Surat Ayatullah Arafi ke Sheikh Qassem: Anda Persembahkan Citra Gemilang 'Kehendak Tak Terpatahkan' pada Dunia
Ulama senior Iran tersebut memuji perlawanan Lebanon karena mengungkap rapuhnya entitas penjajah, saat keteguhan dan pengorbanan mengubah keseimbangan di lapangan
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Kepala hauzah ilmiah Iran, Ayatollah Ali Reza Arafi, menegaskan bahwa perlawanan di Lebanon telah menampilkan kepada dunia gambaran yang jelas tentang kehendak yang tak terpatahkan.
Ia menekankan bahwa rakyat Lebanon telah membuktikan kemampuan mereka untuk menghancurkan mitos militer dan mengungkap kerapuhan entitas penjajah meskipun memiliki mesin perang yang sangat besar.
Dalam pesan yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, Ayatullah Arafi menyatakan bahwa apa yang terjadi saat ini tidak hanya mencerminkan perkembangan di medan perang, tetapi juga realitas yang lebih dalam yang berakar pada iman, keteguhan, dan janji Ilahi.
Perlawanan Berakar pada Iman dan Keyakinan
Membuka pesannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan dukungan Ilahi bagi kaum beriman, Ayatullah Arafi menulis bahwa suara janji Allah yang tak tergoyahkan melampaui hiruk-pikuk perang, menegaskan bahwa kemenangan tetap merupakan kepastian Ilahi.
Ia menekankan bahwa front perlawanan bergerak maju dengan kepercayaan diri dan keyakinan, berlandaskan hukum Ilahi yang tidak berubah, serta didukung oleh fondasi yang tidak akan runtuh.
Menurutnya, meningkatnya agresi justru menandakan semakin dekatnya kemenangan, sebagaimana sejarah berulang kali membuktikan bahwa keteguhan pada akhirnya akan menang.
Syahadah dan Kepemimpinan Menerangi Jalan
Ayatullah Arafi memberikan penghormatan kepada para syuhada yang membuka jalan kehormatan dan perlawanan, seraya menyoroti tokoh-tokoh utama yang pengorbanannya terus membimbing gerakan.
Ia menggambarkan warisan mereka sebagai sumber wawasan dan arah bagi para pejuang, serta menekankan bahwa darah suci mereka merupakan perjanjian baru untuk terus mengibarkan panji jihad hingga kemenangan tercapai.
Penderitaan Menguatkan Tekad Rakyat
Menanggapi kesulitan yang saat ini dihadapi rakyat Lebanon, Ayatullah Arafi menegaskan bahwa penderitaan tidak melemahkan tekad mereka, melainkan justru memperkuatnya.
Ia menegaskan bahwa perlawanan saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan eksistensial yang dipaksakan oleh martabat bangsa dan haknya untuk merdeka.
Ia juga mencatat bahwa pengorbanan besar para pejuang serta sikap heroik di medan tempur merupakan kelanjutan alami dari sejarah panjang perjuangan dan keteguhan.
Lebanon Menjadi Teladan Keteguhan
Ayatullah Arafi memuji rakyat Lebanon—laki-laki, perempuan, dan para pemuda—karena telah menampilkan model ketahanan yang unik kepada dunia. Ia menyebut bahwa perlawanan rakyat telah menjadi simbol kebanggaan dan sumber inspirasi bagi seluruh bangsa yang mendambakan kebebasan dan martabat.
Ia menegaskan bahwa kekuatan perlawanan tidak hanya terletak pada senjatanya, tetapi pada kehendak hidup rakyat yang mendukungnya dan turut menanggung pengorbanan bersamanya.
Front Selatan Menjadi Ladang Kepahlawanan
Merujuk pada Lebanon selatan, Ayatullah Arafi menyebutnya bukan sekadar wilayah, melainkan jantung yang berdetak dengan kehormatan. Ia menekankan bahwa desa-desa yang menjadi sasaran agresi musuh telah berubah menjadi arena kepahlawanan, tempat warisan pengorbanan terus dituliskan.
Mengutip Al-Qur’an, ia kembali menegaskan bahwa kelompok kecil dapat mengalahkan kekuatan besar dengan izin Allah, seraya menggambarkan konfrontasi yang berlangsung sebagai bagian dari pola Ilahi dan sejarah yang lebih luas.
Mengungkap Kerapuhan Musuh
Menutup pesannya, Ayatullah Arafi menegaskan bahwa perlawanan Lebanon telah menyampaikan pesan kuat kepada dunia: sebuah bangsa dengan kehendak yang tak terpatahkan mampu meruntuhkan mitos militer dan mengungkap kelemahan inheren entitas penjajah, terlepas dari besarnya mesin perang atau kokohnya struktur yang dimilikinya.
Ia menekankan bahwa apa yang disaksikan saat ini bukan sekadar konfrontasi senjata, melainkan perjuangan yang lebih dalam, di mana keteguhan, iman, dan kesabaran mendefinisikan ulang keseimbangan kekuatan.
Teks Lengkap Pesan Ayatullah Arafi
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.”
“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu.”Yang Mulia Mujahid, Sheikh yang terhormat, Sheikh Naim Qassem, Pemimpin Perlawanan Islam di Lebanon (semoga Allah menjaga dan melindunginya),
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Aku menulis kepadamu dari jantung medan pertempuran, di mana api berkobar dan suara artileri menggema di cakrawala. Namun di atas semua kebisingan itu, ada satu suara yang tetap bergema—tak pernah pudar, sebuah janji yang tak dapat dipadamkan oleh asap apa pun: suara hukum Allah yang tak berubah dalam memberikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya yang berjuang:
“Telah menjadi kewajiban atas Kami untuk menolong orang-orang beriman.”
Sesungguhnya janji Allah tidak pernah gagal. Fajar kemenangan semakin dekat seiring semakin gelapnya agresi. Front perlawanan, yang didirikan di atas prinsip-prinsip Ilahi yang diajarkan oleh langit—prinsip yang tidak pernah berubah—terus bergerak maju dengan kepercayaan diri dan keyakinan, karena ia bertumpu pada fondasi yang tidak akan runtuh, di mana pertolongan Allah tidak pernah meninggalkan para kekasih-Nya.
Pada saat ini, kita mengenang dengan penuh penghormatan dan kemuliaan kafilah para syuhada yang telah naik menuju kemuliaan dan kehormatan. Di barisan terdepan mereka berdiri Imam syahid dan pemimpin inspiratif, Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, serta komandan syahid yang mulia, Sayyed Hassan Nasrallah. Kehidupan mereka menjadi visi penuntun yang menerangi jalan para mujahid, kompas bagi perlawanan, dan darah suci mereka tetap menjadi perjanjian yang diperbarui bahwa panji jihad akan terus berkibar hingga janji kemenangan Allah terwujud.
Penderitaan yang dialami rakyat kita hari ini tidak melemahkan tekad mereka—justru memperkuatnya. Perlawanan saat ini bukan lagi pilihan; ia adalah kebutuhan eksistensial yang dipaksakan oleh martabat umat dan haknya untuk merdeka. Pengorbanan besar yang diberikan para mujahid, serta sikap heroik yang ditorehkan oleh para pejuang ini, hanyalah kelanjutan alami dari perjalanan panjang perjuangan dan keteguhan.
Demikian pula, rakyat besar Lebanon—laki-laki, perempuan, dan pemuda yang sabar—telah menampilkan kepada dunia model ketahanan dan keteguhan yang unik, hingga perlawanan rakyat mereka menjadi simbol kebanggaan dan sumber inspirasi bagi semua bangsa yang merindukan kebebasan dan martabat.
Keagungan perlawanan tidak hanya terletak pada senjatanya, tetapi pada kehendak hidup rakyatnya yang memeluknya dan turut menanggung pengorbanan bersamanya. Hari ini, Selatan bukan sekadar tanah—ia adalah jantung yang berdetak dengan kehormatan, kesaksian hidup tentang martabat yang mengalir dalam nadi kemanusiaan yang letih. Desa-desa di Lebanon selatan yang dihantam agresi musuh telah menjadi ladang kepahlawanan, diabadikan oleh putra-putra madrasah kesyahidan.
“Betapa banyak kelompok kecil yang mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.”
Rakyat telah menampilkan kepada dunia citra gemilang dari kehendak yang tak terpatahkan—sebuah bangsa yang mampu menghancurkan mitos militer dan mengungkap kerapuhan entitas tersebut, betapapun besar mesin perangnya atau sekuat apa pun strukturnya. (FG)



