Sheikh Qassem: Perlawanan adalah Esensi Hizbullah, Penjamin Martabat Lebanon
Menandai satu tahun kepemimpinan, Sekjen Hizbullah tersebut menguraikan prinsip-prinsip teguh gerakan, kepemimpinan kolektif, dan komitmen abadi untuk membela Lebanon dari agresi Israel dan AS
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa gerakan ini mewakili proyek strategis komprehensif yang dibangun di atas visi yang jelas untuk menjawab kepentingan rakyat — sosial, ekonomi, dan politik — sekaligus melawan pendudukan dan agresi.
Dalam wawancara eksklusifnya dengan Al-Manar TV, Sheikh Qassem menekankan bahwa perlawanan bagi Hizbullah bukanlah taktik sementara atau pilihan militer yang terbatas, melainkan sebuah jalan hidup yang tertanam dalam identitas gerakan.
“Perlawanan adalah cara hidup yang menyeluruh dan menjadi bagian integral dari esensi gerakan ini. Kami tidak mengenal lelah. Jalan yang ditempuh partai ini kokoh dan teguh, dan menyerah bukanlah pilihan hanya karena keletihan,” ujar beliau.
Semangat Pengorbanan dan Kepemimpinan Kolektif
Sheikh Qassem memuji anggota-anggota Hizbullah yang meneladankan semangat pengorbanan dan keteguhan, dari para pejuang di garis depan hingga keluarga-keluarga yang telah mengorbankan segalanya demi perjuangan.
“Setiap individu dalam Hizbullah membawa semangat pengorbanan diri ini, menghadapi kesulitan dan memberikan segalanya untuk mencapai tujuan, betapapun berat jalannya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan Hizbullah dijalankan berdasarkan asas kolektif dan institusional, dalam koordinasi erat dengan dewan konsultatif dan komunitas perlawanan yang lebih luas.
“Saya tidak sendirian. Partai ini memiliki kepemimpinan kolektif yang terpadu di semua tingkatan, dan itulah sumber kekuatan serta keberhasilannya,” tegas beliau.
Kehadiran di Medan Perang: Kepemimpinan dengan Teladan
Menanggapi pertanyaan tentang perannya selama perang terakhir, Sheikh Qassem menegaskan penolakannya untuk meninggalkan Lebanon atau pindah ke Iran, menekankan bahwa kepemimpinan sejati menuntut kehadiran di samping para pejuang.
Ia menegaskan bahwa tempat seorang komandan adalah di medan perang, memimpin dan bertahan bersama rakyat. Menurut beliau, kepemimpinan yang efektif tidak bisa dipisahkan dari realitas lapangan tempat perlawanan menghadapi agresi.
“Pertempuran Para Pejuang Perkasa”: Sebuah Prestasi Lebanon
Mengenai “Pertempuran Para Pejuang Perkasa”, Sheikh Qassem mengungkapkan bahwa manajemennya sepenuhnya bersifat kolektif dan dilakukan oleh orang-orang Lebanon, dengan koordinasi antara kepemimpinan Hizbullah, dewan konsultatif, dan para komandan lapangan.
Ia memuji peran Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam Iran, yang memberikan bimbingan moral dan strategis sambil menghormati kemandirian pengambilan keputusan Lebanon.
“Semua keputusan dan tindakan sepenuhnya bersifat Lebanon,” kata Sheikh Qassem, menolak klaim Barat dan Israel bahwa Iran memimpin operasi Hizbullah.
Ia menggambarkan pertempuran itu sebagai momen keteguhan yang menentukan, di mana para pejuang Hizbullah berhasil menghentikan kemajuan lebih dari 75.000 tentara Israel, mencegah musuh mencapai Sungai Litani atau mengancam Beirut.
Teladan Hidup dari Perlawanan
Sheikh Qassem menekankan bahwa “Pasukan Al-Rodwan” Hizbullah tetap menjadi bagian penting dari kekuatan keseluruhan perlawanan, dengan pengorbanan yang sama besar dan efektivitas operasional yang terus terjaga.
Ia menunjuk pada besarnya partisipasi publik dalam pemakaman para syahid dan aktivitas kepanduan muda sebagai bukti akar perlawanan yang mendalam dalam masyarakat Lebanon.
“Semua ini adalah bukti hidup dari kehendak rakyat dan fondasi bagi masa depan Lebanon. Keberlanjutan perlawanan bertumpu pada iman dan keteguhan,” ujarnya.
Berbicara langsung kepada para pejuang, Sheikh Qassem menyatakan:
“Kalianlah yang memberi kami semangat dan dorongan. Saya adalah bagian dari kalian, dan saya ingin berdiri di antara kalian sebagai seorang prajurit di garis depan, di jantung medan pertempuran.”
Rakyat: Fondasi Perlawanan
Sheikh Qassem menegaskan kembali bahwa rakyat adalah landasan kekuatan Hizbullah, bahkan lebih penting daripada para pemimpin atau pejuang.
“Dengan kalian, jalan ini menjadi lebih kuat. Kalian adalah bagian yang tak terpisahkan dari perlawanan dan kemenangan-kemenangannya,” kata beliau.
Ia menegaskan bahwa peran Hizbullah bersifat defensif, menghadapi musuh yang berupaya melakukan pemusnahan dan dominasi. Menolak menghadapi agresi semacam itu, katanya, hanya akan memungkinkan ekspansi dan penindasan lebih lanjut.
“Kami tidak memimpin rakyat kami menuju pilihan yang lemah, tetapi menuju keputusan besar yang menjaga martabat dan menjamin masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Sheikh Qassem menyoroti aliansi dan koordinasi yang kuat antara Hizbullah dan Ketua Parlemen Nabih Berri, terutama selama periode agresi Israel. Kedua pihak terus melakukan konsultasi untuk menjaga persatuan dan kepentingan nasional Lebanon.
“Prinsip-prinsip kami selaras, dan hal ini menuntut kami untuk terus bekerja bersama sebagai satu kesatuan untuk melindungi Lebanon,” ujar beliau.
Perlawanan: Pertahanan, Bukan Perang
Sheikh Qassem menegaskan kembali bahwa perlawanan adalah pilihan yang kokoh dan tak tergoyahkan, terlepas dari sumber daya atau keadaan.
“Kami menyatakan kepada seluruh dunia bahwa kami akan tetap menjadi kekuatan perlawanan, bahkan jika yang tersisa hanyalah kuku atau sebatang tongkat, kami tidak akan berhenti,” katanya.
Beliau menegaskan bahwa misi Hizbullah adalah pertahanan — bukan provokasi atau agresi.
“Kami tidak memiliki keputusan untuk memulai perang, tetapi jika konfrontasi dipaksakan kepada kami, kami tidak akan membiarkan musuh Israel melangkah. Kami akan berjuang sampai napas terakhir,” tegasnya.
Beliau mengecam Amerika Serikat dan Israel karena menciptakan krisis Lebanon dan mendorong kawasan menuju ketidakstabilan, sementara Hizbullah tetap menepati komitmennya kepada negara Lebanon selama sepuluh bulan tanpa melancarkan satu serangan pun — membuktikan bahwa perlawanan itu disiplin, bukan ceroboh.
Daya Tangkal dan Koordinasi Nasional
Mengenai daya tangkal, Sheikh Qassem mengatakan bahwa meskipun kekuatan pencegahan tidak sepenuhnya dapat mencegah perang, kekuatan itu memastikan musuh Zionis tidak akan mampu mencapai tujuannya.
“Jika Israel mempertimbangkan untuk melancarkan perang besar, mereka tidak akan mencapai apa pun, dan mereka harus tahu itu sejak awal,” tegasnya.
Ia mendesak negara Lebanon untuk menunaikan tanggung jawab nasionalnya, menekankan bahwa Hizbullah telah menyerahkan tanggung jawab atas kedaulatan dan pertahanan setelah perjanjian gencatan senjata.
“Sepuluh bulan telah berlalu sejak perjanjian itu, dan negara belum bergerak. Negara harus bertanggung jawab. Ini adalah ujian publik bagi semua pihak,” peringat beliau.
Legitimasi Senjata dan Kewajiban Nasional untuk Pertahanan
Sheikh Qassem menegaskan kembali bahwa senjata Hizbullah sah secara nasional — sebagai alat pertahanan dan pembebasan, bukan agresi.
“Pertahanan kami melampaui Lebanon hingga ke Palestina, Suriah, dan Mesir, membentuk satu front bersatu melawan musuh yang ambisinya melampaui batas-batas geografis mana pun,” jelasnya.
Ia menolak seruan untuk membatasi perlawanan hanya di Lebanon selatan, menekankan bahwa Israel tetap menjadi ancaman eksistensial dengan ambisi untuk menundukkan seluruh kawasan melalui perang militer, politik, dan sosial.
“Perlawanan tidak ditentukan oleh geografi, juga tidak diukur dengan keseimbangan kekuatan dengan musuh. Ia adalah keputusan, kedaulatan, dan kehendak nasional,” ujar beliau.
“Bahkan jika hanya satu orang yang tersisa, perlawanan akan terus berlanjut hingga akhir.”
Rekonstruksi: Tanggung Jawab Nasional
Menutup wawancara, Sheikh Qassem menekankan bahwa rekonstruksi adalah kewajiban kemanusiaan sekaligus nasional, menyerukan agar pemerintah Lebanon bertindak tegas.
Beliau memperingatkan bahwa tujuan Israel adalah mencegah keluarga-keluarga pengungsi kembali ke rumah mereka, dengan maksud melemahkan fondasi sosial perlawanan.
“Pemerintah harus bertindak tegas untuk menggagalkan rencana ini, karena jalur permusuhan seperti ini tidak akan membuahkan hasil,” ujarnya.
Dukungan terhadap Pemilu dan Kedaulatan
Sheikh Qassem menegaskan kembali dukungan Hizbullah terhadap pelaksanaan pemilihan parlemen tepat waktu, dengan menyatakan bahwa penundaan hanya melayani kepentingan politik sempit.
“Kami mendukung pemilu untuk menjaga kelangsungan urusan publik dan menunjukkan representasi luas partai di parlemen,” katanya.
Beliau juga menegaskan bahwa hanya hukum Lebanon yang menjadi dasar dalam urusan nasional, menolak segala bentuk campur tangan asing atau Amerika dalam urusan dalam negeri negara tersebut.
“Hukum nasional adalah satu-satunya rujukan dalam berurusan dengan rakyat, dan kemandirian pengambilan keputusan Lebanon harus dijaga,” tutup Sheikh Qassem. (FG)



