"Setiap Detik adalah Neraka": Jurnalis Palestina Ungkap Penyiksaan di Penjara Israel
Mujahid Beni Mufleh mengatakan pemukulan, kelaparan, pengabaian medis, dan berbagai bentuk penyiksaan di penjara Israel telah menghancurkan kondisi fisik dan psikologisnya
Palestina, FAKTAGLOBAL.COM – Jurnalis Palestina Mujahid Beni Mufleh berbicara dari sebuah ruang perawatan rumah sakit di Tepi Barat yang diduduki pada Selasa, sehari setelah kembali dapat berbicara. Ia menceritakan enam bulan penahanannya tanpa dakwaan maupun pengadilan oleh pasukan pendudukan Israel.
“Kelaparan, pengabaian medis, pemukulan, penghinaan, dan pelanggaran yang terus-menerus. Setiap detik adalah neraka,” kata Beni Mufleh.
Dibawa dari Rumah Tanpa Peringatan
Beni Mufleh mengatakan tentara Israel menggerebek rumahnya di Beita tanpa peringatan pada 28 Juni 2025 ketika ia sedang tidur bersama istri dan ketiga anaknya.
“Selama perang, mereka mulai menangkap orang-orang tanpa bukti. Dan saya adalah salah satunya,” katanya.
“Suatu malam, saya, istri saya, dan ketiga anak kami sedang tidur ketika tiba-tiba mereka mendobrak pintu dan masuk ke dalam rumah. Mereka membawa saya ke sebuah jip militer setelah memukuli saya di dalam rumah serta menyita telepon genggam dan laptop saya,” ujarnya.
“Mereka tidak memberikan alasan atas penangkapan itu maupun menuduh saya melakukan tindak kejahatan apa pun. Mereka mengatakan saya ditahan secara administratif karena perang,” katanya.
Beni Mufleh mengatakan ia sempat bertanya kepada para tentara apa hubungannya dengan perang tersebut. Namun kemudian ia justru dituduh melakukan hasutan melalui artikel dan unggahannya.
“Mereka mengklaim saya menghasut kekerasan melalui artikel dan unggahan saya. Tuduhan itu tidak berdasar,” kata jurnalis yang bekerja untuk Ultrasawt.
Ribuan Warga Palestina Ditahan Tanpa Dakwaan
Israel menahan ribuan warga Palestina melalui mekanisme penahanan administratif dengan menggunakan apa yang disebut sebagai bukti rahasia yang tidak boleh diperiksa baik oleh tahanan maupun pengacaranya. Banyak di antara mereka dipenjara selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa dakwaan resmi ataupun pengadilan.
Seperti banyak tahanan lainnya, Beni Mufleh pertama kali dipindahkan ke sebuah kantor polisi di dekat Ramallah, kemudian ke Penjara Megiddo, dan akhirnya ke Penjara Negev di kawasan gurun.
Di dalam penjara, ia mengatakan menyaksikan berbagai tindakan penyiksaan yang mengakibatkan dua tahanan meninggal dunia. Salah satunya adalah seorang pria berusia 50 tahun yang tewas karena sesak napas setelah disemprot semprotan merica. Korban kedua adalah Ahmed, seorang pemuda berusia 18 tahun yang berhenti bernapas ketika meminta antibiotik setelah diserang seekor anjing polisi.
Sejak Oktober 2023, berbagai organisasi kemanusiaan, termasuk B’Tselem, telah mendokumentasikan penyiksaan sistematis di fasilitas-fasilitas penahanan Israel. Menurut Physicians for Human Rights Israel, sedikitnya 100 warga Palestina telah tewas di tangan personel Zionis di fasilitas penahanan.
Beni Mufleh seharusnya dibebaskan pada 25 Desember 2025. Namun, ia mengatakan para sipir membawanya hingga ke gerbang penjara sebelum akhirnya mengembalikannya lagi ke dalam.
“Saya sempat melihat anak-anak saya menunggu di luar. Pemandangan itu sangat menyakitkan dan kejam bagi saya,” katanya.
Dibebaskan dengan Berat Badan Berkurang 45 Kilogram
Gerbang penjara akhirnya terbuka pada 16 Januari. Dua hari kemudian, Beni Mufleh dirawat di sebuah rumah sakit di Ramallah dalam kondisi kritis akibat pendarahan otak yang parah dan tekanan darah yang sangat tinggi. Dokter kemudian melakukan operasi darurat.
Ia menghabiskan enam bulan untuk memulihkan diri dari pendarahan otak, trauma yang dialami di seluruh tubuhnya, serta penurunan berat badan yang drastis. Ia mengatakan kehilangan sekitar 45 kilogram selama menjalani penahanan.
“Apa yang saya lihat sangat mengerikan dan kejam, dan saya tidak bisa melupakannya ataupun melampauinya. Kondisi mental saya sangat rapuh... Yang ada hanyalah pemukulan dan kekerasan,” katanya.
Beni Mufleh mengatakan otoritas Israel berupaya memastikan dirinya tidak akan berbicara mengenai apa yang dialaminya selama di penjara.
“Mereka tidak ingin Anda menceritakan apa yang terjadi kepada Anda di penjara, sehingga mereka berusaha menakut-nakuti, meneror, dan menyiksa Anda agar Anda tetap diam,” katanya.
Perhimpunan Tahanan Palestina: Contoh Pembunuhan Secara Perlahan
Sebagaimana dalam kasus-kasus serupa, Dinas Penjara Israel membantah tuduhan yang disampaikan jurnalis Palestina tersebut, meskipun bukti fisik yang menetap masih tampak jelas setelah ia dibebaskan.
Perhimpunan Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Society/PPS) mengatakan kasus Beni Mufleh “merangkum makna sebenarnya dari penjara-penjara pemusnahan milik pendudukan”, dan menggambarkannya sebagai “alat pembunuhan dan penyiksaan secara perlahan dan langsung.”
Organisasi tersebut mengatakan pihaknya telah mendokumentasikan ratusan kasus tahanan yang dibebaskan dalam kondisi fisik dan psikologis yang sangat parah. Banyak di antaranya tidak dipublikasikan karena khawatir ditangkap kembali. Sejumlah mantan tahanan bahkan meninggal dunia tidak lama setelah dibebaskan.
PPS juga mencatat lebih dari 245 jurnalis Palestina telah ditangkap sejak tentara pendudukan Israel melancarkan ofensifnya di Gaza pada Oktober 2023. (FG)



