The Independent: Operasi “Kemarahan Besar” Trump ke Iran Bisa Berubah Jadi Kegagalan Besar
Surat kabar Inggris peringatkan kampanye militer Trump terhadap Iran berisiko alami kegagalan strategis, reaksi politik, dan perdalam krisis domestik di tengah meningkatnya kritik di dalam negeri
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Surat kabar Inggris The Independent telah menerbitkan sebuah analisis yang berpendapat bahwa operasi militer terbaru Amerika Serikat terhadap Iran, yang oleh Presiden Donald Trump disebut sebagai “epic rage”, kemungkinan akan berubah menjadi kekalahan strategis dan politik baginya.
Dalam artikel yang diterbitkan pada hari Senin tersebut, kolumnis Sean O’Grady berpendapat bahwa intervensi itu — yang menurut pejabat telah menimbulkan korban jiwa — tidak mendapat dukungan publik dan bahkan menuai kritik dari dalam lingkaran politik Trump sendiri.
Menurut analisis tersebut, alih-alih menunjukkan kekuatan, eskalasi itu justru berisiko memicu reaksi balik di dalam dan luar negeri terhadap pemerintahan tersebut.
Kontradiksi Tahun 2012 Kembali Muncul
Tema utama artikel tersebut menyoroti apa yang digambarkannya sebagai kontradiksi mencolok antara sikap Trump di masa lalu dan sekarang. Pada tahun 2012, ketika Barack Obama mencalonkan diri kembali sebagai presiden, Trump berulang kali menuduhnya melalui media sosial berencana melakukan aksi militer terhadap Iran atau Libya untuk mengalihkan perhatian dari menurunnya popularitas dan meningkatkan peluang elektoral.
Pada saat itu, Trump memperingatkan bahwa “memulai perang demi keuntungan elektoral adalah sebuah pengkhianatan,” serta mengimbau Partai Republik agar tidak terjebak dalam taktik semacam itu.
Empat belas tahun kemudian, menurut The Independent, Trump justru melakukan jenis petualangan militer yang dahulu ia kecam. Dengan jajak pendapat yang dilaporkan menunjukkan penurunan tingkat persetujuan dan pemerintahan yang menghadapi inflasi serta krisis domestik, artikel tersebut menyebut kampanye terhadap Iran digunakan untuk memproyeksikan kekuatan dan menggalang perhatian publik.
Kritik dari Dalam dan Risiko Politik ke Depan
Operasi tersebut dilaporkan gagal memperoleh dukungan luas dari publik Amerika dan juga memicu kegelisahan di kalangan konservatif. Wakil Presiden J.D. Vance tetap diam terkait konflik ini, sementara sejumlah komentator konservatif AS menggambarkan langkah tersebut sebagai tindakan yang lebih melayani Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu daripada kepentingan nasional Amerika.
Kurt Mills, direktur eksekutif The American Conservative, menyebut operasi itu sebagai “pelayanan bagi kaum kaya dan perang yang diluncurkan untuk negara-negara asing,” serta memperingatkan bahwa hal itu dapat menguntungkan Partai Demokrat secara politik.
Salah satu momen paling kontroversial yang disoroti dalam analisis tersebut adalah respons Trump terhadap tewasnya tiga prajurit Amerika dalam konflik itu.
Dalam pernyataan yang memicu kritik media, ia mengatakan, “Kita mungkin akan menderita lebih banyak korban… begitulah perang.” Para komentator mengaitkan pernyataan itu dengan tuduhan sebelumnya mengenai sikap tidak hormat terhadap anggota militer AS.
Artikel tersebut menyimpulkan bahwa Trump kini berada dalam posisi yang mirip dengan Obama pada tahun 2012 — namun, berbeda dengan pendahulunya, ia mungkin tidak mampu memanfaatkan krisis ini untuk memperkuat posisinya.
Sebaliknya, eskalasi tersebut dapat membawa konsekuensi politik serius, termasuk potensi upaya pemakzulan atau keruntuhan politik yang lebih luas. (FG)


