Vahidi: Israel Menutupi Kegagalan dengan Ancaman dan Perang Psikologis
Ahmad Vahidi mengatakan Tel Aviv menggunakan propaganda dan retorika eskalasi untuk menyembunyikan kegagalan dalam Perang Dua Belas Hari serta meningkatnya isolasi internasional.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Brigadir Jenderal Iran Ahmad Vahidi, Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, menyatakan bahwa rezim Israel kini mengandalkan ancaman, propaganda, dan manuver politik untuk menutupi apa yang ia sebut sebagai kekalahan berat dan strategis dalam Perang Dua Belas Hari.
Dalam pernyataannya kepada Al Mayadeen, Vahidi mengatakan entitas Zionis berupaya memutarbalikkan kenyataan melalui perang psikologis, kampanye media, dan sandiwara diplomatik guna menyamarkan kegagalannya serta isolasi yang kian mendalam.
Perang Psikologis untuk Menyembunyikan Kegagalan Strategis
Vahidi menegaskan bahwa rezim Israel secara sengaja memproyeksikan citra kekuatan yang tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
Menurut jenderal Iran tersebut, Israel tengah menghadapi krisis internal, politik, dan strategis yang serius, setelah gagal mencapai seluruh tujuan yang dicanangkannya dalam konfrontasi dengan Iran.
Ia menekankan bahwa ancaman dan propaganda yang datang dari Tel Aviv merupakan tanda keputusasaan, bukan kepercayaan diri, seraya menambahkan bahwa retorika eskalatif Israel mencerminkan ketakutan, bukan daya gentar.
Vahidi juga menyebut Iran terus memantau perkembangan secara saksama, tetap siap sepenuhnya, sambil menolak terseret ke dalam narasi rekayasa yang dirancang untuk menutupi kelemahan Israel.
Netanyahu Mencari Dukungan AS untuk Agresi Baru
Pernyataan Vahidi muncul di tengah persiapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mendorong aksi militer baru terhadap Iran dalam pertemuan mendatang dengan Donald Trump, menurut sumber yang dikutip NBC.
Pertemuan yang diperkirakan berlangsung akhir bulan ini di Mar-a-Lago tersebut disebut bertujuan mengamankan dukungan Amerika Serikat bagi putaran agresi baru terhadap Iran, termasuk berbagai skenario—mulai dari serangan sepihak Israel hingga operasi militer gabungan penuh AS–Israel.
Pejabat Israel mengklaim Iran tengah membangun kembali fasilitas produksi misil, pertahanan udara, dan aliansi regional, serta mempresentasikan upaya pertahanan tersebut sebagai dalih untuk serangan baru. Namun, penilaian dari pejabat AS dilaporkan masih beragam.
Trump, menanggapi rencana pertemuan itu, mengatakan, “Kami belum mengaturnya secara resmi, tetapi dia ingin bertemu dengan saya,” meski pejabat Israel telah mengumumkan tanggal 29 Desember.
Eskalasi Baru Pasca Perang Dua Belas Hari
Dorongan eskalasi ini muncul kurang dari setahun setelah Israel melancarkan agresi berskala besar yang memicu Perang Dua Belas Hari, ketika pasukan pendudukan Israel menyerang situs sipil, nuklir, dan militer di dalam wilayah Iran.
Serangan tersebut terjadi di tengah runtuhnya perundingan nuklir antara Teheran dan Washington, yang tersendat akibat tuntutan maksimalis AS yang jauh melampaui isu nuklir.
Menurut otoritas Iran dan pemantau independen, agresi Israel–AS itu menewaskan hampir seribu orang, merusak jaringan pertahanan udara Iran, serta menghantam infrastruktur sipil penting.
Kini, para pejabat Israel secara terbuka mengeluhkan bahwa Iran tengah membangun kembali kemampuan pertahanannya—sebuah proses yang oleh Tel Aviv digambarkan sebagai tidak dapat diterima.
Pernyataan-pernyataan ini kembali menyingkap watak agresif dan ekspansionis rezim Israel, yang doktrin keamanannya bertumpu pada penyangkalan kedaulatan dan kemampuan pertahanan bagi negara maupun gerakan di kawasan.
Alih-alih koeksistensi, Tel Aviv beroperasi dengan logika kolonial yang memandang pelucutan senjata regional dan dominasi permanen sebagai prasyarat bagi rasa aman mereka.
Sebagaimana ditekankan Vahidi, ancaman dan propaganda tidak akan mengubah kenyataan: kekalahan, isolasi, dan kegagalan strategis Israel tidak dapat disembunyikan tanpa batas, betapapun keras retorikanya atau sekuat apa pun para pendukungnya. (FG)


