Siapakah Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei? Sekilas tentang Kehidupan Pemimpin Tertinggi Baru Iran
Sebuah profil tentang Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei, Pemimpin baru Iran, yang mengulas latar belakang keilmuannya, pengalaman revolusioner, serta hubungannya dengan Poros Perlawanan.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Ketika Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei memulai kepemimpinannya sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran, berbagai rincian baru mengenai kehidupan, perjalanan keilmuan, dan perannya dalam Republik Islam mulai terungkap.
Menurut media Iran, Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Pemimpin dan marja’ yang syahid, Grand Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, lahir pada 1969 di Mashhad dan menghabiskan puluhan tahun untuk belajar, mengajar, serta berkontribusi dalam kehidupan intelektual dan religius sistem hauzah Islam.
Ia memulai studi awal keagamaannya di Madrasah Hauzah Ayatullah Mojtahedi Tehrani, dan kemudian bergabung bersama para pejuang Islam selama Perang Pertahanan Suci.
Setelah perang berakhir, ia pergi ke Qom pada tahun 1989 untuk melanjutkan studi keagamaannya dan tinggal di sana hingga awal tahun 1990-an. Ia kemudian kembali ke Tehran selama beberapa tahun sebelum kembali lagi ke Qom untuk menyelesaikan pendidikan hauzah tingkat lanjut.
Kehidupan Awal dan Keluarga
Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei menikah dengan Zahra Haddad Adel, putri dari cendekiawan Iran terkemuka Gholam-Ali Haddad Adel, pada tahun 1997.
Ia dibesarkan dalam keluarga yang sangat terlibat dalam Revolusi Islam serta perjuangan sebelum dan sesudah tahun 1979.
Lingkungan ini membentuk perkembangan intelektual dan revolusionernya.
Studi Keagamaan Tingkat Lanjut
Ia menempuh studi tingkat lanjut di hauzah Qom di bawah bimbingan sejumlah ulama terkemuka, di antaranya:
Ayatullah Ahmadi Mianeh-Ji
Ayatullah Reza Ostadi
Ayatullah Owsati
Kemudian ia mengikuti pelajaran tingkat tinggi fiqh dan usul (dars-e kharij) di bawah sejumlah marja’ dan ulama besar, termasuk:
Grand Ayatullah Sayyed Ali Khamenei
Grand Ayatullah Sheikh Javad Tabrizi
Grand Ayatullah Hossein Vahid Khorasani
Grand Ayatullah Sayyed Mousa Shobeiri Zanjani
Ayatullah Mojtaba Tehrani
Ayatullah Mohammad Momen Qomi
Ia mengikuti pelajaran tingkat tinggi tersebut selama lebih dari tujuh belas tahun, menyusun laporan ilmiah dalam bahasa Arab serta terlibat dalam diskusi dan kritik ilmiah yang mendalam bersama para gurunya.
Kontribusi Keilmuan dan Pendekatan Intelektual
Menurut biografi tersebut, Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei telah menghasilkan berbagai kontribusi ilmiah dalam bidang:
Fiqh (hukum Islam)
Usul al-fiqh (prinsip-prinsip hukum Islam)
Ilmu rijal
Karyanya ditandai dengan fondasi intelektual yang sistematis, ijtihad yang mandiri, serta keterlibatan kritis terhadap tradisi klasik ilmu fiqh.
Kajian-kajiannya juga merujuk pada warisan intelektual para ulama besar seperti:
Sheikh Ansari
Akhund Khorasani
Mirza Naini
Aqa Zia Iraqi
Sayyed Abolhassan Isfahani
Ayatullah Borujerdi
Imam Khomeini
Dalam penelitiannya, perhatian khusus juga diberikan pada karya para sahabat para Imam serta tradisi fiqh para ulama awal Syiah.
Aktivitas Pengajaran
Di samping studinya, Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei juga aktif dalam kegiatan mengajar.
Ia memulai dengan mengajar pelajaran dasar hauzah di Madrasah Mojtahedi di Tehran, kemudian mengajar kitab tingkat lanjut seperti Ma‘alim, sebelum beralih mengajar seri Halqat karya Shahid Sadr.
Di Qom, ia kemudian mengadakan kelas privat tentang Rasa’il, Makaseb, serta berbagai topik fiqh tingkat lanjut termasuk fiqh salat.
Seiring waktu, pelajaran tingkat lanjut yang ia selenggarakan menjadi salah satu yang paling ramai di Hauzah Qom, dengan ratusan pelajar menghadirinya sebelum pandemi COVID-19.
Selama masa pandemi, kelas-kelas tersebut dilanjutkan secara daring.
Kepemimpinan dalam Lembaga Pendidikan
Selain mengajar, Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei juga mendukung serta membantu mendirikan sejumlah lembaga keagamaan dan pusat riset yang berfokus pada penguatan keilmuan revolusioner di Qom.
Lembaga-lembaga ini menggabungkan pendidikan ilmiah dengan keterlibatan sosial, termasuk pelayanan kepada kaum miskin dan pembangunan masyarakat.
Pendekatannya menekankan penguatan sistem hauzah Islam serta warisan intelektual Imam Khomeini dan Ayatullah Sayyed Ali Khamenei.
Pengaruh Spiritual dan Intelektual
Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei juga memiliki hubungan dekat dengan sejumlah tokoh besar dalam bidang spiritualitas dan akhlak Islam, di antaranya:
Ayatullah Bahā’ al-Dinī
Ayatullah Bahjat
Ayatullah Kashmiri
Sheikh Ja‘far Mojtahedi
Hubungan-hubungan ini turut membentuk pandangan spiritual dan etika beliau.
Pengalaman dalam Urusan Negara
Biografi tersebut juga menyebutkan kedekatannya dengan berbagai urusan penting negara melalui interaksi yang erat dengan pejabat senior dan lembaga-lembaga Republik Islam.
Keterlibatannya dengan para cendekiawan dan pakar dari berbagai bidang mencakup diskusi mengenai isu-isu nasional utama seperti:
stabilitas ekonomi
perumahan dan pembangunan yang terjangkau
pengembangan sektor pertanian
inovasi teknologi dan kecerdasan buatan
Diskusi-diskusi ini berkontribusi pada pengembangan gagasan kebijakan serta strategi nasional jangka panjang.
Hubungan dengan Poros Perlawanan
Dimensi penting lainnya dari profilnya adalah hubungannya yang erat dengan para komandan militer dan pemimpin Poros Perlawanan, termasuk:
Sayyed Hassan Nasrallah
Jenderal Syahid Qassem Soleimani
Hubungan-hubungan ini mencerminkan keterlibatannya dalam isu-isu strategis dan regional yang berkaitan dengan perlawanan terhadap dominasi asing.
Target Permusuhan Amerika dan Israel
Biografi tersebut menyatakan bahwa Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei telah lama menjadi target permusuhan dari Amerika Serikat dan rezim Zionis, termasuk upaya pembunuhan karakter serta berbagai usaha untuk menyingkirkannya dari panggung politik.
Menurut laporan tersebut, berbagai upaya tersebut berulang kali gagal, dan ia tetap menjadi sosok berpengaruh dalam Republik Islam.
Publikasi rincian biografis ini muncul ketika Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei memulai kepemimpinannya pada momen yang sangat kritis dalam sejarah Iran, di tengah meningkatnya ketegangan regional dan konfrontasi yang terus berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel. (FG)


