Ulama Senior Iran: Pembalasan untuk Pemimpin Syahid adalah dengan Meruntuhkan Ideologi Tirani
Ayatollah Sayyed Hassan Ameli mengatakan bahwa pembalasan sejati atas Pemimpin Syahid adalah meruntuhkan ideologi yang merampas martabat, kebebasan, dan hak hidup umat manusia.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Ayatollah Sayyed Hassan Ameli, Imam Salat Jumat Provinsi Ardabil sekaligus perwakilan Pemimpin Revolusi Islam di Provinsi Ardabil, Iran barat laut, mengatakan bahwa jalan sejati untuk membalas Pemimpin Syahid Revolusi Islam, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, adalah dengan mengalahkan ideologi yang merampas hak bangsa-bangsa untuk hidup, bermartabat, merdeka, dan menentukan nasib sendiri.
Dalam wawancara dengan kantor berita IRNA, Ayatollah Ameli menggambarkan Ayatollah Sayyed Ali Hosseini Khamenei sebagai “syahid akidah, pemikiran, dan keyakinan”. Menurutnya, beliau gugur sebagai syahid karena berdiri menghadapi kekuatan tirani masa kini yang mewujudkan kekufuran, penindasan, agresi, perampasan, despotisme, pertumpahan darah, serta cara pandang yang menipu terhadap kemanusiaan.
Syahid Sebuah Gagasan, Bukan Sekadar Seorang Individu
Ayatollah Ameli mengatakan bahwa Pemimpin Syahid mewakili sebuah mazhab pemikiran yang suci, bukan sekadar seorang individu yang kematiannya dapat dibalas hanya dengan membunuh orang lain.
Ia membandingkannya dengan kesyahidan Imam Husain (as), seraya mengatakan bahwa tujuan Imam Husain bukanlah sekadar menyingkirkan Yazid sebagai individu, melainkan menghancurkan ideologi yang diwakili Yazid.
Menurut Ayatollah Ameli, balas dendam terhadap Pemimpin Syahid baru akan terwujud ketika ideologi yang membenarkan penindasan, mengorbankan umat manusia demi kekuasaan, dan membangun kekuatannya di atas “tulang-belulang manusia yang dihancurkan serta martabat manusia yang diruntuhkan” berhasil dikalahkan.
Ia menambahkan bahwa ideologi semacam itu tidak memahami air mata anak yatim maupun kesedihan para ibu yang berduka, namun menganggap pembunuhan terhadap orang-orang saleh sebagai sesuatu yang dibolehkan, bahkan diwajibkan.
Ideologi yang Harus Dikalahkan
Ayatollah Ameli mengatakan bahwa siapa pun yang ingin membalas darah Pemimpin Syahid harus memahami bahwa perjuangan ini adalah melawan cara pandang yang mengklaim tidak seorang pun selain dirinya yang berhak hidup, memilih, mengambil keputusan, membela diri, ataupun memiliki martabat dan kedaulatan.
Ia menggambarkan ideologi tersebut sebagai pemikiran yang menuntut bangsa-bangsa meninggalkan kebebasan, kemerdekaan, kedaulatan nasional, demokrasi, dan hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
Ulama senior Iran itu juga mengecam sistem yang menurutnya dijalankan berdasarkan standar ganda, hak-hak istimewa, dan penilaian yang tidak setara terhadap manusia.
Ia menyamakan mentalitas tersebut dengan kesombongan Fir’aun yang seolah berkata, “Akulah Tuhanmu yang Mahatinggi,” sementara para penguasa yang tunduk menerima semua perintahnya tanpa mempertanyakan.
Perjuangan Panjang Melawan Penindasan
Ayatollah Ameli mengatakan bahwa misi pembalasan bukanlah tindakan sesaat, melainkan perjuangan jangka panjang melawan apa yang ia sebut sebagai ideologi Sufyani, setan, dan Dajjal.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa cara pandang tersebut mulai kehilangan legitimasi di mata bangsa-bangsa karena berbagai kejahatan, penghinaan terhadap rakyat, pelanggaran hak-hak dasar, pengabaian terhadap lembaga-lembaga internasional, serta tindakannya dalam perang terhadap Gaza dan Iran.
“Tanda-tanda kemenangan sudah mulai tampak,” katanya, seraya menambahkan bahwa semakin besarnya penolakan terhadap ideologi tersebut hanyalah awal dari proses pembalasan.
Menghidupkan Prinsip-Prinsip Pemimpin Syahid
Menutup pernyataannya, Ayatollah Ameli mengajak masyarakat menghormati Pemimpin Syahid dengan menjalani kehidupan berdasarkan prinsip-prinsip beliau serta mempertahankan warisan pemikirannya dengan penuh keteguhan.
Ia menyebut doktrin “Iran yang Kuat” sebagai salah satu gagasan besar Pemimpin Revolusi Islam, seraya mengatakan bahwa Iran telah menjadi lebih kuat berkat darah Pemimpin, para komandan, anak-anak, dan rakyat yang meraih kesyahidan.
“Dengan segenap kekuatan yang kami miliki, kami akan menjadikan Iran semakin kuat,” ujarnya.


