Ulama Sunni Lebanon: Perdamaian dengan Israel Haram Secara Syar’i dan Merupakan Pengkhianatan Nasional
Ulama Sunni, tokoh-tokoh Islam terkemuka di Lebanon kembali menegaskan penolakan terhadap negosiasi langsung dan normalisasi dengan Israel, serta menekankan bahwa perlawanan tetap satu-satunya jalan
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Para ulama Sunni terkemuka dari berbagai wilayah Lebanon secara tegas menolak segala bentuk negosiasi langsung maupun normalisasi dengan pendudukan Israel, dan menegaskan bahwa berdamai dengan Israel adalah haram secara syar’i serta merupakan pengkhianatan terhadap bangsa.
Sikap tersebut diumumkan dalam sebuah pertemuan konsultatif luas yang dihadiri oleh para ulama Sunni serta perwakilan organisasi-organisasi Islam dan nasional dari berbagai daerah di Lebanon dengan tema, “Perdamaian dengan Musuh Israel Haram Secara Syar’i dan Merupakan Pengkhianatan Nasional.”
Pertemuan yang diselenggarakan di markas Gerakan Ummah di Beirut itu menjadi forum bersama untuk menegaskan kembali prinsip-prinsip nasional dan keagamaan di tengah meningkatnya tekanan untuk melakukan perundingan langsung dengan pendudukan Israel.
Para peserta menegaskan persatuan sikap nasional Lebanon dan menolak seluruh proyek penyelesaian yang mengurangi hak-hak umat serta kedaulatan Lebanon.
Fatwa Keagamaan Menolak Perjanjian dengan Israel
Sheikh Zuhair Jaid menyatakan bahwa setiap perjanjian yang dibuat dengan musuh Israel adalah haram secara agama dan batal secara hukum.
“Keyakinan kami mengenai perjanjian dengan musuh Israel adalah bahwa perjanjian itu haram secara syar’i dan tidak sah,” ujarnya. “Perjanjian tersebut sama sekali tidak mengikat kami dalam bentuk apa pun, dan tidak diperbolehkan bagi kami untuk melaksanakan satu pun isi dari perjanjian itu.”
Sheikh Abdullah Jabri menolak tuduhan bahwa para pejuang perlawanan adalah petualang yang gegabah.
“Ada pihak yang menggambarkan para pejuang perlawanan sebagai penjudi dan petualang,” katanya. “Kami katakan kepada mereka: justru kalianlah para penjudi yang sesungguhnya. Adapun perlawanan ini, visinya sangat jelas, dan ia melihat kemenangan seterang matahari di siang bolong.”
Negosiasi Tidak Pernah Mengembalikan Hak Palestina
Sheikh Bilal Shaaban menantang para pendukung negosiasi untuk menunjukkan satu saja hasil nyata yang pernah diraih bangsa Arab melalui diplomasi dengan Israel.
“Tunjukkan kepada saya satu keputusan, setelah negosiasi marathon, yang membuat bangsa Arab memperoleh walau hanya setengah dari hak mereka di Palestina,” katanya. “Tidak ada.”
Ia memperingatkan bahwa upaya-upaya saat ini bertujuan memindahkan konflik ke jantung umat agar kaum Muslimin saling berselisih, dan menyerukan agar kritik tidak diarahkan ke dalam.
Shaaban juga menegaskan kembali komitmen terhadap fatwa-fatwa bersejarah yang dikeluarkan oleh para ulama dan lembaga fikih Islam yang menyatakan bahwa berdamai dengan pendudukan adalah haram.








Peringatan terhadap Upaya Melucuti Senjata Perlawanan
Sheikh Maher Mashlab menyinggung informasi yang bocor dari pembahasan terbaru di Washington, yang menunjukkan bahwa Israel ingin menunda penarikan pasukannya dari wilayah Lebanon selama dua tahun sambil menuntut pelucutan senjata perlawanan.
“Tidak akan ada kepulangan bagi para pengungsi,” katanya. “Mereka ingin melucuti senjata perlawanan sambil tetap melanjutkan agresi dan pengeboman. Kedaulatan seperti apa yang mereka bicarakan?”
Sheikh Khadr Kabsh menegaskan bahwa keputusan apa pun yang lahir dari negosiasi semacam itu tidak mewakili rakyat Lebanon yang merdeka dan terhormat.
“Kamilah yang mempersembahkan para syuhada. Kamilah yang menumpahkan darah. Kami tidak akan meninggalkan kehormatan dan kedaulatan kami, sebesar apa pun pengorbanannya.”
Dukungan terhadap Hizbullah dan Persatuan Nasional
Hussein Kalash menyampaikan dukungan penuh terhadap perlawanan dengan mengatakan:
“Kami berkata kepada perlawanan: kami tidak hanya akan berdiri di belakangmu, tetapi akan berdiri di depanmu sebagai para mujahid pejuang. Kami menyampaikan penghormatan dan apresiasi kepada kepemimpinan perlawanan ini.”
Sheikh Mohsen al-Rifai menekankan pentingnya persatuan umat Islam, dan memperingatkan bahwa musuh Zionis tidak membedakan antara Sunni dan Syiah.
“Musuh Zionis ini, orang-orang Yahudi ini, musuh kemanusiaan dan musuh fitrah manusia, tidak akan menyisakan Sunni maupun Syiah,” katanya.
Para peserta menyimpulkan bahwa fase saat ini menuntut kesadaran yang mendalam dan keteguhan dalam berpegang pada prinsip-prinsip. Mereka menyerukan penguatan solidaritas internal dan pemeliharaan perdamaian sipil dengan cara yang menjaga kedaulatan Lebanon dan martabat umat.
Para ulama juga mengumumkan bahwa pertemuan-pertemuan mereka akan tetap terbuka untuk memantau perkembangan mendatang dan mengoordinasikan respons terhadap setiap upaya baru untuk memaksakan negosiasi atau normalisasi dengan pendudukan Israel. (FG)


