The Telegraph: Kekuatan Militer Iran Paksa Washington Mundur
Laporan ini membongkar bagaimana keterbatasan kesiapan militer AS dan daya gentar Iran membuat Washington tak mampu melancarkan serangan penentu.
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Sebuah laporan yang diterbitkan oleh The Telegraph secara tidak langsung menegaskan sesuatu yang gagal dihancurkan oleh bertahun-tahun tekanan, sanksi, dan ancaman: Iran tetap menjadi kekuatan militer dan politik yang menentukan, mampu menangkal agresi langsung Amerika Serikat.
Terlepas dari retorika keras Washington dan sinyal berulang tentang serangan yang “akan segera terjadi”, Amerika Serikat pada akhirnya mundur—bukan karena diplomasi atau pengendalian diri, melainkan karena tidak memiliki kapasitas untuk menjamin kemenangan atas Iran dan takut pada skala balasan yang akan ditimbulkan.
Iran Berdiri Teguh saat Tekanan AS Runtuh
Ketika Donald Trump secara terbuka memberi sinyal kesiapan untuk menyerang Iran, realitas di lapangan justru bergerak ke arah sebaliknya. Laporan tersebut mengakui bahwa negara Iran saat ini tampak lebih terkonsolidasi dibandingkan kapan pun sejak kerusuhan dimulai.
Aksi-aksi unjuk rasa pro-pemerintah memenuhi jalan-jalan Teheran. Aparat keamanan kembali menguasai situasi. Narasi tentang keruntuhan internal yang akan segera terjadi—yang selama ini dipromosikan oleh Washington dan sekutunya—tidak pernah terwujud.
Tanpa destabilisasi internal yang berkelanjutan, strategi Amerika kehilangan salah satu pilar utamanya.
Daya Gentar Rudal: Tulang Punggung Strategis Iran
Laporan tersebut menegaskan bahwa Iran memiliki arsenal rudal besar yang mampu menghantam aset militer AS di seluruh Asia Barat, termasuk pangkalan-pangkalan di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, dan Arab Saudi.
Perkiraan yang dikutip menyebutkan sekitar 1.750 rudal balistik jarak pendek, termasuk sistem Fateh-110, Fateh-313, Zolfaghar, dan Qiam-1. Senjata-senjata ini dirancang untuk serangan saturasi—tepat jenis serangan yang menekan dan melumpuhkan sistem pertahanan udara.
Kenyataan ini secara serius membatasi opsi militer Washington. Setiap serangan terhadap Iran akan langsung memicu pembalasan yang luas dan segera.
Otot Militer Amerika yang Absen
Pengakuan paling mencolok dalam laporan The Telegraph justru menyangkut kondisi postur militer Amerika Serikat.
Saat Trump melontarkan ancaman-ancamannya, Amerika Serikat hanya memiliki:
Tiga kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir di kawasan
Tidak satu pun gugus tempur kapal induk yang dikerahkan ke Asia Barat
Jumlah F-22 dan F-35 yang sangat terbatas di wilayah tersebut
Kapal-kapal induk justru ditempatkan di Jepang, Laut Cina Selatan, dan lepas pantai Venezuela—menunjukkan postur global Washington yang terlalu teregang.
Bahkan The Telegraph mengakui bahwa tanpa kapal induk, Amerika Serikat tidak memiliki kapasitas untuk menjalankan kampanye udara yang berkelanjutan atau menentukan terhadap Iran.
Israel dan Negara-Negara Teluk: Diam-Diam Menyerukan Penahanan Diri
Berlawanan dengan asumsi publik, baik Israel maupun negara-negara Teluk kunci mendorong Washington untuk menahan diri.
Pemerintah-pemerintah Arab—meskipun bermusuhan dengan Iran—memahami bahwa pembalasan Iran akan langsung menghantam wilayah mereka, pangkalan militer, dan infrastruktur energi. Mereka lebih memilih pengekangan ketimbang konfrontasi.
Posisi Israel juga sama-sama terikat. Laporan tersebut mencatat kekhawatiran mendalam di kalangan militer Israel terkait kekurangan interceptor. Selama konflik Juni, pertahanan Israel dilaporkan menghabiskan rudal interceptor setara dua tahun kapasitas produksi.
Seiring berjalannya kampanye, rudal-rudal Iran semakin sering menembus pertahanan udara Israel—menimbulkan keraguan serius atas kemampuan Israel bertahan dalam pertukaran serangan berkepanjangan lainnya.
Mitos “Serangan Terbatas”
The Telegraph membongkar ilusi tentang serangan AS yang bersih dan simbolik.
Bahkan operasi terbatas sekalipun akan menuntut penekanan besar-besaran terhadap pertahanan udara Iran, dukungan logistik masif, dan perlindungan dari pembalasan. Setiap operasi yang melibatkan pilot akan melipatgandakan risiko politik dan militer, termasuk kemungkinan penangkapan personel AS.
Laporan tersebut mengingatkan bahwa satu kali serangan pembom siluman AS ke Fordow memerlukan lebih dari 125 pesawat pendukung—sebuah gambaran nyata tentang skala kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi Iran.
Pergantian Rezim: Tidak Realistis Secara Militer
Laporan itu secara terbuka mengakui bahwa pergantian rezim melalui serangan udara tidaklah memungkinkan.
Iran memiliki:
Hampir 500.000 personel militer aktif
Tambahan 500.000 pasukan cadangan
Sekitar 200.000 anggota IRGC
Hampir satu juta anggota Basij dan kepolisian
Tidak seperti Libya pada 2011, Iran bukan negara terpecah yang bergantung pada kekuatan udara asing. Upaya serius untuk menggulingkan sistemnya akan memerlukan perang darat—sebuah opsi yang tidak mungkin.
Daya Gentar, Bukan Diplomasi
Terlepas dari upaya Trump dan para utusannya membingkai jeda ini sebagai keberhasilan diplomatik, fakta-fakta yang dipaparkan The Telegraph menunjukkan cerita yang berbeda.
Kesiapan militer Iran, daya gentar rudal, kohesi internal, dan kemampuan membalas menyingkap batas-batas kekuatan Amerika. Dengan kekuatan yang tidak memadai di lapangan dan tanpa jaminan keberhasilan menentukan, Washington ragu.
Ini bukan penahanan diri yang lahir dari prinsip, melainkan daya gentar yang dipaksakan oleh realitas. Iran tidak gentar menghadapi ancaman dan tekanan; Washington-lah yang mundur. (FG)







