Trump Hindari Pertanyaan tentang Pembantaian Sekolah Minab
Serangan terhadap sekolah di Minab telah menjadi simbol penderitaan warga sipil akibat agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran
Amerika Serikat, FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Donald Trump menolak menjawab pertanyaan mengenai serangan rudal terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran, hampir sepuluh pekan setelah serangan tersebut menewaskan dan melukai para siswa serta warga sipil dalam salah satu kekejaman paling mengejutkan dalam perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran.
Ketika ditanya secara langsung dalam sebuah konferensi pers mengenai siapa yang menembakkan rudal yang menghantam sekolah tersebut, Trump menghindari penetapan tanggung jawab dan hanya mengatakan bahwa masalah itu masih dalam penyelidikan.
“Masalah itu sedang diteliti saat ini, dan segera setelah kami menerima laporannya, kami akan memberikannya kepada Anda,” kata Trump.
Jawaban tersebut memicu kembali tuntutan agar pihak yang bertanggung jawab atas penargetan infrastruktur sipil selama perang dimintai pertanggungjawaban, sekaligus memperkuat kritik terhadap Washington yang berulang kali menggunakan retorika hak asasi manusia sambil menghindari tanggung jawab atas serangan terhadap anak-anak.
Trump Menolak Menyebut Siapa yang Menembakkan Rudal
Pertanyaan yang diajukan kepada Trump sangat jelas: hampir sepuluh pekan telah berlalu sejak sebuah rudal menghantam sekolah di Minab, namun pemerintah Amerika Serikat masih belum secara terbuka mengungkap siapa yang melancarkan serangan tersebut.
Alih-alih menjawab secara langsung, Trump menyerahkan persoalan itu kepada sebuah penyelidikan yang tidak dijelaskan secara rinci, sehingga salah satu pertanyaan utama mengenai pembantaian tersebut tetap tidak terjawab.
Serangan terhadap sekolah di Minab telah menjadi simbol penderitaan warga sipil akibat agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sekaligus pengingat yang tegas mengenai tanggung jawab Washington dan sekutu-sekutu Baratnya atas penargetan yang disengaja terhadap lokasi nonmiliter dan anak-anak tak berdosa.
Minab Membongkar Kontradiksi Klaim Hak Asasi Manusia Barat
Dalam sebuah wawancara analitis yang dikutip oleh Kantor Berita Tasnim, pendidik dan sineas Iran, Hoda Rezaei, mengatakan bahwa tragedi Minab telah menyingkap apa yang ia sebut sebagai penerapan prinsip-prinsip hak asasi manusia Barat yang selektif dan dipolitisasi.
Ia menegaskan bahwa apabila kehidupan manusia benar-benar menjadi nilai utama dalam wacana kemanusiaan sekuler modern, maka kematian anak-anak Iran di Minab akan memperoleh perhatian global yang sama seperti tragedi-tragedi di Eropa atau Ukraina.
Namun, menurutnya, narasi media justru dibentuk oleh kepentingan geopolitik, bukan oleh standar moral universal.
“Ketika anak-anak dibunuh di Gaza atau Minab, banyak lembaga yang terus-menerus berbicara tentang kebebasan dan martabat manusia justru memilih diam,” ujar Rezaei.
Sekolah dan Universitas Menjadi Sasaran dalam Perang Melawan Ilmu Pengetahuan
Rezaei menggambarkan serangan terhadap sekolah dan universitas bukan sekadar serangan militer, melainkan upaya untuk menghantam fondasi pendidikan, pemikiran independen, dan perkembangan ilmiah di Iran.
“Musuh tidak dapat mentoleransi sebuah bangsa yang maju dalam ilmu pengetahuan, budaya, dan pemikiran mandiri,” katanya. “Mereka berusaha membungkam ilmu pengetahuan, tetapi gagal memahami bahwa ilmu di Iran hidup dalam darah dan akar masyarakat, bukan semata-mata di dalam bangunan.”
Ia menambahkan bahwa kebungkaman lembaga-lembaga internasional terhadap apa yang ia sebut sebagai “genosida pendidikan” mencerminkan kontradiksi struktural yang lebih dalam, di mana pihak-pihak yang menyusun konvensi hak asasi manusia justru merupakan aktor yang sama yang dituduh melanggarnya.
Pendidikan sebagai Benteng Melawan Propaganda
Rezaei juga memperingatkan bahwa generasi muda semakin terpapar pada narasi yang disaring melalui platform media yang dikuasai Barat, yang membalikkan posisi pelaku agresi dan korban.
Ia mengatakan bahwa salah satu tanggung jawab utama para pendidik adalah memulihkan kemampuan berpikir independen dan mengajarkan kepada para siswa bagaimana membedakan kebenaran dari propaganda politik.
Menurut Rezaei, hak asasi manusia yang sejati lahir dari iman, hati nurani, dan penghormatan terhadap martabat manusia, bukan dari slogan-slogan yang digunakan secara selektif untuk melayani kepentingan geopolitik.
Pertanyaan tentang Tanggung Jawab Masih Belum Terjawab
Penolakan Trump untuk menanggapi pembantaian sekolah di Minab semakin memperdalam keraguan terhadap komitmen Washington terhadap transparansi dan akuntabilitas.
Bagi banyak pengamat di Iran, tragedi tersebut telah berkembang menjadi lebih dari sekadar insiden masa perang. Peristiwa itu kini menjadi ujian yang menentukan apakah sistem internasional benar-benar siap menegakkan nilai kehidupan manusia secara setara, atau apakah bahasa hak asasi manusia tetap tunduk pada kepentingan politik negara-negara paling kuat di dunia. (FG)


