Sheikh Qassem: Proyek Penghapusan Hizbullah Gagal, Israel Akan Mundur dari Setiap Jengkal Tanah Kami
Sekretaris Jenderal Hizbullah memaparkan apa yang disebutnya sebagai kampanye 12 poin Amerika Serikat dan Israel terhadap Perlawanan, serta strategi 12 poin Hizbullah untuk menghadapinya.
LEBANON, FAKTAGLOBAL.COM – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menguraikan apa yang ia sebut sebagai kampanye terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel untuk menghancurkan Perlawanan, sekaligus memaparkan strategi 12 poin yang telah disusun Hizbullah untuk menghadapinya. Ia menegaskan bahwa upaya menghapus Hizbullah telah gagal.
Berbicara dalam Dewan Pusat Asyura Hizbullah, Sheikh Qassem mengatakan Lebanon sedang melewati fase paling berbahaya dalam sejarah modernnya. Ia memperingatkan bahwa tekanan militer kini dipadukan dengan tekanan politik, ekonomi, intelijen, dan media yang diarahkan terhadap Perlawanan.
Menurut Sheikh Qassem, kampanye tersebut jauh melampaui operasi militer semata. Tujuannya adalah melemahkan Perlawanan secara politik, ekonomi, dan sosial, sekaligus membentuk masa depan Lebanon sesuai kepentingan Israel.
“Amerika memimpin seluruh orkestrasi dan rencana ini dalam seluruh rincian dan arahannya,” ujarnya.
Sheikh Qassem juga menempatkan konfrontasi saat ini dalam kerangka perjuangan Imam Husain as dan tragedi Karbala. Ia menegaskan bahwa keteguhan, pengorbanan, dan penolakan untuk tunduk kepada kezaliman merupakan fondasi kemenangan sejati.
“Fakta bahwa kami menjadikan Imam Husain sebagai jalan hidup kami adalah kemenangan itu sendiri, karena jalan Islam yang autentik ini adalah jalan kemenangan. Ini merupakan pelaksanaan perintah Allah demi kemaslahatan umat manusia,” katanya.
Menurutnya, kemenangan tidak semata-mata diukur dari hasil pertempuran di medan perang, tetapi juga dari keteguhan memegang prinsip, kesabaran menghadapi tekanan, dan kemampuan untuk terus melanjutkan perjuangan.
Kampanye 12 Poin Melawan Perlawanan
Fokus utama pidato Sheikh Qassem adalah apa yang ia gambarkan sebagai kampanye terkoordinasi untuk menghapus Perlawanan dan perannya di Lebanon.
Menurutnya, strategi tersebut terdiri dari 12 unsur yang saling berkaitan dan dirancang untuk mengisolasi, melemahkan, serta pada akhirnya menghancurkan Perlawanan.
Perang Israel terhadap Lebanon dan upaya memaksa Perlawanan untuk menyerah.
Amerika Serikat dan Israel meninggalkan kesepakatan 27 November setelah perubahan regional yang mengubah keseimbangan kekuatan.
Memanfaatkan institusi politik Lebanon sebagai kedok untuk langkah-langkah yang menargetkan Perlawanan.
Menutup jalur udara, laut, dan darat guna mencegah senjata, teknologi, serta dukungan logistik mencapai Perlawanan.
Menghambat upaya rekonstruksi di wilayah yang terdampak perang.
Menerapkan blokade keuangan secara menyeluruh.
Berupaya memicu konfrontasi antara Tentara Lebanon dan Perlawanan.
Menekan Suriah agar menjadi bagian dari kampanye melawan Perlawanan.
Berupaya memicu ketegangan Sunni-Syiah dan konflik sektarian lainnya di Lebanon.
Menyediakan dukungan politik internasional dan Arab bagi tekanan terhadap Perlawanan.
Mengerahkan jaringan intelijen, media, dan tekanan politik untuk mengisolasi serta melemahkan Hizbullah.
Amerika Serikat bertindak sebagai pengarah dan koordinator utama seluruh kampanye tersebut.
Menurut Sheikh Qassem, seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari satu strategi terpadu yang bertujuan memaksa Perlawanan menyerah dan menghapus perannya dari lanskap politik serta keamanan Lebanon.
Perlawanan yang Dibangun di Atas Pengorbanan
Dalam pidatonya, Sheikh Qassem berulang kali kembali pada pelajaran Karbala. Ia menegaskan bahwa ancaman kematian tidak pernah menjadi senjata yang efektif terhadap gerakan yang dibangun di atas iman dan keyakinan.
“Kami adalah kaum yang tidak takut kepada kematian. Bahkan jika tidak seorang pun dari kami tersisa akibat ancaman kematian, kami tetap akan menunaikan kewajiban kami. Karena itu, kami tidak takut mati,” tegasnya.
Ia menunjuk syahadah Imam Husain as sebagai bukti bahwa pengorbanan tidak identik dengan kekalahan. Menurutnya, pesan Karbala tetap hidup dan membentuk generasi-generasi umat lebih dari empat belas abad setelah peristiwa tersebut.
Sheikh Qassem mengatakan kekuatan Perlawanan tidak hanya bersumber dari kemampuan militernya, tetapi juga dari pandangan hidup yang dibangun di atas keteguhan, keimanan, dan kesiapan berkorban.
Strategi 12 Poin Hizbullah
Selain menjelaskan tantangan yang dihadapi Perlawanan, Sheikh Qassem juga memaparkan strategi 12 poin yang telah diadopsi Hizbullah sebagai respons.
Strategi tersebut mencakup adaptasi militer, restrukturisasi organisasi, dukungan sosial, rekonstruksi, dan perencanaan jangka panjang.
Mempertahankan tujuan yang jelas, yaitu membela Lebanon dan membebaskan wilayah yang diduduki.
Meninjau serta merestrukturisasi organisasi militer dan sistem komando berdasarkan pelajaran dari pertempuran terakhir.
Menyesuaikan doktrin tempur dan taktik medan perang untuk menghadapi konfrontasi di masa depan.
Mengembangkan kemampuan persenjataan dan memperluas program drone.
Menjaga semangat pengorbanan dan keteguhan para pejuang Perlawanan.
Memenuhi kebutuhan sosial masyarakat meski berada dalam kondisi sulit.
Menyediakan bantuan rekonstruksi dan perumahan bagi sekitar 300.000 keluarga terdampak perang.
Menjaga persatuan antara Hizbullah, Gerakan Amal, dan sekutu-sekutunya.
Mengadopsi strategi jangka panjang dan tidak bergantung pada harapan penyelesaian cepat.
Menerapkan prinsip diam dan ambiguitas sambil mempersiapkan konfrontasi di masa depan.
Mempertahankan apa yang disebutnya sebagai “keputusan Karbala”.
Bersabar ketika diperlukan dan bertempur ketika diperlukan, sambil menegaskan bahwa tidak ada jalan kembali ke kondisi sebelum 2 Maret.
“Kami telah mengambil keputusan Karbala. Tahukah Anda apa arti keputusan Karbala? Itu berarti tidak ada batasan, dan keputusan Karbala itu tetap berlaku,” ujarnya.
Menurut Sheikh Qassem, strategi tersebut menunjukkan bahwa Perlawanan telah berhasil beradaptasi dengan perubahan kondisi tanpa kehilangan kohesi organisasi, kesiapan militer, maupun fondasi sosialnya.
Proyek Penghapusan Hizbullah Gagal
Pada bagian akhir pidatonya, Sheikh Qassem menegaskan bahwa meskipun menghadapi tekanan militer, sanksi ekonomi, kampanye politik, dan berbagai perkembangan regional, tujuan utama untuk menghancurkan Perlawanan tetap gagal dicapai.
Ia mengatakan Hizbullah tetap hadir, terorganisasi, dan mampu melanjutkan konfrontasi sambil mempertahankan posisinya di Lebanon.
“Proyek untuk menghapus Hizbullah dan mengokohkan pendudukan telah gagal. Yakinlah bahwa kemenangan, dalam arti yang mengarah pada pengusiran musuh Israel dari tanah kami, akan tercapai, insya Allah,” katanya.
Sekretaris Jenderal Hizbullah itu juga menyatakan keyakinannya bahwa Israel pada akhirnya akan dipaksa mundur dari seluruh wilayah Lebanon yang masih didudukinya.
“Israel akan mundur dari setiap jengkal tanah kami.”
Menutup pidatonya, Sheikh Qassem menyerukan kepada para pendukung Perlawanan agar tetap teguh dan penuh keyakinan. Ia menggambarkan konfrontasi saat ini sebagai bagian dari perjuangan panjang, di mana ketabahan, pengorbanan, dan komitmen terhadap prinsip pada akhirnya akan mengalahkan tekanan dan pemaksaan. (FG)


