Thiago Avila: Tentara Israel Perkosa Aktivis Global Sumud Flotilla
Ávila mengatakan pasukan Israel memperkosa, menyiksa, memukuli secara brutal para aktivis flotilla bantuan Gaza, menggambarkan Israel sebagai negara genosida yang menikmati kekerasan dan penyiksaan
Palestina, FAKTAGLOBAL.COM — Thiago Ávila, penyelenggara Global Sumud Flotilla, mengungkap rincian mengerikan tentang kekejaman yang dilakukan pasukan Israel terhadap para aktivis di atas konvoi kemanusiaan yang berusaha mematahkan blokade Gaza.
Dalam kesaksian video setelah para peserta yang dibebaskan tiba, Ávila menyatakan bahwa anggota flotilla diperkosa, mengalami kekerasan seksual sistematis, dipukuli secara brutal, dan disiksa setelah diculik oleh pasukan Israel.
“Tidak ada cara mudah untuk mengatakannya, tetapi saya harus mengatakannya, orang-orang diperkosa di Global Sumud Flotilla. Tentara-tentara monster ini memperkosa para peserta kami,” kata Ávila.
Ia menegaskan bahwa kejahatan tersebut bukanlah insiden terisolasi.
“Bukan satu, bukan dua, bukan tiga. Ada banyak kasus kekerasan seksual terhadap para peserta kami,” ujarnya.
Tulang Patah, Pemukulan, dan Penyiksaan di Kapal Penjara
Menurut Ávila, para peserta kembali diserang selama pemindahan mereka di atas apa yang ia sebut sebagai “kapal penjara” menuju pelabuhan Ashdod.
“Di kapal penjara menuju pelabuhan Ashdod, mereka kembali dipukuli. Banyak orang mengalami patah tulang rusuk, banyak yang mengalami patah tulang di lengan, tulang selangka, dan tulang rusuk,” katanya.
Ia menggambarkan tentara Israel yang terlibat sebagai “monster” dan mengecam Israel sebagai “negara genosida” yang melembagakan penyiksaan dan kekerasan seksual.
“Kita sedang berbicara tentang negara genosida yang menikmati kekerasan, menikmati penyiksaan terhadap manusia, yang menggunakan pemerkosaan dan kekerasan seksual sistematis terhadap rakyat Palestina dan juga terhadap anggota flotilla kami,” kata Ávila.
“Hanya Sebagian Kecil” dari Apa yang Dialami Palestina
Ávila menekankan bahwa kekejaman yang dialami para aktivis flotilla hanyalah “sebagian kecil” dari kejahatan yang dihadapi rakyat Palestina setiap hari di dalam penjara-penjara Israel.
Ia secara khusus menunjuk penjara Kitziot, tempat di mana menurutnya warga Palestina mengalami praktik penyiksaan yang mengerikan.
“Di penjara Kitziot yang sama mereka melatih anjing untuk memperkosa warga Palestina. Mereka mencungkil bola mata orang-orang. Mereka membunuh mereka dan membuang mereka ke kuburan massal,” katanya.
Aktivis tersebut menyerukan kepada masyarakat dunia untuk bangkit melawan Israel dan menolak normalisasi atas kejahatan-kejahatannya.
“Kita harus menghentikan negara teroris ini,” tegas Ávila.
Ia juga menyebut nama pejabat senior Israel termasuk Benjamin Netanyahu, Itamar Ben Gvir, Bezalel Smotrich, dan Gideon Sa’ar, yang ia gambarkan sebagai “teroris yang memerintah negara kolonial penjajah.”
Kasus Akan Dibawa ke Pengadilan Internasional
Ávila menyatakan bahwa para peserta flotilla sedang menjalani pemeriksaan medis dan menyiapkan dokumentasi hukum yang akan diajukan ke lembaga internasional.
“Ini akan dibawa ke Mahkamah Pidana Internasional, Mahkamah Internasional. Ini harus dibawa ke mana-mana,” katanya.
Global Sumud Flotilla membawa makanan, obat-obatan, dan susu bayi ke Gaza sebelum dicegat oleh pasukan Israel di perairan internasional.
“Mereka membawa makanan dan obat-obatan ke Gaza. Mereka membawa susu bayi, dan mereka diperkosa oleh tentara, oleh monster,” kata Ávila.
Ia menutup pernyataannya dengan seruan mendesak untuk aksi massa di seluruh dunia.
“Kita harus memberontak. Kita harus bangkit. Kita harus turun ke jalan. Jangan biarkan ini dinormalisasi.”
Gelombang Kecaman Internasional terhadap Israel
Tuduhan tersebut muncul di tengah meningkatnya kemarahan internasional atas perlakuan Israel terhadap aktivis Global Samoud Flotilla setelah penyitaan konvoi kemanusiaan tersebut.
Rekaman yang dipublikasikan oleh menteri ekstremis Israel Itamar Ben-Gvir menunjukkan para aktivis diborgol, dipaksa berlutut, dan diperlakukan secara merendahkan di dalam fasilitas penahanan Israel.
Adegan tersebut memicu gelombang kecaman diplomatik di Eropa dan berbagai negara lainnya. Spanyol menuntut permintaan maaf resmi dan pembebasan segera para tahanan, sementara Jerman menyebut perlakuan itu sebagai sesuatu yang “benar-benar tidak dapat diterima.” Belanda menggambarkan rekaman tersebut sebagai “mengejutkan,” dan sejumlah negara lain termasuk Prancis, Italia, Irlandia, Yunani, Turki, dan Inggris juga mengecam tindakan Israel.
Qatar menyatakan bahwa rekaman tersebut mengungkap “besarnya pelanggaran yang dialami rakyat Palestina,” sementara Amnesty International menggambarkan perlakuan terhadap para aktivis sebagai “memalukan dan tidak manusiawi.” (FG)



