The Economist: Perang Iran Dapat Lemahkan Kekuatan Militer AS Bertahun-Tahun
Penggunaan amunisi yang belum pernah terjadi sebelumnya, tekanan pada sistem pertahanan dalam perang Iran, melemahkan kesiapan militer AS selama bertahun-tahun serta mengurangi kemampuan hadapi rival
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Menurut laporan The Economist, skala pengeluaran militer dan penggunaan amunisi Amerika Serikat dalam perang melawan Iran telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perkiraan menunjukkan bahwa militer AS menggunakan lebih dari 5.000 unit amunisi berbagai jenis dalam empat hari pertama perang, dan sekitar 11.000 dalam 16 hari pertama.
Mengutip analisis para peneliti dari Payne Institute di Colorado, laporan tersebut menggambarkan kampanye ini sebagai “kampanye udara pembuka paling intens dalam sejarah modern,” bahkan melampaui tiga hari pertama pemboman NATO di Libya pada tahun 2011.
Peringatan Vance Terbukti Benar
Artikel tersebut mengingatkan kembali pernyataan J.D. Vance dalam Konferensi Keamanan Munich tahun 2024, ketika ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan beberapa konflik sekaligus di Eropa Timur, West Asia, dan berpotensi di Asia Timur.
Kini sebagai Wakil Presiden, peringatan Vance tampak terbukti. Perang yang dilancarkan Presiden Donald Trump terhadap Iran telah memberikan tekanan besar pada kekuatan militer AS yang sudah terbebani, sehingga mengurangi kesiapan mereka menghadapi potensi konflik di Asia. Dampak jangka panjang dari apa yang disebut sebagai “Operation Epic Wrath” diperkirakan akan berlangsung selama bertahun-tahun.
Deplesi Pertahanan Udara dan Keterbatasan Pasokan
Laporan tersebut menyoroti bahwa tantangan terbesar terletak pada sistem pertahanan udara. Gelombang awal serangan rudal dan drone Iran telah secara signifikan menguras stok interceptor yang dimiliki AS dan sekutunya.
Dalam minggu pertama perang saja, AS dilaporkan menembakkan sekitar 140 interceptor Patriot dan lebih dari 150 interceptor THAAD. Namun, cadangan tersebut memang sudah terbatas bahkan sebelum konflik dimulai.
Penggantian sistem-sistem ini dapat memakan waktu bertahun-tahun. Biaya penggantian amunisi yang digunakan hanya dalam empat hari pertama diperkirakan mencapai antara 20 hingga 26 miliar dolar—namun masalah utamanya bukan biaya, melainkan kelangkaan.
AS juga dilaporkan menggunakan lebih dari 300 rudal Tomahawk pada hari-hari awal perang, padahal tingkat pengadaan tahunan hanya sekitar 57 unit. Pengiriman interceptor THAAD bahkan telah dihentikan sejak 2023, tanpa adanya pesanan baru.
Hambatan Industri dan Risiko Rantai Pasok
Meskipun Pentagon memiliki rencana untuk meningkatkan produksi, Kongres belum mengalokasikan dana yang diperlukan. Sementara itu, rantai pasok industri pertahanan menghadapi kendala serius.
Beberapa komponen penting hanya diproduksi oleh satu atau dua perusahaan, sementara komponen lainnya bergantung pada bahan mentah yang dikendalikan oleh China—menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan jangka panjang.
Tekanan pada Angkatan Laut dan Personel
Meskipun sumber-sumber AS mengklaim kerugian pesawat dan drone relatif terbatas, laporan tersebut menekankan bahwa keausan peralatan dan kelelahan operasional jauh lebih serius—terutama di Angkatan Laut.
Dari 11 kapal induk milik AS, hanya beberapa yang siap operasional pada waktu tertentu. Beberapa di antaranya telah dikerahkan dalam waktu yang sangat lama, bahkan mencatat rekor baru dalam durasi operasi.
Tekanan operasional disebut “sangat jelas terlihat.” Menurut The New York Times, satu kapal induk mengalami kebakaran selama 30 jam, membuat ratusan pelaut kehilangan tempat tidur. Seorang mantan pejabat Pentagon menggambarkan situasi ini seperti “mengemudi dengan kecepatan 320 km/jam selama berbulan-bulan tanpa mengganti oli.”
Konsekuensi Strategis dan Melemahnya Daya Tangkal
Laporan tersebut memperingatkan bahwa tekanan berkelanjutan dapat menciptakan “kekosongan kehadiran kapal induk,” yaitu periode ketika AS tidak mampu mengerahkan kapal induk di wilayah-wilayah strategis.
Personel juga mengalami kelelahan berat, yang berpotensi memicu masalah keluarga dan peningkatan risiko bunuh diri.
Selain itu, perang ini membuka taktik militer AS—informasi yang dapat dimanfaatkan oleh China dalam potensi konflik terkait Taiwan.
The Economist menyimpulkan bahwa meskipun Vance dan pihak lain sebelumnya menekankan pentingnya menjaga sumber daya untuk menghadapi China, perang Iran justru mengalihkan kekuatan dari Asia dan melemahkan kesiapan militer. Seperti yang disampaikan oleh salah satu pakar:
“Tidak ada cara untuk menyembunyikan kenyataan—tingkat konsumsi amunisi dan melemahnya pertahanan rudal AS dapat merusak daya tangkal di Pasifik hingga akhir dekade ini.” (FG)



