UE dan China di Ambang Perang Dagang Seiring Meningkatnya Ketegangan Ekonomi
Perdebatan tajam dalam sebuah konferensi di Beijing mencerminkan meningkatnya gesekan ketika Brussels menerapkan langkah-langkah yang semakin proteksionis terhadap industri China.
China, FAKTAGLOBAL.COM — Uni Eropa dan China semakin mendekati potensi perang dagang seiring meningkatnya ketegangan terkait perdagangan, kebijakan industri, dan akses pasar, menurut laporan South China Morning Post (SCMP).
Surat kabar yang berbasis di Hong Kong itu melaporkan bahwa benturan pendapat yang tajam terjadi dalam sebuah konferensi di Beijing pekan lalu, ketika para diplomat Eropa, pemimpin bisnis, dan pejabat China saling melontarkan tuduhan secara terbuka mengenai memburuknya hubungan ekonomi bilateral.
Menurut SCMP, perwakilan Eropa mengeluhkan bahwa China gagal menanggapi kekhawatiran lama mereka terkait ketidakseimbangan perdagangan, sementara para peserta dari China menegaskan bahwa Brussels semakin mengadopsi kebijakan proteksionis di bawah label “de-risking”.
Surat kabar tersebut menyatakan bahwa perdebatan sengit itu mencerminkan perubahan yang lebih luas dan serius dalam kebijakan Uni Eropa terhadap China, dengan Brussels tengah menyiapkan serangkaian langkah industri dan perdagangan yang dirancang untuk membatasi akses China ke sektor-sektor strategis ekonomi Eropa.
Brussels Mendorong Langkah-Langkah Proteksionis
SCMP melaporkan bahwa usulan Industrial Accelerator Act dari Uni Eropa akan memberlakukan syarat-syarat ketat terhadap perusahaan-perusahaan China yang ingin berinvestasi di sektor teknologi tinggi Eropa, termasuk kewajiban membentuk usaha patungan, mempekerjakan tenaga kerja lokal, dan mentransfer teknologi kepada mitra Eropa.
Laporan tersebut menambahkan bahwa Komisi Eropa juga sedang menyiapkan aturan keamanan siber baru dan mekanisme perlindungan yang dapat berujung pada kuota dan tarif terhadap impor China di sektor-sektor seperti bahan kimia, semikonduktor, telekomunikasi, komputasi awan, dan kendaraan terkoneksi.
Menurut SCMP, para pejabat Eropa menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut dimaksudkan untuk menciptakan “persaingan yang setara”, meskipun kebijakan itu sangat mirip dengan kebijakan industri yang selama bertahun-tahun dikritik oleh pemerintah Barat ketika diterapkan oleh China.
China Menolak Narasi “De-Risking” Eropa
South China Morning Post melaporkan bahwa para pejabat China dengan tegas menolak tuduhan bahwa Beijing bertanggung jawab atas memburuknya hubungan.
Li Jian, Direktur Jenderal Urusan Eropa di Kementerian Luar Negeri China, memperingatkan bahwa beberapa negara memandang China melalui lensa rivalitas geopolitik dan berusaha mempersenjatai hubungan ekonomi.
“Proteksionisme tidak meningkatkan daya saing,” kata Li Jian, sebagaimana dikutip SCMP. “Ia hanya melahirkan bunga rumah kaca yang tidak mampu menghadapi angin dan hujan perkembangan ekonomi global.”
Laporan tersebut mencatat bahwa para akademisi China juga menuduh Uni Eropa menjalankan decoupling selektif sambil terus menggambarkan kebijakannya sebagai langkah defensif, bukan konfrontatif.
Eropa Tetap Sangat Bergantung pada China
Meski retorika semakin konfrontatif, SCMP menekankan bahwa Eropa tetap sangat bergantung pada China.
Surat kabar itu mengutip data dari Kamar Dagang Uni Eropa di China yang menunjukkan bahwa 42 persen dari seluruh kontainer pengiriman yang tiba di Eropa berasal dari China, sementara ekspor China ke blok tersebut meningkat 17 persen tahun lalu.
Menurut laporan tersebut, angka-angka ini menunjukkan bahwa manufaktur dan rantai pasok China masih sangat penting bagi perekonomian Eropa.
Beijing Menunjukkan Kesiapan untuk Membalas
SCMP melaporkan bahwa China telah mulai merespons apa yang dipandangnya sebagai langkah-langkah diskriminatif.
Pada Jumat lalu, Beijing melarang perusahaan-perusahaan China, termasuk produsen peralatan keamanan Nuctech, untuk bekerja sama dengan investigasi Uni Eropa berdasarkan regulasi subsidi asing blok tersebut.
Menurut surat kabar itu, langkah tersebut menunjukkan bahwa China siap membela perusahaan-perusahaannya dan menghadapi tekanan ekonomi dari Brussels.
Realitas Struktural Membatasi Pilihan Eropa
Meski ketegangan perdagangan semakin meningkat, SCMP mencatat bahwa banyak analis meyakini kedua pihak tidak mampu menanggung konfrontasi ekonomi berskala penuh.
Perekonomian Eropa yang sedang melemah sangat bergantung pada pasar China dan pasokan industri dari negara tersebut, sementara China tetap memandang Eropa sebagai tujuan ekspor yang sangat penting ketika akses ke pasar Amerika Serikat semakin terbatas.
Menurut South China Morning Post, perselisihan saat ini menegaskan sebuah realitas yang lebih luas: seiring terus meningkatnya kekuatan teknologi dan industri China, kekuatan-kekuatan Barat semakin mengandalkan kebijakan proteksionis setelah selama puluhan tahun mengusung perdagangan bebas.
SCMP menyimpulkan bahwa meskipun retorika Eropa semakin keras, Beijing tampak yakin bahwa realitas ekonomi struktural dan tren strategis jangka panjang tetap berpihak pada China. (FG)


