Tentara Suriah Rebut Ladang Minyak dari SDF di Dekat al-Tabqah
Pasukan pemerintahan sementara menguasai situs-situs energi strategis dari SDF yang didukung AS di tengah meningkatnya ketegangan dan ancaman sanksi baru dari Amerika
Suriah | FAKTAGLOBAL.COM — Tentara Suriah telah mengambil alih kendali atas sejumlah ladang minyak penting di dekat kota al-Tabqah di Distrik Raqqa, yang sebelumnya dikuasai oleh Syrian Democratic Forces (SDF) yang didukung Amerika Serikat. Langkah ini menandai upaya signifikan Damaskus untuk kembali menegaskan otoritasnya atas aset energi strategis di Suriah utara.
Menurut penyiar pemerintah Suriah Al-Ekhbariya, pasukan pemerintah sementara berhasil menguasai ladang minyak Safyan dan al-Tharwa, serta persimpangan strategis al-Rusafa, sebuah simpul transportasi utama di dekat al-Tabqah.
Mengutip sumber militer, penyiar tersebut melaporkan bahwa pengambilalihan itu terjadi setelah pengerahan unit-unit Tentara Suriah ke sejumlah wilayah di Distrik Raqqa pada Sabtu pagi, kawasan yang selama bertahun-tahun berada di bawah kendali SDF dengan perlindungan Amerika Serikat.
Bentrokan Kembali Terjadi Saat Damaskus Menantang Kendali SDF
Penguasaan tersebut terjadi di tengah ketegangan baru antara Damaskus dan pasukan pimpinan Kurdi, dengan bentrokan kembali pecah pekan lalu di pinggiran Sheikh Maqsoud dan Ashrafiyeh di Aleppo, tak lama setelah gencatan senjata diumumkan.
Pasukan Kurdi menuduh Tentara Suriah mengepung kawasan tersebut dan mempersiapkan serangan menggunakan tank, sementara Damaskus menyatakan bahwa pejuang SDF justru menembaki koridor evakuasi, sehingga merusak pengaturan gencatan senjata.
Setelah transisi politik di Suriah pada Desember 2024, distrik-distrik berpenduduk Kurdi seperti Sheikh Maqsoud dan Ashrafiyeh tetap berada di bawah kendali SDF. Penarikan kelompok bersenjata Kurdi dari kawasan tersebut dimulai pada April berdasarkan kesepakatan dengan pemerintah Suriah, namun pelaksanaannya tetap rapuh.
Pengambilalihan terbaru atas infrastruktur minyak di dekat al-Tabqah menyoroti pergeseran keseimbangan kekuatan di Suriah utara, ketika Damaskus bergerak untuk merebut kembali kendali atas sumber daya energi dan jalur transportasi yang selama ini dilindungi oleh kehadiran militer Amerika Serikat.
Washington Merespons dengan Peringatan dan Ancaman Sanksi
Seiring dengan kemajuan pasukan Suriah, Amerika Serikat bergerak cepat mengeluarkan peringatan.
Dalam pernyataan yang dirilis pada 17 Januari 2026, Komandan US CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyerukan agar pasukan pemerintah Suriah menghentikan operasi di wilayah antara Aleppo dan al-Tabqah, serta menuntut koordinasi dengan pasukan AS dan koalisi dengan dalih memerangi ISIS.
“Kami mendesak pasukan pemerintah Suriah untuk menghentikan setiap tindakan ofensif di wilayah antara Aleppo dan al-Tabqah,” kata Cooper, seraya menambahkan bahwa Washington menuntut kelanjutan pengawasan AS di Suriah utara.
Pejabat senior Amerika juga memperingatkan bahwa sanksi Caesar Syria ‘Civilian Protection Act’ dapat kembali diberlakukan jika Damaskus melanjutkan operasi militer terhadap SDF, menurut laporan The Wall Street Journal.
Pejabat AS mengklaim bahwa operasi tersebut akan memecah mitra lokal Washington dan mengancam keamanan fasilitas penahanan yang menampung ribuan tahanan ISIS—fasilitas yang hingga kini berada di bawah kendali SDF dengan dukungan AS, bukan di bawah otoritas negara Suriah.
Senator AS Lindsey Graham menggemakan peringatan tersebut, menyatakan bahwa ia “semakin khawatir” atas apa yang ia sebut sebagai koordinasi antara Damaskus dan Turki melawan pasukan Kurdi, serta mengancam akan menjatuhkan sanksi “menghancurkan” jika operasi Suriah terus berlanjut.
Damaskus Keluarkan Peringatan Jelang Operasi Lanjutan
Sementara itu, pasukan pemerintah sementara Suriah mengeluarkan peringatan tegas pada Jumat menjelang rencana serangan terhadap kota Deir Hafer, di sebelah timur Aleppo.
Dalam pernyataan resmi, Kementerian Pertahanan sementara Suriah menyatakan akan menargetkan lokasi-lokasi tertentu di Deir Hafer yang diidentifikasi sebagai titik peluncuran apa yang mereka sebut sebagai operasi teroris terhadap Aleppo dan wilayah pedesaan timurnya, serta mengimbau warga sipil untuk menjauh dari area tersebut.
Peringatan itu menyusul beberapa hari pengerahan bala bantuan Tentara Suriah di sekitar Deir Hafer, setelah pasukan pemerintah mengusir SDF dari kota Aleppo pekan lalu. Sumber-sumber lokal Suriah kemudian melaporkan serangan roket intensif yang menargetkan posisi SDF di dalam dan sekitar kota tersebut.
Ketika Damaskus terus melaju di lapangan, Washington merespons dengan ancaman sanksi dan tekanan militer, menegaskan semakin melebar dan mendalamnya konfrontasi antara otoritas negara Suriah dan struktur kekuasaan paralel yang didukung Amerika Serikat di Suriah utara. (FG)


