Sekjen Hizbullah: Tak Ada Gencatan Senjata di Lebanon — Perlawanan Akan Tentukan Hasil Akhir
Sekretaris Jenderal Hizbullah menegaskan agresi berkelanjutan AS-Israel, menolak negosiasi langsung, dan menyatakan persatuan serta perlawanan sebagai jalan penentu ke depan
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menegaskan bahwa situasi di Lebanon bukanlah gencatan senjata, melainkan agresi berkelanjutan AS-Israel yang ditandai dengan penargetan sistematis terhadap warga sipil, kota-kota, dan infrastruktur.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada 4 Mei 2026, Sheikh Naim Qassem menggambarkan fase saat ini sebagai salah satu yang paling berbahaya dalam sejarah kawasan, seraya memperingatkan bahwa musuh Zionis—yang didukung dan diarahkan oleh Amerika Serikat—berupaya memaksakan tujuannya melalui kekuatan, dengan maksud merampas tanah, hak, dan masa depan kawasan.
Ia menegaskan bahwa meskipun skala agresi sangat besar, perlawanan telah mencegah musuh mencapai tujuannya, serta menekankan bahwa keteguhan tetap menjadi faktor utama yang membentuk masa depan Lebanon dan kawasan.
Tidak Ada Gencatan Senjata karena Israel Melakukan Pelanggaran Sistematis
Sheikh Naim Qassem menolak klaim adanya gencatan senjata di Lebanon, dengan menyatakan bahwa agresi terus berlangsung tanpa henti.
Ia menjelaskan bahwa Lebanon telah sepenuhnya mematuhi kesepakatan 27 November 2024 selama lima belas bulan berturut-turut, khususnya melalui penempatan tentara Lebanon di selatan Sungai Litani.
Namun, ia menyatakan bahwa Israel “tidak menjalankan satu pun langkah” dari kesepakatan tersebut dan justru melakukan lebih dari sepuluh ribu pelanggaran, yang mengakibatkan terbunuhnya ratusan warga sipil, melukai banyak lainnya, menghancurkan ribuan rumah, serta menyebabkan pengungsian massal seluruh komunitas.
Menurut Sheikh Naim Qassem, tindakan-tindakan ini mencerminkan kegagalan Israel untuk mencapai kemajuan apa pun terhadap tujuan strategisnya yang lebih luas.
“Israel telah gagal mencapai satu langkah pun menuju ‘Israel Raya’—dan tidak akan pernah mencapainya, bahkan jika seluruh penjahat dunia bersatu mendukungnya,” tegasnya.
Strategi Perlawanan Adaptif Menghalangi Kendali Musuh
Menanggapi perkembangan di lapangan, Sheikh Naim Qassem menjelaskan bahwa perlawanan telah menyesuaikan metode operasionalnya sesuai dengan fase saat ini, dengan mengambil pelajaran dari konfrontasi sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa para pejuang perlawanan tidak terikat pada posisi tetap, melainkan beroperasi di berbagai wilayah, mengamankan persenjataan yang sesuai, dan menerapkan taktik yang fleksibel.
Taktik tersebut mencakup operasi serangan cepat yang bertujuan menimbulkan kerugian maksimal pada pasukan musuh serta mencegah mereka mengokohkan kendali atas wilayah yang diduduki.
“Tidak ada ‘garis kuning’ atau zona penyangga, dan tidak akan pernah ada,” kata Sheikh Naim Qassem, menegaskan bahwa tidak ada batasan yang dipaksakan yang akan diterima.
Ia menambahkan bahwa kinerja perlawanan di medan tempur yang terus berkembang, termasuk presisi dan kemampuan melancarkan operasi tak terduga, telah mengubah dinamika konfrontasi.
Persatuan dan Kedaulatan sebagai Pilar Strategis
Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa kemenangan tidak hanya bergantung pada kemampuan militer, tetapi juga pada persatuan internal.
Ia mengidentifikasi dua pilar utama keberhasilan: kekuatan perlawanan dan kohesi front domestik.
Ia memperingatkan terhadap setiap upaya untuk melemahkan perlawanan dari dalam atau menyelaraskan diri dengan agenda musuh di tengah fase yang ia sebut sebagai kritis dan sensitif.
“Apakah ada negara di dunia yang otoritasnya berpihak pada musuh melawan perlawanan rakyatnya sendiri terhadap pendudukan? Tidak ada,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa otoritas negara memikul tanggung jawab untuk menjaga persatuan nasional, mempertahankan kedaulatan, melindungi warga, serta menangani tantangan ekonomi dan sosial.
Meski mengakui adanya kelemahan institusional, Sheikh Naim Qassem menyerukan rencana terstruktur yang berlandaskan pada penguatan negara dan kedaulatan, serta menegaskan bahwa perlawanan siap mendukung upaya tersebut dalam kerangka kemerdekaan.
Tidak Ada Negosiasi Langsung, Hanya Diplomasi Bersyarat
Dalam jalur politik, Sheikh Naim Qassem dengan tegas menolak negosiasi langsung dengan musuh, yang ia sebut sebagai “konsesi gratis tanpa manfaat” yang hanya menguntungkan kepemimpinan Israel dan kepentingan politik Amerika Serikat.
Ia secara khusus menyatakan bahwa negosiasi semacam itu akan memberi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, citra kemenangan yang direkayasa di tengah agresi yang terus berlangsung, serta melayani perhitungan politik Presiden AS, Donald Trump, menjelang pemilu paruh waktu.
Sebaliknya, ia menyatakan dukungan terhadap diplomasi yang mengarah pada penghentian agresi dan pelaksanaan kesepakatan, khususnya melalui negosiasi tidak langsung yang sebelumnya telah menghasilkan capaian nyata, termasuk pengaturan maritim dan kesepahaman gencatan senjata.
Ia menegaskan bahwa setiap solusi politik harus menjaga hak dan kemampuan Lebanon, serta menolak kerangka apa pun yang bertujuan memaksakan kelemahan atau kontrol eksternal.
Perlawanan dan Pengorbanan Akan Menentukan Masa Depan
Menutup pernyataannya, Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa hasil konfrontasi saat ini tidak akan ditentukan oleh tekanan atau penyerahan diri, melainkan oleh perlawanan dan keteguhan.
Ia memberikan penghormatan kepada para syuhada perlawanan, yang dipimpin oleh Sayyed Hassan Nasrallah, seraya menyebut pengorbanan mereka sebagai fondasi ketahanan Lebanon.
Ia menyatakan bahwa darah mereka telah menjadikan tanah Lebanon “tak tertembus oleh para penjajah,” serta menegaskan bahwa perlawanan tetap berkomitmen melanjutkan jalannya.
“Solusinya bukanlah menyerah,” tegas Sheikh Naim Qassem, “melainkan perlawanan hingga pembebasan tercapai.”
Ia juga memuji rakyat Lebanon—terutama para pengungsi, para pendukung, dan seluruh pihak yang memberikan tempat tinggal serta bantuan—sebagai teladan persatuan, pengorbanan, dan komitmen dalam membela bangsa. (FG)



