Trump dalam Kebuntuan 3 Arah: Tak Mampu Hentikan atau Menangkan Perang Iran
Sinyal yang saling bertentangan, pengunduran diri internal, dan tekanan yang meningkat dari berbagai kubu membuat Trump terjebak dalam kebuntuan strategis dan politik.
Amerika Serikat, FAKTAGLOBAL.COM — Dalam beberapa hari terakhir, lanskap politik Amerika Serikat diguncang oleh kontradiksi yang semakin tajam, perpecahan internal, serta ketidakpastian yang meningkat terkait kampanye militer Washington terhadap Iran.
Seiring munculnya pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan dari Presiden Donald Trump dan mulai retaknya barisan pejabat senior, para analis memperingatkan bahwa pemerintahan ini semakin terjebak dalam kebuntuan strategis dan politik—tidak mampu meraih kemenangan, namun juga tidak mampu mengakhiri perang.
Pejabat Senior AS Mengundurkan Diri, Tolak Alasan Perang
Dalam beberapa hari terakhir, Donald Trump berulang kali menyampaikan pandangan yang saling bertentangan mengenai tujuan, skala, dan durasi tindakan militer terhadap Iran.
Menurut CGTN, Joe Kent, Direktur Pusat Nasional Penanggulangan Terorisme AS, mengumumkan pengunduran dirinya pada 17 Maret. Dalam surat terbuka kepada Presiden Trump, ia menyatakan bahwa Iran tidak menimbulkan “ancaman yang segera” bagi Amerika Serikat, bahwa perang tersebut dimulai di bawah “tekanan” Israel, dan bahwa ia tidak dapat “secara hati nurani mendukung perang ini.”
Ini menjadi pejabat senior pertama yang ditunjuk Trump yang mengundurkan diri sebagai bentuk penolakan terhadap aksi militer terhadap Iran, sekaligus mengungkap perpecahan internal dalam pemerintahannya terkait proses pengambilan keputusan perang.
Pernyataan yang Bertentangan, Ungkap Kebingungan Strategis
Pernyataan Trump baru-baru ini mengenai arah perang menunjukkan perubahan yang terus berayun antara klaim “kemenangan” dan “kegagalan,” serta antara seruan “gencatan senjata” dan kelanjutan konflik.
Di satu sisi, ia mengklaim bahwa Iran telah “pada dasarnya dikalahkan,” namun di sisi lain ia tidak mampu secara resmi menyatakan kemenangan. Sambil berbicara tentang berakhirnya konflik secara cepat, ia juga secara bersamaan mengisyaratkan bahwa konflik ini mungkin tidak akan segera berakhir.
Para analis menilai bahwa kontradiksi ini bukan kebetulan, melainkan mencerminkan kebingungan strategis yang lebih dalam.
Menyeimbangkan Elit Perang, Pasar, dan Basis MAGA
Kelly Ramey, peneliti di Center for International and Security Studies, Universitas Maryland, menjelaskan bahwa pernyataan Trump yang saling bertentangan tersebut ditujukan kepada audiens yang berbeda.
Kepada kelompok “hawk” pendukung perang, ia memberi sinyal bahwa operasi militer tidak akan dihentikan dalam waktu dekat.
Kepada kalangan politik dan bisnis yang khawatir terhadap kondisi ekonomi dan pemilu paruh waktu, ia menekankan bahwa konflik tidak akan berlangsung lama dan Selat Hormuz akan segera dibuka kembali.
Sementara kepada basis MAGA, ia mengklaim bahwa Amerika Serikat telah “menang.”
Ketiga kelompok ini merupakan kekuatan utama yang memengaruhi pengambilan keputusan di Gedung Putih, masing-masing menuntut pendekatan yang berbeda terhadap skala dan durasi perang.
“Kebuntuan Tiga Arah” dan Risiko Politik yang Meningkat
Para analis menyatakan bahwa Trump sedang berupaya untuk memuaskan ketiga kelompok tersebut secara bersamaan—sebuah upaya yang menempatkannya dalam situasi menyerupai “Kebuntuan tiga arah” dalam kebijakan ekonomi.
Reuters, mengutip seorang pejabat Gedung Putih, melaporkan bahwa Trump berusaha meyakinkan para pendukung perang bahwa aksi militer sedang berlangsung, sekaligus memberi sinyal bahwa perang dapat segera berakhir, serta meyakinkan basisnya bahwa situasi tetap berada dalam kendali.
Namun, para analis menegaskan bahwa mustahil memenuhi seluruh ekspektasi tersebut secara bersamaan, yang pada akhirnya membuat Trump terjebak dalam dilema strategis.
Mereka juga mencatat bahwa dukungan saat ini terhadap perang di kalangan pemilih MAGA sebagian besar didorong oleh loyalitas kepada Trump dan harapan akan “kemenangan cepat.” Jika konflik berlarut dan biaya ekonomi meningkat, sentimen anti-perang di dalam basis ini dapat tumbuh dengan cepat.
Darrell West, peneliti senior di Brookings Institution, menyatakan bahwa Trump telah melanggar janji-janji kampanyenya kepada gerakan MAGA, gagal memberikan justifikasi yang koheren terhadap perang, dan menciptakan masalah politik serius bagi dirinya sendiri.
Menurut West, semakin lama perang berlangsung, semakin sulit posisi Trump. (FG)


