Trump Tetapkan Status Darurat Nasional, Klaim Ada Ancaman dari Kuba
Gedung Putih menyebut “ancaman luar biasa” saat Washington mempertimbangkan tekanan perubahan rezim, termasuk kemungkinan blokade minyak
Amerika Serikat | FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menetapkan status darurat nasional dengan alasan adanya apa yang ia sebut sebagai “ancaman luar biasa dan tidak lazim” terhadap keamanan nasional AS yang diduga berasal dari Kuba.
Penetapan tersebut diumumkan melalui sebuah perintah eksekutif yang dipublikasikan oleh Gedung Putih, yang secara resmi membingkai Kuba sebagai sumber ancaman eksternal terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Trump menandatangani perintah tersebut dengan menyatakan bahwa ancaman yang dituduhkan itu berasal, baik seluruhnya maupun sebagian besar, dari luar wilayah Amerika Serikat.
Rincian Perintah Eksekutif
Menurut perintah eksekutif yang dirilis pada Kamis, pemerintahan Trump mengklaim bahwa Kuba merupakan ancaman signifikan yang berbasis di luar negeri dan layak dijadikan dasar untuk penerapan kewenangan darurat.
“MAKA OLEH KARENA ITU, SAYA, DONALD J. TRUMP, Presiden Amerika Serikat, menyatakan bahwa situasi yang berkaitan dengan Kuba merupakan ancaman yang tidak lazim dan luar biasa, yang sumbernya seluruhnya atau sebagian besar berasal dari luar Amerika Serikat, terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan dengan ini saya menetapkan keadaan darurat nasional terkait ancaman tersebut,”
demikian bunyi perintah tersebut.
Strategi Perubahan Rezim
Sebuah laporan terbaru dari The Wall Street Journal mengklaim bahwa Washington secara aktif berupaya merekayasa perubahan rezim di Kuba sebelum akhir tahun 2026.
Menurut laporan tersebut, Amerika Serikat—yang merasa terdorong oleh operasi militernya di Venezuela—menargetkan individu-individu di dalam pemerintahan Kuba yang mungkin bersedia bekerja sama dengan Washington.
Para pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, sebagaimana dikutip oleh surat kabar tersebut, meyakini bahwa perekonomian Kuba berada di ambang kehancuran akibat kekurangan kronis, pemadaman listrik berulang, serta terhentinya pasokan minyak bersubsidi dari Venezuela.
Opsi Blokade Minyak Dipertimbangkan
Sementara itu, Politico melaporkan pada hari Jumat bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan penerapan blokade penuh terhadap impor minyak Kuba.
Mengutip tiga sumber yang mengetahui pembahasan internal, laporan tersebut menyebutkan bahwa usulan ini didorong oleh kelompok garis keras penentang pemerintah Kuba di dalam pemerintahan dan mendapat dukungan dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Jika diterapkan, langkah tersebut akan menjadi eskalasi besar dalam kampanye tekanan Washington terhadap Havana.
Preseden Venezuela dan Eskalasi Tekanan
Menurut The Wall Street Journal, para pembuat kebijakan AS merasa semakin percaya diri setelah operasi militer Amerika Serikat baru-baru ini di Venezuela.
Dugaan penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro—yang dilaporkan mengakibatkan tewasnya puluhan warga Kuba—disebut telah memperkuat keyakinan para pejabat AS bahwa operasi serupa dapat dilakukan terhadap Kuba.
Dalam sebuah unggahan pada 11 Januari, Trump secara terbuka mengancam otoritas Kuba dengan mengumumkan penghentian dukungan minyak dan keuangan.
“Saya sangat menyarankan mereka untuk membuat kesepakatan. SEBELUM TERLAMBAT,”
tulis Trump. (FG)


