Siklus Pengabaian yang Terus Berulang: Washington Tinggalkan SDF di Suriah
Setelah mengeksploitasi pasukan Kurdi untuk mengamankan minyak dan keunggulan strategis, AS kini menyingkirkan SDF seiring kembali berubahnya prioritas regionalnya
Suriah | FAKTAGLOBAL.COM — Amerika Serikat sekali lagi menunjukkan pola lama dalam kebijakan luar negerinya: meninggalkan sekutu lokal setelah mereka tidak lagi berguna.
Kali ini, Pasukan Demokratik Suriah (SDF)—mitra Kurdi lama Washington di Suriah—secara terbuka disingkirkan ketika AS menata ulang strategi regionalnya.
Perubahan ini dikonfirmasi oleh Utusan Khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, yang menyatakan bahwa peran SDF bersama Amerika Serikat pada dasarnya telah berakhir.
“Tujuan awal SDF sebagai kekuatan utama anti-ISIS di lapangan sebagian besar telah berakhir,” kata Barrack, yang secara resmi menandai penarikan dukungan politik dan strategis Washington.
Dari Mitra Lapangan Menjadi Aset Sekali Pakai
Pernyataan Barrack memperjelas bahwa Amerika Serikat sedang memfasilitasi pengalihan otoritas dari SDF kepada pemerintahan Suriah yang baru di bawah Presiden Ahmad al-Sharaa.
Dalam pernyataan yang dibagikan secara terbuka, utusan AS itu menguraikan sebuah proses di mana SDF melepaskan kendali atas lokasi-lokasi strategis, termasuk kamp penahanan ISIS al-Hol dan wilayah seperti al-Shaddadi, sementara tuntutan politik mereka dikesampingkan.
Menurut Barrack, sebuah kesepakatan yang ditandatangani pada 18 Januari membuka jalan bagi para pejuang SDF untuk diserap ke dalam tentara nasional Suriah serta bagi Damaskus untuk merebut kembali otoritas atas infrastruktur dan tanggung jawab keamanan.
Ia menegaskan bahwa pasukan AS tidak akan mempertahankan kehadiran militer jangka panjang, dengan bersikeras bahwa Washington tidak mendukung separatisme dan akan membiarkan faksi-faksi Kurdi bernegosiasi langsung dengan negara Suriah.
Pesannya jelas: kemitraan AS dengan SDF telah berakhir, dan Washington telah beralih ke agenda lain.
Minyak, Wilayah, dan Eksploitasi Strategis AS
Aliansi AS–SDF tidak pernah semata-mata soal operasi kontra-ISIS. Sejak awal, kemitraan Washington dengan SDF beriringan dengan penguasaan wilayah timur Suriah—terutama Deir Ezzor, al-Hasakah, dan Rumeilan—di mana sebagian besar sumber daya minyak Suriah berada.
Dengan mendukung SDF, Amerika Serikat mengamankan pengaruh atas wilayah-wilayah kaya minyak ini, menutup akses negara Suriah terhadap sumber pendapatan vital, serta mengubah sumber energi menjadi alat tawar politik. Pendapatan minyak menopang administrasi dan pasukan keamanan SDF, memungkinkan Washington mempertahankan pengaruh dengan pengerahan pasukan yang terbatas sambil memberikan tekanan ekonomi terhadap Damaskus.
Pemerintah Suriah berulang kali menuduh pasukan AS dan SDF menyelundupkan minyak Suriah ke Irak, termasuk ke wilayah yang menampung pangkalan militer AS—tuduhan yang dibantah Washington, namun menegaskan bagaimana penguasaan sumber daya terkait erat dengan logistik regional dan infrastruktur militer AS.
Sejak 2017, AS memperdalam dukungannya melalui pasokan senjata, pelatihan, berbagi intelijen, serta penempatan pasukan khusus. Pendanaan Pentagon melalui Counter-ISIS Train and Equip Fund mencapai hampir 434 juta dolar AS antara TA 2024 hingga TA 2026, memperkuat peran SDF sebagai kekuatan proksi yang selaras dengan tujuan strategis AS, bukan dengan kedaulatan Suriah.
Dengan jatuhnya pemerintahan al-Assad dan penyelarasan Washington dengan pemerintahan sementara di bawah al-Sharaa, SDF kini menjadi pihak yang dapat disingkirkan.
Rekam Jejak Pengkhianatan: Dari Afghanistan hingga Suriah
Pengabaian terhadap SDF sesuai dengan pola historis yang lebih luas. Di Afghanistan, pasukan AS mundur secara mendadak pada 2021 setelah dua dekade pendudukan, meninggalkan sekutu lokal dalam kondisi rentan ketika Taliban menyapu negara itu.
Washington memprioritaskan penataan ulang strategis dibanding keselamatan mitra-mitranya, meninggalkan mereka yang telah berjuang dan memerintah di bawah perlindungan AS.
Para pejabat AS kemudian membenarkan penarikan tersebut dengan menunjuk pada persaingan dengan China dan perubahan prioritas global, secara terbuka mengakui bahwa aliansi berada di bawah kalkulasi strategis Washington.
Logika yang sama kini diterapkan di Suriah. Setelah ISIS dikalahkan dan wilayah kaya minyak diamankan, pasukan Kurdi kehilangan nilainya. Fokus Washington bergeser, dan mitra lamanya dibiarkan bernegosiasi demi kelangsungan hidup mereka sendiri.
Pola ini melampaui medan perang. Di Venezuela, tokoh-tokoh oposisi yang sebelumnya dirayakan Washington dengan cepat disingkirkan ketika mereka tidak lagi melayani kepentingan langsung AS. Di Iran, figur-figur monarkis yang dipromosikan di luar negeri diam-diam ditinggalkan ketika ketiadaan legitimasi domestik mereka menjadi beban.
Kekaisaran Tanpa Loyalitas
Amerika Serikat menampilkan dirinya sebagai penjamin keamanan dan stabilitas, namun rekam jejaknya menunjukkan sebaliknya. Sekutu dirangkul saat berguna, dieksploitasi saat diperlukan, dan ditinggalkan tanpa ragu ketika prioritas berubah.
Di Suriah, SDF kini menjadi entri lain dalam daftar panjang kekuatan yang dibuang Washington setelah melayani tujuan AS. Episode ini menegaskan satu kenyataan utama kebijakan luar negeri Amerika: loyalitas bersifat sementara, prinsip mudah berubah, dan keuntungan strategis mengalahkan seluruh komitmen.
Bagi para aktor regional dan gerakan perlawanan, pelajarannya jelas. Ketergantungan pada Washington tidak menjamin perlindungan maupun keberlanjutan—hanya pengabaian yang tak terelakkan ketika kekaisaran itu melangkah pergi. (FG)


