SIMAK! Media Barat, Aktivis Bayaran, dan Rekayasa Narasi tentang Iran
Investigasi mengungkap peran media Barat dalam membentuk narasi Iran melalui jaringan aktivis yang didanai dan diarahkan dari luar negeri
Iran | FAKTAGLOBAL.COM - Sebuah laporan investigatif yang dirilis Al Mayadeen English mengungkap bagaimana media-media Barat secara aktif membentuk narasi global tentang situasi di Iran dengan mengandalkan klaim kelompok yang dilabeli sebagai “aktivis independen”, baik yang berbasis di luar Iran maupun beroperasi di dalam negeri tetapi terhubung dengan pendanaan dan agenda musuh-musuh Iran, terutama Amerika Serikat dan sekutunya.
Laporan tersebut menegaskan bahwa narasi dominan mengenai kerusuhan di Iran bukanlah hasil peliputan lapangan yang netral dan independen, melainkan produk dari ekosistem media dan jaringan aktivis yang diproduksi serta dikelola di luar negeri, lalu diperkuat secara sistematis oleh media Barat.
Organisasi Aktivis yang Diklaim Independen, Namun Tidak Netral
Menurut investigasi Al Mayadeen, sejumlah organisasi yang secara rutin dikutip oleh media Barat tidak beroperasi secara independen di Iran, meskipun terus dipresentasikan sebagai sumber lokal yang kredibel.
Organisasi-organisasi yang disebutkan dalam laporan tersebut antara lain:
HRANA (Human Rights Activists News Agency)
Center for Human Rights in Iran (CHRI)
Abdolrahman Boroumand Center
Tavaana
Laporan tersebut menekankan bahwa sebagian besar organisasi ini berbasis di luar Iran, sementara aktor-aktor yang beroperasi di dalam negeri memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan pendanaan asing. Kondisi ini membuat klaim mereka tidak dapat dipisahkan dari kepentingan politik pihak-pihak yang memusuhi Iran.
Pendanaan AS dan Produksi Klaim Tak Terverifikasi
Al Mayadeen mengungkap bahwa organisasi-organisasi tersebut menerima pendanaan langsung atau tidak langsung dari lembaga-lembaga Barat, termasuk yang terkait dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Fakta ini menempatkan klaim mereka dalam kerangka politik dan propaganda, bukan dalam standar jurnalisme independen.
Laporan tersebut menyoroti bagaimana angka-angka sensasional—termasuk klaim jumlah korban yang besar—diproduksi tanpa metodologi yang transparan, tanpa verifikasi lapangan yang dapat diuji, namun tetap disebarluaskan secara luas oleh media Barat sebagai fakta.
Media Barat sebagai Mesin Amplifikasi Narasi
Investigasi Al Mayadeen menyimpulkan bahwa media Barat berfungsi sebagai mesin utama penguat narasi, bukan sekadar pengamat pasif. Fakta tentang pendanaan asing, lokasi organisasi di luar Iran, serta ketiadaan verifikasi lapangan secara konsisten diabaikan dalam pemberitaan.
Dengan terus menyebut jaringan tersebut sebagai “aktivis independen Iran”, media Barat menyembunyikan realitas bahwa sebagian besar narasi tentang Iran diproduksi dan dikendalikan dari luar negeri, serta diarahkan untuk melayani agenda politik tertentu.
Media Indonesia Mengutip Tanpa Verifikasi
Lebih jauh, FAKTA GLOBAL juga menyoroti rantai penyebaran narasi ini yang meluas hingga ke tingkat regional. Klaim-klaim yang diproduksi oleh jaringan aktivis berbasis luar negeri dan diperkuat media Barat tersebut kemudian dikutip ulang oleh sejumlah media di Indonesia secara mentah, tanpa verifikasi independen dan tanpa penjelasan mengenai latar pendanaan maupun afiliasi sumber.
Praktik ini menjadikan sebagian media Indonesia sekadar perpanjangan tangan narasi Barat, ikut menyebarkan informasi yang telah dibingkai oleh kepentingan asing dan memperlemah prinsip jurnalisme yang bertanggung jawab.
Seruan untuk Jurnalisme yang Bertanggung Jawab
Ini menegaskan bahwa perang informasi terhadap Iran tidak hanya dilakukan melalui tekanan politik dan sanksi, tetapi juga melalui manipulasi media dan produksi narasi. Oleh karena itu, laporan ini menyerukan pentingnya jurnalisme yang berbasis verifikasi, transparansi sumber, dan kemandirian editorial.
Investigasi ini menjadi peringatan bahwa tanpa sikap kritis terhadap sumber dan pendanaan, media berisiko berubah dari penyampai informasi menjadi alat perang informasi yang merusak pemahaman publik. (FG)


