The New Yorker Ejek Trump: Kemarahan Epik Jadi Bencana Epik
Sebuah analisis besar menyebut Washington gagal mencapai tujuan utamanya terhadap Iran, sementara Teheran justru tampil lebih tangguh, berpengaruh, dan dominan secara regional
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Majalah The New Yorker menerbitkan sebuah analisis besar yang menggambarkan perang AS-Israel terhadap Iran sebagai bencana strategis bagi Presiden Donald Trump, dengan menyatakan bahwa Washington gagal mencapai tujuan utamanya meskipun telah terjadi berbulan-bulan konfrontasi mahal dan kehancuran besar-besaran.
Dalam artikel berjudul “The Epic Disaster of Operation Epic Fury,” jurnalis senior Asia Barat Robin Wright menulis bahwa perang yang awalnya diluncurkan dengan ambisi besar kini berakhir dengan Amerika Serikat bergerak menuju kesepakatan yang lemah dan terbatas, jauh dari tujuan awal yang diumumkan.
Menurut laporan tersebut, Amerika Serikat dan rezim Zionis memasuki konflik dengan tujuan menghancurkan sepenuhnya program nuklir Iran, memutus dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok Perlawanan di kawasan, bahkan membuka jalan bagi perubahan rezim di Republik Islam Iran.
Namun setelah berbulan-bulan perang, kerugian miliaran dolar, gangguan terhadap pasar energi global, dan meningkatnya tekanan internasional, Washington kini dilaporkan justru sedang menegosiasikan kesepakatan dengan Teheran yang memberikan konsesi jauh lebih sedikit dibanding kesepakatan nuklir yang ditinggalkan Trump sendiri pada tahun 2018.
Iran Bertahan, AS Gagal Mencapai Tujuannya
Robin Wright menulis bahwa perang Trump sejauh ini telah menghabiskan sedikitnya 28 miliar dolar AS, menewaskan ribuan warga Iran dan sejumlah personel Amerika, memicu dampak ekonomi global yang serius, serta merusak kredibilitas internasional Washington.
Meski menghadapi serangan besar-besaran, Iran berhasil mempertahankan sistem politik dan posisi strategisnya.
Laporan tersebut menegaskan bahwa Teheran sedang “memainkan permainan jangka panjang,” sementara pemerintahan Trump menghadapi tekanan domestik yang terus meningkat menjelang pemilu sela AS dan membesarnya ketidakpuasan publik terhadap perang.
Sejumlah mantan pejabat AS yang dikutip dalam laporan itu menyatakan bahwa negosiasi saat ini gagal menjawab banyak alasan utama yang sebelumnya digunakan Washington untuk membenarkan perang melawan Iran.
Barbara Leaf, mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Barat, menyatakan bahwa negosiasi saat ini bahkan tidak menyentuh sejumlah alasan utama yang sebelumnya digunakan Washington untuk melancarkan perang, termasuk kemampuan rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok Perlawanan regional.
Menurut laporan tersebut, Teheran justru tetap mempertahankan pengaruhnya di seluruh kawasan sambil terus memaksakan syarat-syarat baru dalam negosiasi.
Pengaruh Regional Iran dan Pengaruh Hormuz Meningkat
Artikel tersebut menyoroti kemampuan Iran dalam memberikan tekanan luar biasa melalui Selat Hormuz, dengan menggambarkan langkah Teheran sebagai bentuk “keberanian” yang memberikan posisi tawar besar terhadap Amerika Serikat dan ekonomi global.
Laporan itu mencatat bahwa hampir dua ribu kapal yang membawa aset bernilai miliaran dolar terjebak di Teluk Persia selama berbulan-bulan setelah gangguan maritim meningkat akibat konflik.
Menurut The New Yorker, para pejabat Iran kini sedang membahas protokol maritim baru dengan Oman dan bahkan telah mengangkat kemungkinan penerapan biaya serta regulasi baru bagi kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut.
Artikel itu menekankan bahwa Teheran kini mengetahui bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berulang kali mengganggu navigasi di Selat Hormuz dengan biaya besar bagi Washington dan sekutunya.
Robin Wright juga menyoroti penilaian sejumlah analis Israel yang mengakui bahwa perang tersebut justru mungkin melemahkan daya gentar terhadap Iran.
Mantan spesialis intelijen militer Israel Danny Citrinowicz memperingatkan bahwa Iran berhasil bertahan dari konfrontasi militer terbesar dalam sejarah modernnya dan muncul dengan keyakinan lebih besar bahwa Republik Islam mampu bertahan bahkan di bawah tekanan militer masif.
Laporan itu juga mencatat bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran kini memegang pengaruh yang lebih besar dalam struktur politik dan militer Iran pasca perang.
Perpecahan Internal AS Makin Dalam
The New Yorker juga menyoroti meningkatnya perpecahan di dalam Amerika Serikat terkait penanganan perang dan negosiasi Iran oleh Trump.
Sejumlah tokoh Partai Republik dilaporkan mengkritik kesepakatan yang sedang dibahas dengan Iran dan memperingatkan bahwa Washington sedang menyerahkan hasil-hasil yang diperoleh di medan perang.
Mark Dubowitz, salah satu tokoh garis keras anti-Iran di Washington, mengakui bahwa jika laporan mengenai kesepakatan itu benar, maka “rezim sekarang memenangkan gencatan senjata.”
Mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga menyerang pendekatan Trump dan mendesak Washington untuk melanjutkan tekanan maksimum terhadap Iran alih-alih bergerak menuju kompromi.
Pada saat yang sama, laporan itu menggambarkan inisiatif diplomatik Trump di kawasan semakin terlepas dari realitas di lapangan.
Artikel tersebut menyindir usulan Trump untuk menghubungkan berakhirnya perang dengan perluasan Abraham Accords, dengan mencatat bahwa sejumlah pemerintah regional bereaksi dengan apa yang disebut mantan pejabat AS sebagai “keheningan yang terkejut.”
Iran Muncul Lebih Solid Setelah Perang
Mungkin kesimpulan paling penting dari artikel tersebut adalah penilaiannya bahwa perang pada akhirnya justru memperkuat kohesi internal Republik Islam Iran, bukan melemahkannya.
Barbara Leaf menyatakan bahwa Trump telah meremehkan “ketahanan rezim,” sementara konflik itu sendiri justru membuat struktur kepemimpinan Iran menjadi “lebih solid.”
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun menghadapi pengorbanan dan kehancuran besar, Iran berhasil bertahan dari kampanye militer penuh skala AS-Israel sambil tetap mempertahankan struktur negara, kemampuan strategis, dan pengaruh regionalnya.
Sebaliknya, Washington kini menghadapi kritik global yang meningkat, perpecahan politik domestik yang semakin dalam, dampak ekonomi akibat perang, serta negosiasi yang tampak jauh lebih lemah dibanding tujuan yang diumumkan pada awal konflik. (FG)



