Sheikh Qassem ke Musuh: Lakukan yang Terburuk — Kami Pantang Mundur, Pantang Menyerah
Sekretaris Jenderal Hizbullah mengecam agenda pelucutan senjata AS–Israel, menolak penyerahan diri, dan menegaskan perlawanan sebagai perisai Lebanon
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Sheikh Naim Qassem, Sekretaris Jenderal Hizbullah, menyampaikan pidato yang tegas dan luas cakupannya dalam upacara peringatan tahun kedua wafatnya komandan perlawanan pendiri, al-Hajj Mohammad Hassan Yaghi (Abu Salim). Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Lebanon tengah menghadapi konfrontasi historis antara kedaulatan dan penyerahan diri.
Dalam pidato yang memadukan penghormatan, ideologi, dan konfrontasi politik, Sheikh Qassem memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah menjalankan proyek terkoordinasi untuk melucuti kekuatan Lebanon, menetralisir perlawanan, dan memberlakukan perwalian asing.
Ia menegaskan bahwa proyek ini akan gagal, sebagaimana upaya-upaya sebelumnya yang telah gagal selama puluhan tahun perlawanan.
“Lakukan yang terburuk, bekerjasamalah dengan para penjahat paling keji, lepaskan kebrutalan dan kejahatan kalian,” tegas Sheikh Qassem. “Namun kami tidak akan mundur, kami tidak akan menyerah, dan kami akan membela tanah kami.”
Menghormati Pilar Pendiri Perlawanan
Sheikh Qassem membuka pidatonya dengan menghormati Abu Salim sebagai salah satu komandan pendiri perlawanan, yang kehidupannya mencerminkan komitmen awal, kepemimpinan lapangan, kerendahan hati, dan pengabdian kepada kaum tertindas.
Ia menelusuri perjalanan Yaghi sejak keterlibatan awalnya dalam gerakan perlawanan Islam yang terinspirasi oleh Imam Musa al-Sadr, hingga mengemban tanggung jawab organisasi, militer, politik, dan eksekutif tingkat tinggi di dalam Hizbullah. Ia menegaskan bahwa Abu Salim bukanlah pemimpin birokratis, melainkan komandan yang hadir di medan, di tengah rakyat dan para pejuang.
“Perlawanan adalah hidupnya,” kata Sheikh Qassem. “Ia adalah komandan lapangan — dalam demonstrasi, dalam seruan, dalam pengorbanan — sepenuhnya menyatu dengan perjuangan yang hidup.”
Amerika Serikat dan Israel sebagai Sumber Utama Krisis Lebanon
Beralih ke isu politik, Sheikh Qassem menunjuk Washington dan Tel Aviv sebagai penyebab utama dan sentral ketidakstabilan Lebanon.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat mensponsori korupsi, merekayasa kehancuran ekonomi sejak 2019, memberlakukan sanksi, serta menjalankan kontrol politik langsung atas institusi-institusi kunci Lebanon. Sementara itu, Israel disebut terus melakukan agresi tanpa henti, melanggar perjanjian, membunuh warga sipil, menghancurkan infrastruktur, dan mempertahankan pendudukan.
“Amerika yang tiranik dan musuh Israel adalah penyebab utama ketidakstabilan di Lebanon,” ujarnya. “Merekalah sumber krisis, tekanan, dan upaya untuk mengendalikan keputusan Lebanon.”
Pelucutan Senjata adalah Proyek Amerika–Israel
Sheikh Qassem secara tegas menolak seruan untuk melucuti senjata perlawanan atau menerapkan apa yang disebut sebagai “monopoli senjata negara”, dan menyebutnya sebagai proyek Amerika–Israel yang jelas bertujuan membongkar kekuatan pertahanan Lebanon.
“Pelucutan senjata adalah proyek Amerika–Israel,” tegasnya. “Tujuannya adalah mengakhiri kemampuan militer Lebanon, melemahkan masyarakatnya, dan menjadikan negara ini alat yang patuh.”
Ia memperingatkan bahwa agenda ini bertujuan untuk:
Mengakhiri perlawanan dan menetralisir Lebanon secara militer
Melemahkan tulang punggung sosial dan finansial sebagian besar masyarakat Lebanon
Memicu konflik internal, termasuk antara perlawanan dan Angkatan Darat Lebanon
Memungkinkan kelanjutan pendudukan dan agresi Israel
“Siapa pun yang menuntut pelucutan senjata mengikuti irama tekanan Amerika dan Israel tidak bertindak demi kepentingan Lebanon,” katanya.
Perlawanan Mencegah Aneksasi — dan Akan Melakukannya Kembali
Dalam perbandingan historis, Sheikh Qassem membedakan aneksasi Dataran Tinggi Golan oleh Israel — yang terjadi karena ketiadaan perlawanan — dengan Lebanon selatan, di mana puluhan tahun perlawanan mencegah aneksasi dan pada akhirnya memaksa Israel mundur pada tahun 2000.
“Israel menduduki selatan, tetapi tidak mampu menganeksasinya,” katanya. “Empat puluh dua tahun perlawanan menggagalkan ambisinya. Selama perlawanan ada, aneksasi tidak akan terjadi.”
Ia menolak klaim bahwa pendudukan sementara berarti kendali permanen, dan menegaskan bahwa Israel pada akhirnya akan kembali dipaksa mundur.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Mitos ‘Keamanan’ Israel
Sheikh Qassem menuduh Israel secara sistematis melanggar komitmen gencatan senjata, dengan ribuan pelanggaran, pembunuhan, serangan udara, infiltrasi darat, penerbangan pengintaian, dan penculikan di wilayah Lebanon.
Ia menegaskan bahwa Lebanon telah memenuhi kewajibannya, sementara Israel mengabaikan ketentuan-ketentuan utama — termasuk penghentian agresi, penarikan penuh, pembebasan tawanan, dan memungkinkan rekonstruksi.
“Lebanon tidak diwajibkan memberikan konsesi kepada musuh,” katanya.
“Negara juga tidak diwajibkan menjadi polisi bagi Israel.”
“Kami Membela Diri — Bukan Menyerang”
Menegaskan kembali doktrin perlawanan, Sheikh Qassem menekankan bahwa tindakan perlawanan bersifat defensif, sah, dan berakar pada hak untuk melindungi tanah, rakyat, dan kedaulatan.
“Kami bukan kekuatan agresor,” ujarnya. “Kami membela tanah kami, rakyat kami, dan martabat kami. Ini adalah hak yang alami dan sah yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun.”
Ia menyoroti kegagalan pengerahan militer besar-besaran Israel dalam mematahkan garis perlawanan, serta upaya paralel perlawanan untuk melindungi dan memulihkan ratusan ribu keluarga pengungsi meski agresi terus berlanjut.
Syarat untuk Setiap Pembahasan Politik
Sheikh Qassem menutup pidatonya dengan menetapkan syarat-syarat tegas sebelum pembahasan apa pun mengenai pengaturan keamanan nasional dapat dilakukan.
Israel, katanya, harus:
Menarik diri sepenuhnya dari wilayah Lebanon
Menghentikan seluruh agresi darat, laut, dan udara
Membebaskan seluruh tawanan
Mengizinkan rekonstruksi tanpa hambatan
Barulah setelah itu, tegasnya, Lebanon dapat membahas strategi pertahanan nasional dari posisi kedaulatan dan kekuatan.
“Israel mungkin unggul secara militer,” pungkas Sheikh Qassem, “tetapi kami unggul dalam kebenaran kami, tanah kami, dan keputusan kami untuk melawan.” (FG)



