Sheikh Qassem: Agenda AS–Israel Picu Ketidakstabilan di Lebanon dan Kawasan
Pemimpin Hizbullah Menegaskan bahwa Upaya Melucuti Perlawanan Melayani Kepentingan Asing, Bukan Lebanon
Lebanon | FAKTAGLOBAL.COM — Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hujjat al-Islam wal-Muslimeen Sheikh Naim Qassem, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan pendudukan Israel merupakan pihak yang mendorong ketidakstabilan di Lebanon dan kawasan.
Ia menegaskan bahwa berbagai upaya untuk melemahkan atau melucuti senjata perlawanan justru melayani agenda asing, bukan kepentingan nasional Lebanon. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah acara memperingati hari pengutusan Nabi Muhammad SAW (Al-Mab’ath Al-Nabawi).
Iman, Misi Kenabian, dan Makna Kebenaran
Sheikh Qassem menyatakan bahwa Misi Kenabian merupakan titik balik terbesar dalam sejarah umat manusia, ketika Allah mempercayakan kepada Rasul-Nya sebuah risalah yang utuh dan menyeluruh bagi seluruh umat manusia.
“Misi Kenabian yang mulia (Mab’ath) berarti kita berdiri di hadapan hari terbesar dalam sejarah kemanusiaan,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa Islam memberikan jalan yang jelas menuju kebenaran dalam seluruh aspek kehidupan.
“Islamlah yang membimbing manusia menuju jalan kebenaran,” tegas Sheikh Qassem. “Di mana pun keputusan Ilahi berada, di sanalah kebenaran dan kewajiban untuk mengikutinya.”
Ia menekankan bahwa iman bukanlah konsep abstrak, melainkan komitmen hidup yang membentuk akhlak, masyarakat, serta perlawanan terhadap kezaliman.
Agresi Global AS dan Perang terhadap Bangsa-Bangsa Merdeka
Beralih ke isu internasional, Sheikh Qassem menyatakan bahwa Washington tidak pernah mentolerir sistem yang independen atau bangsa-bangsa bebas yang mengatur diri mereka sendiri. Sebaliknya, Amerika berupaya mendominasi, sambil terus mendukung pendudukan “Israel” dan ekspansinya.
“Amerika tidak menginginkan sebuah sistem atau bangsa merdeka yang memerintah dirinya sendiri,” katanya. “Yang mereka inginkan adalah mendominasi rakyat dan pilihan-pilihan mereka, serta mendukung pendudukan Israel.”
Ia menyebut Venezuela sebagai contoh nyata kejahatan Amerika di luar Asia Barat, dengan mengatakan: “Amerika melakukan kejahatan abad ini di Venezuela dengan menculik presiden republik dari dalam negaranya sendiri.”
Sheikh Qassem memperingatkan bahwa tanpa keamanan, tidak akan pernah ada stabilitas politik maupun ekonomi, seraya menegaskan bahwa intervensi yang dipimpin AS secara sistematis menghancurkan fondasi negara-negara berdaulat.
Lebanon, Perlawanan, dan Keniscayaan Senjata
Menanggapi situasi internal Lebanon, Sheikh Qassem menolak klaim bahwa perlawanan adalah sumber ketidakstabilan, dan menegaskan bahwa agresi serta campur tangan asinglah yang menjadi ancaman nyata terhadap kedaulatan nasional.
Ia menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata merupakan satu kerangka yang utuh dan telah dihormati oleh Lebanon, sementara “Israel” gagal menjalankan satu pun kewajibannya. Ia menambahkan bahwa Resolusi 1701, eksklusivitas senjata, dan strategi keamanan nasional adalah urusan Lebanon yang terkait dengan konsensus politik internal, bukan dikte eksternal.
“Tuntutan untuk membatasi senjata adalah tuntutan Amerika–Israel yang bertujuan mengepung perlawanan,” tegas Sheikh Qassem. “Ini bukan masalah Lebanon; ini adalah masalah Israel, karena selama ada perlawanan, tanah ini tidak akan dirampas.”
Ia memperingatkan bahwa konsesi hanya akan semakin melemahkan Lebanon, sementara perlawanan tetap menjadi perisai sejati negara tersebut. “Senjata yang ada di tangan kami adalah untuk membela diri, perlawanan kami, dan rakyat kami,” ujarnya.
Sheikh Qassem menyampaikan peringatan langsung terhadap pelucutan senjata: “Jika kami tidak memiliki senjata, dan jika kami tidak membela diri, siapa yang dapat menjamin bahwa ‘Israel’ tidak akan melanggar setiap jengkal wilayah Lebanon?”
Dalam penutup pidatonya, ia menegaskan kembali bahwa perlawanan akan tetap berdiri dengan bangga dan tidak akan tunduk, siap menghadapi ujian seberat apa pun ke depan. Ia menegaskan bahwa Hizbullah dan perlawanan akan terus bertahan dengan martabat, seraya menegaskan bahwa “Israel” dan sekutunya tidak akan mencapai tujuan mereka. (FG)


