Sheikh Qassem Puji Pejuang Hizbullah yang Terluka, Tegaskan Jalan Perlawanan
Pemimpin Hizbullah memaknai luka sebagai simbol kemuliaan, mengecam agresi pimpinan AS dan kejahatan perang Zionis
Lebanon | FAKTAGLOBAL.COM — Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menyampaikan pesan yang kuat untuk memuliakan para pejuang yang terluka, seraya menegaskan bahwa pengorbanan mereka merepresentasikan kemuliaan, keteguhan, dan kepastian kemenangan di hadapan agresi pimpinan Amerika Serikat dan kejahatan Israel.
Dalam pesannya yang ditujukan kepada para pejuang—baik laki-laki maupun perempuan—Sheikh Qassem menyampaikan salamnya kepada putra-putri umat: laki-laki, perempuan, pemuda, dan anak-anak, seraya menggambarkan darah, rasa sakit, dan kesabaran mereka sebagai fondasi moral dari perlawanan.
“Aliran darah mereka adalah cahaya kehidupan, rasa sakit dari luka mereka adalah jeritan kebenaran, dan kesabaran mereka adalah tinta harapan dan kemuliaan,” ujar Sheikh Qassem.
Luka di Jalan Allah dan Pembebasan
Sheikh Qassem menegaskan bahwa para pejuang yang terluka secara sadar memilih jalan Allah dalam membela tanah air dan dalam perjuangan membebaskan tanah serta kemanusiaan. Ia menyatakan bahwa pengorbanan mereka membuktikan nilai kehidupan yang bermartabat, berhadapan dengan kehinaan, ketundukan, dan pengejaran keuntungan dunia yang sementara.
Ia menggambarkan para pejuang yang terluka sebagai sumber kebanggaan yang abadi bagi generasi-generasi mendatang dan bagi seluruh insan merdeka, seraya menekankan bahwa keberadaan mereka menjadi kesaksian moral bahwa perlawanan berakar pada iman, keteguhan, dan pilihan yang sadar.
Terinspirasi oleh Abbas dan Dipandu oleh Imam Khamenei
Menyoroti fondasi spiritual perlawanan, Sheikh Qassem menunjuk Abu al-Fadl al-Abbas (as) sebagai teladan abadi kesetiaan dan pengorbanan. Ia juga merujuk pada luka yang pernah dialami Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, sebagai contoh kepemimpinan yang ditempa oleh perjuangan nyata.
Dalam pesannya, Sheikh Qassem memaknai luka-luka tersebut sebagai bukti bahwa pengorbanan tidak terbatas pada barisan pejuang, tetapi menjangkau hingga tingkat kepemimpinan tertinggi.
Dengan menyebut cedera yang pernah dialami Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, ia membingkai kepemimpinan perlawanan sebagai kepemimpinan yang berbagi rasa sakit dan tanggung jawab, bukan memberi perintah dari posisi yang jauh dari penderitaan.
Rujukan ini memperkuat gagasan bahwa poros perlawanan dipandu oleh figur-figur yang otoritasnya berlandaskan pengorbanan pribadi, kesabaran, dan keteguhan di jalan Allah.
Menghadapi Kezaliman AS dan Agresi Israel
Sheikh Qassem memperingatkan bahwa umat sedang menghadapi konfrontasi besar yang dipimpin oleh kezaliman Amerika, didukung oleh kekuatan Barat, dan dijalankan melalui kebrutalan serta kejahatan perang Israel. Ia memuji keteguhan para pejuang yang terluka, para pejuang di medan, keluarga mereka, dan lingkungan perlawanan secara luas.
Ia mencatat bahwa pasukan perlawanan berhasil melumpuhkan puluhan ribu tentara Israel di sepanjang perbatasan Lebanon selatan, sementara warga sipil segera kembali ke tanah mereka pascagencatan senjata, mempertahankannya dengan iman, kehadiran, dan keteguhan.
Perlawanan Menggagalkan Proyek Amerika
Menurut Sheikh Qassem, perlawanan—dalam pertempuran “Uli al-Ba’s” dan pada seluruh tahapan sebelum dan sesudahnya—telah mengganggu perluasan perampasan tanah dan menggagalkan proyek “Timur Tengah Baru” ala Washington.
Ia menegaskan bahwa bersama perlawanan, tanah akan tetap menjadi milik rakyatnya dan tanah air milik putra-putranya, apa pun skala tekanan dan pengorbanan. Mengutip ayat Al-Qur’an, “Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia” (QS. Ali ‘Imran: 140), ia menegaskan bahwa keteguhan mampu mengubah keseimbangan.
Kemenangan dalam Luka, Kesyahidan, dan Keteguhan
Sheikh Qassem menegaskan bahwa para pejuang yang terluka pulih karena mereka berpijak pada iman dan kebenaran, dan selama jalan yang ditempuh adalah jalan Karbala, Imam Husain (as), dan Hizbullah, maka kemenangan tetap terjamin.
Mengutip kata-kata Martir Sayyed Hassan Nasrallah, ia berkata:
“Ketika kita meraih kemenangan, kita menang; dan ketika kita gugur sebagai syahid, kita pun menang.”
Ia menjelaskan bahwa sebagian meraih kemenangan melalui kesyahidan dengan mewariskan obor kemuliaan kepada yang lain, sebagian melalui luka sembari tetap berada di jalan perjuangan, dan sebagian lagi melalui komitmen berkelanjutan hingga kemenangan yang dijanjikan terwujud.
Sheikh Qassem menutup pesannya dengan menyampaikan salam kepada para pejuang Hizbullah yang terluka—terutama mereka yang terluka dalam serangan pager—beserta keluarga, para perawat, dan para pendukung mereka.
Ia juga memberi penghormatan kepada Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, seraya menyebutnya sebagai pemimpin penuntun dari kafilah ilahiah perlawanan menuju pembebasan dan kemenangan. (FG)



