Sembilan Orang Tewas dalam Runtuhnya Gedung di Tripoli, Lebanon Utara
Banyak keluarga terjebak, bangunan tidak aman terus mengancam nyawa di Lebanon utara
Lebanon | FAKTAGLOBAL.COM — Sebuah bangunan hunian lima lantai runtuh pada hari Minggu di kawasan al-Tabbaneh, Tripoli, menewaskan sedikitnya sembilan orang dan menjebak sejumlah lainnya di bawah puing-puing, sebagaimana dikonfirmasi oleh otoritas Pertahanan Sipil Lebanon.
Brigadir Jenderal Imad Khreish, Direktur Jenderal Pertahanan Sipil, mengatakan bahwa tim penyelamat berhasil mengevakuasi sembilan jenazah dari reruntuhan bangunan berisi 12 unit apartemen tersebut, sementara delapan warga berhasil dikeluarkan dalam keadaan hidup, termasuk seorang anak. Sejumlah orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Upaya Penyelamatan Berlanjut, Korban Selamat Dievakuasi dari Reruntuhan
Panggilan darurat dilakukan segera setelah bangunan runtuh, memicu respons besar-besaran dari unit Pertahanan Sipil dan layanan darurat.
Tim penyelamat melaporkan mendeteksi suara seorang anak yang diyakini masih hidup di bawah puing-puing dan berhasil menyelamatkannya dalam operasi pencarian yang masih berlangsung.
Menurut laporan lapangan, dua keluarga berada di dalam gedung tersebut saat runtuh. Alat berat serta upaya penyelamatan manual terus dilakukan di tengah kekhawatiran bahwa masih ada korban selamat lain yang terjebak.
Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon mengonfirmasi bahwa seluruh korban luka akan menerima perawatan medis penuh dengan biaya negara. Menteri Kesehatan Dr. Rakan Nassereddine menginstruksikan tim darurat untuk terus berkoordinasi dengan Pertahanan Sipil dan lembaga terkait guna mendukung operasi penyelamatan dan penanganan medis.
Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat kementerian menyatakan bahwa pihaknya memantau situasi secara ketat serta mengawasi proses pembersihan puing dan upaya penyelamatan.
Risiko Struktur Bangunan Meluas di Seluruh Lebanon
Runtuhnya gedung yang mematikan ini menyoroti krisis mendalam Lebanon terkait bangunan hunian yang tidak aman. Otoritas memperkirakan lebih dari 16.000 bangunan di seluruh Lebanon berisiko runtuh akibat agresi Israel yang berkepanjangan, pembangunan tanpa regulasi, serta kerentanan seismik.
Di Tripoli saja, para pejabat mengidentifikasi sekitar 4.000 bangunan yang berisiko, dengan sedikitnya 1.000 bangunan memerlukan evakuasi segera. Wilayah berisiko tinggi meliputi Bab al-Tabbaneh, al-Qubbeh, Pasar Tua, Zahriyeh, Zahr el-Maghreb, Jabal Mohsen, serta Rue des Religieuses di kawasan Seraya Lama.
Runtuhnya Gedung Sebelumnya Picu Alarm, Tingkatkan Kecemasan Publik
Insiden terbaru ini menyusul tragedi serupa pada 24 Januari, ketika dua bangunan hunian runtuh di distrik al-Qubbeh, Tripoli. Peristiwa tersebut terjadi tak lama setelah pukul 03.00 dini hari dan melibatkan sebuah bangunan lima lantai serta bangunan tiga lantai yang berdekatan.
Meski otoritas kota telah mengevakuasi bangunan-bangunan tersebut setelah retakan dilaporkan, sebuah keluarga beranggotakan lima orang dari keluarga al-Mir tetap berada di salah satu apartemen. Sementara beberapa anggota keluarga berhasil diselamatkan, setidaknya dua orang tewas, kembali memicu kekhawatiran publik atas keterlambatan evakuasi dan memburuknya infrastruktur.
Runtuhnya gedung pada hari Minggu ini menambah bukti yang kian menumpuk tentang kelalaian sistemik dan kerusakan infrastruktur di pusat-pusat perkotaan Lebanon, khususnya di kawasan yang secara ekonomi terpinggirkan.
Dengan ribuan bangunan dinyatakan tidak aman dan keterbatasan sumber daya negara untuk penegakan serta rehabilitasi, warga terus menghadapi risiko harian di dalam rumah mereka sendiri. (FG)


