Trump Akan Terlibat Secara Tak Langsung dalam Perundingan Iran–AS di Jenewa
Presiden AS itu menyatakan bahwa ia akan “terlibat dalam perundingan tersebut secara tidak langsung,” menyebut negosiasi itu sebagai “sangat penting,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut
Jenewa | FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengonfirmasi bahwa Washington akan berpartisipasi secara tidak langsung dalam putaran baru perundingan dengan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada hari Selasa, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan perluasan pengerahan militer AS.
Berbicara kepada para wartawan di atas pesawat Air Force One pada hari Senin, Trump menyatakan bahwa ia akan “terlibat dalam perundingan tersebut secara tidak langsung,” seraya menggambarkan negosiasi itu sebagai “sangat penting,” tanpa mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai tujuan Washington.
Perundingan tersebut berfokus pada program nuklir Iran dan akan dilakukan melalui perantara, mencerminkan masih absennya keterlibatan diplomatik langsung antara Teheran dan Washington.
Perundingan Tidak Langsung Dimediasi Oman
Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan menggelar perundingan tidak langsung di Jenewa pada 17 Februari, dengan Oman bertindak sebagai mediator, sebagaimana dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah berangkat ke Swiss, di mana ia juga dijadwalkan bertemu dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi, serta menteri luar negeri Swiss dan Oman.
Pertemuan di Jenewa ini menandai putaran kedua perundingan tidak langsung, menyusul pembicaraan sebelumnya yang digelar di Muscat awal bulan ini. Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, menggambarkan diskusi tersebut sebagai “serius dan konstruktif,” seraya mencatat bahwa perundingan itu membantu memperjelas posisi masing-masing pihak dan menggariskan jalur-jalur potensial untuk kemajuan.
Teheran Meletakkan Isu Keringanan Ekonomi di Atas Meja, Bukan Sekadar Berkas Nuklir
Menjelang putaran Jenewa, Teheran telah memperluas cakupan pembahasan untuk mencakup isu-isu ekonomi utama, menandakan bahwa setiap kesepahaman di masa depan harus menghasilkan capaian material yang nyata, bukan sekadar komitmen politik yang samar.
Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Diplomasi Ekonomi, Hamid Ghanbari, menyatakan bahwa Iran telah memasukkan berkas-berkas terkait kerja sama minyak dan gas, investasi di ladang energi bersama, serta pembekuan dan pencairan kembali aset Iran di luar negeri.
Menurut Ghanbari, teks perundingan juga membahas potensi pembelian pesawat terbang dan pengembangan ladang bersama, dengan penekanan bahwa kesepakatan harus memberikan manfaat ekonomi yang jelas. Ia menegaskan bahwa agar suatu kesepakatan dapat berkelanjutan, Washington juga harus melihat adanya keuntungan—sebuah pengakuan tersirat atas sifat transaksional kebijakan AS.
Perundingan di Bawah Tekanan, Bukan Kepercayaan
Perluasan agenda ini mencerminkan penegasan Teheran bahwa perundingan tidak dapat dibatasi hanya pada pembatasan nuklir sementara Amerika Serikat tetap mempertahankan sanksi, perang ekonomi, dan tekanan militer.
Sementara Washington membingkai partisipasinya sebagai keterlibatan diplomatik, perundingan ini berlangsung seiring dengan meningkatnya sikap militer AS di kawasan—yang menegaskan latar belakang koersif di mana negosiasi tersebut berlangsung.
Bagi Teheran, pesannya tetap konsisten: dialog dimungkinkan, tetapi hanya atas dasar keringanan ekonomi yang konkret, manfaat bersama, dan diakhirinya tekanan sepihak Barat. (FG)


