Sheikh Naim Qassem pada Arbaeen Imam Khamenei: Israel Tak Akan Capai Tujuannya
Sheikh Naim Qassem menegaskan perlawanan tetap bertahan pasca syahidnya Ayatullah Khamenei, bersumpah Israel akan gagal saat Iran mengukuhkan kemenangan dan memaksa AS mundur
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Sheikh Naim Qassem menyatakan bahwa syahidnya Ayatullah Sayyed Ali Khamenei merupakan momen duka yang mendalam sekaligus kekuatan yang terus hidup bagi front perlawanan, saat ia memperingati hari keempat puluh (Arbaeen) sejak pembunuhan pemimpin tersebut.
Dalam pesan yang dirilis pada Jumat, Sheikh Qassem menggambarkan kehilangan itu sebagai sesuatu yang besar namun memiliki derajat spiritual yang tinggi, dengan memandang kesyahidan sebagai maqam tertinggi dalam medan perjuangan.
“Kami merasakan duka sekaligus kemuliaan. Kehilangan ini sangat besar, dan tragedinya sangat mendalam bagi kami, namun kedudukan yang diraih pemimpin kami di jantung medan jihad—yakni syahid di jalan Imam Husain—jauh lebih tinggi dan agung.”
Ia mengaitkan kesyahidan ini secara langsung dengan warisan Imam Husayn ibn Ali, menempatkan Ayatullah Khamenei dalam kesinambungan sejarah pengorbanan dan perlawanan.
Kelanjutan Jalan Khomeini dan Fondasi Perlawanan
Sheikh Qassem menegaskan bahwa Ayatullah Khamenei telah memperkokoh fondasi ideologis dan strategis dari apa yang ia sebut sebagai “Islam Muhammadi yang autentik,” dengan melanjutkan jalan Imam Ruhollah Khomeini.
Ia menyatakan bahwa Ayatullah Khamenei tidak hanya menjaga garis revolusi, tetapi juga memperkuatnya dengan menanamkan prinsip keteguhan, jihad, kesabaran, dan perlawanan di tengah umat.
“Ia meletakkan fondasi Islam autentik di atas jalan Imam Khomeini dan membekali umat dengan prinsip keteguhan, jihad, dan kesabaran.”
Menurut Sheikh Qassem, kepemimpinan Ayatullah Khamenei juga melampaui ranah ideologi menuju bimbingan praktis—mendorong kemajuan ilmiah, kemandirian, serta kebebasan dari dominasi blok kekuatan global.
“Ia menekankan pentingnya mengikuti perkembangan zaman, kemajuan ilmiah, kemandirian, serta hak untuk merdeka tanpa tunduk kepada Timur maupun Barat.”
Ia menambahkan bahwa kerangka ini berakar kuat dalam ajaran Islam, terhubung dengan risalah Nabi Muhammad dan warisan para Imam.
Pembunuhan untuk Menghancurkan Jalur Perlawanan
Sheikh Qassem menegaskan bahwa pembunuhan terhadap Ayatullah Khamenei merupakan upaya yang disengaja oleh poros Amerika-Israel untuk menghancurkan struktur perlawanan dan mengguncang Iran serta sekutunya.
“Musuh Amerika-Israel berupaya, melalui pembunuhan pemimpin Imam ini, untuk mengakhiri jalan autentik ini dan mengguncang rakyat Iran serta bangsa-bangsa merdeka yang mencintai metodenya.”
Namun, ia menegaskan bahwa hasilnya justru berlawanan dengan yang diharapkan.
Respons Iran: Persatuan, Stabilitas, dan Kemenangan Strategis
Menurut Sheikh Qassem, Iran merespons dengan persatuan internal dan perlawanan menyeluruh—militer, politik, dan sosial—yang secara efektif menggagalkan dampak dari pembunuhan tersebut.
“Rakyat Iran, Garda mereka, serta kekuatan keamanan dan militernya berdiri teguh di medan, menghadapi musuh secara militer, politik, budaya, serta melalui kehadiran massa dan persatuan internal.”
Ia menyoroti transisi kepemimpinan yang cepat kepada Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei sebagai faktor kunci dalam menjaga stabilitas dan kesinambungan.
“Mereka berhasil, dengan karunia Allah, memilih Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei sebagai penerus yang diberkahi dari pendahulu yang diberkahi.”
Di bawah kepemimpinan ini, lanjutnya, Iran mampu memulihkan keseimbangan, menstabilkan medan, dan mencegah musuh mencapai tujuan strategisnya.
“Republik Islam mampu menyembuhkan lukanya, menstabilkan medan, dan meraih kemenangan besar dengan menggagalkan musuh Amerika-Israel mencapai tujuannya.”
Ia juga menyatakan bahwa hasil ini memaksa Amerika Serikat dan Israel memasuki negosiasi di bawah syarat Iran.
“Musuh datang ke meja perundingan dalam keadaan terhina, di bawah syarat sah Iran.”
Poros Perlawanan dan Kelanjutan Wilayah
Sheikh Qassem menegaskan kembali bahwa Hizbullah dan sekutunya tetap berkomitmen pada garis wilayah (kepemimpinan) yang berkelanjutan dari Nabi Muhammad, para Imam, hingga para ulama besar sepanjang sejarah.
Ia memandang kesinambungan ideologis ini sebagai inti dari ketahanan Poros Perlawanan.
“Kami meyakini wilayah ini yang berlanjut dari Nabi, melalui para Imam, dan para ulama besar, hingga penyerahan panji kepada Imam yang dinanti (Al-Mahdi).”
Ia juga menyoroti pengorbanan besar Hizbullah dalam jalan ini, termasuk syahidnya Sayyed Hassan Nasrallah dan banyak pejuang lainnya.
“Hizbullah telah mempersembahkan pemimpin para syuhada umat, Sayyed Hassan, serta para syuhada yang saleh demi meninggikan kalimat kebenaran, pembebasan, dan martabat manusia.”
“Israel Tidak Akan Mencapai Tujuannya”
Menutup pesannya, Sheikh Qassem menyampaikan peringatan tegas terhadap ambisi militer Israel di kawasan, khususnya di Lebanon selatan.
“Israel perampas tidak akan mampu mencapai tujuannya, dan tidak akan menemukan stabilitas di selatan kami yang teguh.”
Ia menegaskan bahwa kekuatan perlawanan tetap siap menghadapi dan pada akhirnya menggagalkan proyek Israel.
“Proyeknya akan digagalkan oleh para pemuda perlawanan melalui aksi pencarian syahid mereka, bersama rakyat kami yang mulia, suci, dan penuh pengorbanan.”
Sheikh Qassem menutup dengan ayat Al-Qur’an sebagai penegasan kemenangan:
“Dan Dia menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah, sedangkan kalimat Allah itulah yang tinggi.”
Pernyataan ini mencerminkan posisi Hizbullah bahwa konfrontasi regional masih terus berlangsung, dengan Poros Perlawanan berkomitmen melanjutkan perjuangan hingga kemenangan strategis sepenuhnya terwujud. (FG)


