Tentara Suriah Dikirim ke Timur Eufrat, Bentrokan dengan SDF Mungkin Tak Terhindarkan
Perundingan Mandek soal Integrasi, Pergerakan Militer Menandakan Eskalasi
Suriah, FAKTAGLOBAL.COM — Laporan mengenai redeployment militer Suriah di kawasan timur Sungai Eufrat mencuat di tengah runtuhnya pembicaraan politik antara Damaskus dan apa yang disebut Syrian Democratic Forces (SDF), memicu kekhawatiran bahwa konfrontasi bersenjata kian sulit dihindari.
Sumber-sumber yang dekat dengan SDF mengonfirmasi pada Hari Rabu bahwa rencana kunjungan komandan SDF Mazloum Abdi ke Damaskus telah ditunda. Kunjungan yang semula dijadwalkan pada 29 Desember itu disebut tertunda karena “alasan teknis,” tanpa pengumuman tanggal baru secara resmi.
Media yang berafiliasi dengan faksi separatis Kurdi tidak menjelaskan sifat penundaan tersebut. Namun, pengamat kawasan menilai penundaan itu mencerminkan ketiadaan konsensus politik atas isu-isu kunci, terutama masa depan dan status pasukan SDF.
Sengketa Integrasi Militer
Menurut laporan, negosiasi antara Damaskus dan SDF berfokus pada implementasi kesepakatan 10 Maret 2024, yang mengharuskan milisi SDF diintegrasikan ke dalam Tentara Arab Suriah sebagai tiga divisi yang berbasis di Hasakah, Deir ez-Zor, dan Raqqa.
Unit keamanan internal yang dikenal sebagai “Asayish” juga direncanakan untuk diserap ke dalam Kementerian Dalam Negeri Suriah.
Namun, perpecahan dilaporkan masih berlangsung di internal SDF, dengan sejumlah kelompok bersenjata Kurdi menolak integrasi penuh ke dalam tentara nasional. Faksi-faksi ini disebut menentang pembubaran struktur komando otonom mereka, sikap yang menghambat kemajuan dan meningkatkan ketegangan.
Peran Turki dan Tekanan Militan
Sumber regional menyebut Turki memberikan tekanan signifikan untuk menggagalkan pengaturan apa pun yang memungkinkan unit SDF mempertahankan formasi semi-independen dalam kerangka militer Suriah.
Kelompok bersenjata yang didukung Turki di Suriah utara—banyak di antaranya sebelumnya terorganisir di bawah apa yang disebut “Tentara Nasional Suriah”—dilaporkan meningkatkan aktivitas dalam beberapa pekan terakhir, khususnya di sekitar lingkungan Sheikh Maqsoud di Aleppo.
Meski sebagian faksi tersebut secara nominal diserap ke dalam Kementerian Pertahanan Suriah pasca perubahan politik di Damaskus, pergerakan terbaru mereka menunjukkan koordinasi berkelanjutan dengan Ankara, bukan kepatuhan pada komando pusat.
Timur Eufrat dalam Pengawasan Militer
Menurut laporan regional yang dikutip Arab Post, pimpinan SDF telah memantau secara ketat pergerakan tentara Suriah di dan sekitar kawasan sensitif di timur laut Suriah selama beberapa bulan terakhir.
Redeployment ini dipandang oleh para komandan SDF bukan sebagai reposisi defensif, melainkan sebagai persiapan operasi militer potensial jika perundingan benar-benar kolaps.
Pengaruh AS dan Israel di Latar Belakang
Para analis Suriah memperingatkan bahwa kebuntuan ini tidak dapat dipisahkan dari intervensi berkelanjutan Amerika Serikat dan Israel dalam urusan internal Suriah, khususnya melalui dukungan terhadap aktor bersenjata non-negara yang beroperasi di luar otoritas Damaskus.
Mereka berpendapat bahwa dukungan berkepanjangan terhadap milisi separatis telah merusak upaya rekonsiliasi politik dan secara langsung berkontribusi pada kembalinya ketidakstabilan di Suriah timur.
Menuju Konfrontasi
Dengan perundingan yang mandek, faksi-faksi bersenjata yang mengakar, serta aktor eksternal yang membentuk medan pertempuran dari balik layar, para pengamat politik menilai kondisi di lapangan mengarah pada eskalasi yang berpotensi cepat berubah menjadi konfrontasi terbuka.
Pejabat Suriah belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai operasi yang akan segera dilakukan. Namun, perkembangan di lapangan mengindikasikan Damaskus tengah meninjau ulang pendekatannya di tengah tanda-tanda kuat bahwa penyelesaian negosiasi dengan pasukan SDF mungkin tidak lagi layak. (FG)



