Sekjen Hizbullah: Proyek Israel Gagal, Tak Ada Pilihan Selain Mundur Total dari Lebanon
Sekjen Hizbullah menyatakan Lebanon memasuki fase baru setelah Perlawanan menggagalkan proyek Israel, memuji dukungan Iran, dan menegaskan kepemimpinan Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei.
LEBANON, FAKTAGLOBAL.COM – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menegaskan bahwa Lebanon, Perlawanan, tentara, dan rakyatnya telah memasuki fase baru setelah gagalnya proyek Israel yang bertujuan menghancurkan Hizbullah dan mewujudkan agenda “Israel Raya”.
Berbicara dalam Majelis Asyura Pusat Hizbullah pada Selasa, Sheikh Naim mengatakan bahwa bertahun-tahun tekanan militer, politik, sosial, dan budaya gagal mencapai tujuan untuk memusnahkan Perlawanan.
“Kita kini berada dalam fase baru dalam sejarah Lebanon, Perlawanan, tentara, rakyat, dan masa depannya. Fase ini adalah fase runtuhnya proyek Israel,” ujarnya.
Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei Memimpin Barisan Kebenaran
Sheikh Naim mengatakan umat Islam saat ini terus memperoleh manfaat dari bimbingan Wali al-Faqih, Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei, yang misinya melampaui batas-batas negara mana pun.
Menurutnya, peran Wali al-Faqih adalah membimbing proyek Ilahi di muka bumi dan mempersiapkan jalan bagi tercapainya tujuan besar umat.
“Berkat perjuangan dan pengorbanan besar para syuhada di jalan kebenaran, umat Islam hari ini menikmati nikmat bimbingan Wali al-Faqih, Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei,” katanya.
Ia menambahkan bahwa jalan tersebut merupakan kelanjutan dari madrasah Imam Husain (as) yang mengarahkan masyarakat menuju kemunculan mulia Imam al-Mahdi (aj).
Lebanon Memasuki Fase Runtuhnya Proyek Israel
Berbicara mengenai perang, Sheikh Naim menegaskan bahwa Lebanon, rakyatnya, tentaranya, dan Perlawanan telah memasuki tahap baru yang ditandai oleh kegagalan rencana jangka panjang Israel.
“Kita kini berada dalam fase baru dalam sejarah Lebanon, Perlawanan, tentara, rakyat, dan masa depannya. Fase ini adalah fase runtuhnya proyek Israel,” tegasnya.
Menurutnya, tujuan Israel bukan sekadar meraih kemenangan militer, tetapi menghancurkan Hizbullah beserta lingkungan pendukungnya secara politik, budaya, sosial, dan militer sebagai bagian dari proyek Israel Raya.
Ia menjelaskan bahwa tujuan tersebut gagal tercapai berkat keteguhan yang ditunjukkan di medan pertempuran.
“Jika medan perang runtuh, Israel akan mengambil langkah besar untuk melenyapkan Hizbullah dan memajukan proyek Israel Raya,” katanya.
Sheikh Naim menambahkan bahwa pengorbanan para syuhada, pejuang yang terluka, para tahanan, serta keluarga mereka memainkan peran penting dalam menggagalkan tujuan tersebut.
Dukungan Hizbullah kepada Iran Mengubah Jalannya Pertempuran
Sheikh Naim menyatakan bahwa langkah Hizbullah selama perang merupakan keputusan strategis yang terukur, bukan reaksi spontan.
Ia menjelaskan bahwa Perlawanan meninggalkan fase kesabaran strategis dan memasuki konfrontasi langsung setelah menilai kondisi lapangan telah berubah.
Sekjen Hizbullah mengatakan dukungan praktis dan terbuka terhadap Republik Islam Iran menghadirkan faktor baru dalam keseimbangan kekuatan kawasan.
Menurutnya, banyak pihak regional dan internasional berulang kali berusaha mengetahui sikap Hizbullah jika terjadi perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Musuh berharap Perlawanan Lebanon akan tetap diam jika Iran diserang sehingga Iran dapat menjadi sasaran secara terisolasi,” ujarnya.
Namun sebaliknya, Hizbullah memasuki fase dukungan praktis ketika saat yang tepat tiba.
Sheikh Naim menilai tingkat ketangguhan yang ditunjukkan Iran dan Hizbullah melampaui perkiraan Israel, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutu mereka.
Iran Menolak Kesepakatan yang Mengabaikan Lebanon
Sekjen Hizbullah memuji kepemimpinan Iran dan dukungannya selama konflik berlangsung. Menurutnya, Teheran tetap berkomitmen terhadap Lebanon meskipun menghadapi tekanan besar.
Ia mengungkapkan bahwa Iran menolak memisahkan kepentingannya sendiri dari kepentingan Lebanon dalam setiap perundingan.
“Iran tidak menerima kesepakatan untuk mengakhiri perang terhadap dirinya sendiri kecuali perang terhadap Lebanon juga diakhiri,” katanya.
Menurut Sheikh Naim, sikap tersebut menunjukkan ketulusan dan kesetiaan Republik Islam Iran serta membuktikan keliru tuduhan bahwa Teheran akan meninggalkan sekutunya demi kepentingannya sendiri.
Ia menambahkan bahwa tanpa dukungan Iran, negara-negara di kawasan akan menghadapi kesulitan yang jauh lebih besar dalam menghadapi tekanan eksternal.
Tidak Ada Pilihan Selain Mundur Sepenuhnya dari Lebanon
Membahas fase pascaperang, Sheikh Naim menegaskan bahwa Israel gagal mencapai tujuannya dan langkah berikutnya haruslah penarikan penuh pasukan Israel dari seluruh wilayah Lebanon.
“Tidak ada pilihan bagi Israel selain mundur sepenuhnya dari seluruh wilayah Lebanon,” tegasnya.
Sekjen Hizbullah kemudian memaparkan tuntutan yang menurutnya merupakan hak sah Lebanon, termasuk penghentian seluruh agresi Israel melalui darat, udara, dan laut, pembebasan para tahanan, pemulangan warga ke wilayah perbatasan, serta pelaksanaan rekonstruksi.
Ia juga menolak segala bentuk campur tangan Israel dalam urusan dalam negeri Lebanon dan menegaskan bahwa keputusan mengenai masa depan negara itu sepenuhnya merupakan hak rakyat Lebanon.
Menutup pidatonya, Sheikh Naim menyatakan bahwa Perlawanan tetap menjadi jaminan paling dapat diandalkan untuk mempertahankan kedaulatan, kemerdekaan, dan hak-hak nasional Lebanon. Menurutnya, keteguhan di medan perang telah menggagalkan upaya Israel untuk memaksakan tujuannya terhadap Lebanon. (FG)


