Sheikh Qassem: Proyek AS-Israel untuk Hancurkan Iran dan Poros Perlawanan Telah Runtuh
Sekjen Hizbullah menegaskan proyek AS-Israel untuk menghancurkan Iran dan Poros Perlawanan telah runtuh serta menyatakan keberadaan pasukan pendudukan di wilayah Lebanon tidak mungkin dipertahankan
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menyatakan bahwa proyek yang bertujuan menghancurkan Iran, Hizbullah, dan Poros Perlawanan di kawasan telah gagal. Ia menggambarkan periode saat ini sebagai fase baru yang lahir dari kegagalan strategi Amerika-Israel di Asia Barat.
Berbicara dalam majelis Asyura pusat yang diselenggarakan Hizbullah di makam Syahid Umat, Sayyed Hassan Nasrallah, Sheikh Naim Qassem mengatakan kampanye militer Israel terhadap Lebanon dan Iran gagal mencapai tujuan strategisnya meskipun telah menimbulkan kehancuran besar dan serangan berskala luas.
Menurutnya, rezim pendudukan Israel bersama sekutunya berupaya menghancurkan pusat Perlawanan di kawasan melalui perang terhadap Iran, sekaligus berusaha melenyapkan Hizbullah dan berbagai gerakan Perlawanan di seluruh Asia Barat.
Proyek Menghancurkan Iran dan Hizbullah Telah Runtuh
Sheikh Qassem menegaskan bahwa hasil konfrontasi justru berlawanan dengan harapan Israel dan Amerika Serikat.
“Iran muncul lebih kuat meskipun telah memberikan pengorbanan yang sangat besar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Iran membuktikan tidak akan pernah melepaskan hak-haknya dan tetap memainkan peran penting dalam dinamika kawasan.
Sheikh Qassem juga menyoroti kemampuan Hizbullah bertahan setelah syahidnya Sayyed Hassan Nasrallah, gugurnya sejumlah komandan senior, serta serangan militer besar-besaran yang dilancarkan terhadap Lebanon.
Merujuk pada skala konflik, ia mengatakan Iran menghadapi sekitar 25.000 serangan udara, sementara Lebanon menjadi sasaran sekitar 10.000 serangan selama pertempuran yang ia sebut sebagai “Badai Ma’kul”. Namun demikian, Iran dan Poros Perlawanan tetap berdiri teguh.
“Ada proyek untuk melenyapkan Iran, Hizbullah, dan Poros Perlawanan di seluruh kawasan. Proyek itu telah runtuh,” tegasnya.
Menolak Gencatan Senjata yang Memberi Kebebasan Bertindak kepada Israel
Sheikh Qassem menolak berbagai usulan yang mendefinisikan gencatan senjata sebagai kewajiban Hizbullah menghentikan operasi militernya sementara Israel tetap bebas melancarkan serangan, pembunuhan, dan pelanggaran militer.
Menurutnya, pengaturan semacam itu bukanlah gencatan senjata yang sesungguhnya, melainkan kelanjutan dari agresi.
Ia menegaskan bahwa gencatan senjata yang nyata harus mencakup penghentian total operasi militer Israel di udara, darat, dan laut, penghentian penghancuran serta aktivitas pendudukan, dan jadwal yang jelas untuk penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
“Kami tidak akan kembali pada kondisi yang ada sebelum 2 Maret,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Lebanon tidak boleh menerima negosiasi yang hanya menghasilkan konsesi baru sementara Israel terus melanggar kesepakatan yang telah ada.
Trump Mampu Menghentikan Agresi Israel
Mengenai peran Washington, Sheikh Qassem mengatakan tingkat agresi Israel di Lebanon tidak mungkin terjadi tanpa dukungan langsung Amerika Serikat.
Ia menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump memiliki kemampuan untuk memaksa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghentikan operasi militer jika memang menghendakinya.
“Jika Trump memutuskan untuk memaksa Netanyahu, seluruh entitas Israel akan mematuhinya, suka atau tidak,” ujarnya.
Sheikh Qassem juga menyerukan kepada pemerintah Lebanon agar memanfaatkan perkembangan regional, termasuk langkah-langkah Iran dan berbagai instrumen tekanan politik yang tersedia, alih-alih hanya mengandalkan negosiasi dengan Israel.
Keberadaan Israel di Wilayah Lebanon Tidak Mungkin Dipertahankan
Sheikh Qassem kembali menegaskan bahwa tidak ada bentuk kehadiran militer Israel yang akan diterima di wilayah Lebanon dengan alasan apa pun.
“Tidak akan ada zona keamanan bagi Israel dan tidak akan ada posisi pendudukan yang mengawasi Lebanon selama pasukan Israel masih berada di sana,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa hanya Angkatan Darat Lebanon yang berhak bertanggung jawab atas penempatan pasukan dan kedaulatan di wilayah Lebanon. Hizbullah, lanjutnya, mendukung kerja sama dengan tentara nasional.
Sheikh Qassem juga menyatakan keyakinannya bahwa kemunduran Israel pada akhirnya akan datang dari dalam dirinya sendiri. Menurutnya, tindakan-tindakan rezim pendudukan telah merusak posisinya di tingkat internasional dan mempercepat proses keretakan internal.
“Entitas Israel tidak akan tetap berada di Lebanon, seberapa pun besar agresi yang mereka tingkatkan,” katanya.
Menyerukan Persatuan Nasional
Dalam bagian lain pidatonya, Sheikh Qassem menegaskan bahwa Lebanon tidak dapat diperintah melalui dominasi satu kelompok atas kelompok lainnya dan bahwa stabilitas negara bergantung pada hidup berdampingan serta persatuan nasional.
“Tidak akan ada kemenangan satu kelompok Lebanon atas kelompok lainnya. Kami tidak ingin mendominasi siapa pun dan kami juga tidak akan membiarkan siapa pun mendominasi kami,” ujarnya.
Ia juga mendesak otoritas Lebanon agar tidak menempuh normalisasi hubungan dengan Israel dengan mengorbankan sebagian besar rakyat Lebanon. Sebaliknya, ia menyerukan kebijakan yang memulihkan kepercayaan, memperkuat persatuan nasional, memusatkan perhatian pada perlawanan terhadap pendudukan, serta pembangunan kembali negara. (PW)


