai syarat pemberian bantuan.
“Jangan biarkan sebagian negara datang dan berkata kepada kalian: serahkan senjata, maka kami akan membantu kalian. Ini adalah proyek Israel. Kami menginginkan mereka yang mendukung kami demi kedaulatan kami, bukan mereka yang mendukung Israel dengan dalih kedaulatan kami.”
Sheikh Naim Qassem mengatakan Lebanon menyambut setiap peran dari negara Arab maupun negara asing yang mendukung rekonstruksi, kedaulatan, tentara Lebanon, dan pengusiran Israel dari wilayah Lebanon.
Palestina Tetap Menjadi Kompas
Di akhir pidatonya, Sheikh Naim Qassem menyampaikan penghormatan kepada Gaza dan Palestina. Ia mengatakan pengorbanan rakyat Palestina akan tetap menjadi simbol utama kebebasan, kemuliaan, dan pembebasan.
“Kita harus menyampaikan penghormatan kepada rakyat Gaza dan Palestina. Wahai para pejuang yang mulia dan dermawan, dunia telah menzalimi kalian, tetapi darah para syuhada kalian dan pengorbanan rakyat kalian akan tetap menjadi simbol utama kebebasan, kemuliaan, dan pembebasan. Kami bersama kalian. Palestina dan pembebasan Palestina akan tetap menjadi kompas.”
Ia juga menyampaikan penghormatan kepada Yaman dan Irak karena berdiri bersama Palestina, Lebanon, dan Poros Perlawanan.
“Salam kepada rakyat Yaman yang mulia dan penuh pengorbanan, kepada kepemimpinan yang terhormat, dan kepada angkatan bersenjata yang tetap teguh ketika dunia meninggalkan Palestina, Lebanon, dan Poros Perlawanan, meskipun mereka menghadapi begitu banyak kesulitan dan kondisi yang berat. Mereka adalah orang-orang mulia yang mengetahui di mana kebenaran berada.”
Sheikh Naim Qassem menutup pidatonya dengan mengatakan bahwa pada akhirnya orang-orang yang berada di pihak kebenaran akan meraih kemenangan. Ia kembali menegaskan slogan keteguhan Asyura:
“Jauh dari kami kehinaan.” (PW)


