Venezuela dan Greenland Ungkap Wajah Ekspansionisme AS: Sayyed al-Houthi
Pemimpin Yaman menyoroti tindakan AS di Venezuela dan Greenland, serta memperingatkan kejahatan Israel yang terus berlangsung di Gaza dan Palestina yang diduduki
Yaman | FAKTAGLOBAL.COM — Sayyed Abdulmalik Badr al-Din al-Houthi menyatakan bahwa orientasi global Amerika Serikat pada dasarnya dibangun di atas tirani, kesombongan, dan ketidakadilan, seraya menegaskan bahwa perilaku Washington kini terekspos secara terbuka baik melalui ucapan maupun tindakan.
Dalam pidatonya pada peringatan wafatnya Pemimpin Syahid untuk tahun 1447 H, Sayyed al-Houthi menyoroti sejumlah contoh yang, menurutnya, secara jelas mengungkap hakikat kebijakan Amerika Serikat di seluruh dunia.
Venezuela dan Greenland Menyingkap Perilaku Ekspansionis AS
Sayyed al-Houthi menyinggung tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela, dengan menyatakan bahwa Washington telah melakukan penculikan terhadap presiden Venezuela dan istrinya, sekaligus secara terbuka mengumumkan tujuan agresinya terhadap negara tersebut.
Ia mengatakan Amerika Serikat secara terang-terangan mengakui bahwa tindakannya terhadap Venezuela bertujuan merampok kekayaan negara itu, termasuk sumber daya minyaknya yang sangat besar, dan menempatkannya di bawah kendali Amerika. Sayyed al-Houthi mencatat bahwa Presiden AS Donald Trump sendiri telah menyatakan niat tersebut secara terbuka.
Ia juga merujuk pada upaya Amerika Serikat untuk menguasai Greenland, yang ia gambarkan sebagai pulau raksasa dengan luas sebanding negara-negara besar seperti Arab Saudi atau Aljazair, serta kaya akan mineral langka dan sumber daya yang melimpah. Menurutnya, Washington secara terbuka menyatakan keinginannya untuk merebut pulau tersebut dari Denmark karena kekayaan dan posisi strategisnya.
Peringatan bagi Umat dan Dunia
Sayyed al-Houthi menegaskan bahwa perilaku Amerika semacam itu merupakan ancaman bagi seluruh bangsa di dunia dan menegaskan pentingnya kesadaran serta aksi global di kalangan bangsa-bangsa yang menginginkan kebebasan, martabat, dan kemerdekaan.
Ia menyatakan bahwa apa yang dilakukan Amerika Serikat di Venezuela dan apa yang ingin dilakukannya terkait Denmark seharusnya menjadi pelajaran bagi Umat dan bangsa-bangsa di kawasan, seraya mengingatkan bahwa tindakan serupa sebelumnya telah dilakukan Amerika Serikat di Jepang, Vietnam, dan negara-negara lain.
Sayyed al-Houthi menambahkan bahwa Amerika Serikat memiliki tujuan dan ambisi yang jelas, termasuk mengejar proyek Zionis di kawasan, yang semakin menegaskan pentingnya sikap dan tindakan yang benar serta sadar.
Kejahatan Israel di Gaza Tidak Boleh Dinormalisasi
Menyinggung situasi di Palestina yang diduduki, Sayyed al-Houthi membahas tindakan rezim pendudukan Israel selama dua tahun terakhir, khususnya di Gaza, dengan menyatakan bahwa pendudukan tersebut terus melakukan kejahatan dan serangan terhadap rakyat Palestina.
Ia mengatakan bahwa tindakan Israel di Gaza, pelanggaran hariannya di Tepi Barat, penyerbuan berulang ke Masjid al-Aqsa, serta langkah-langkah yang menargetkan Masjid Ibrahimi di al-Khalil dengan tujuan penguasaan penuh dan permanen, merupakan kejahatan yang disaksikan setiap hari oleh Umat dan tidak boleh menjadi sesuatu yang dianggap biasa atau diterima.
Sayyed al-Houthi juga mempertanyakan perilaku Israel selama tahap pertama kesepakatan Gaza, dengan menyatakan bahwa rezim pendudukan telah gagal memenuhi sebagian besar komitmennya. Ia menyoroti berlanjutnya pengepungan, pembunuhan harian, penghancuran bangunan yang masih tersisa, serta terus berlangsungnya berbagai bentuk kejahatan.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa musuh Israel tetap menjadi ancaman bagi Umat, dan memperingatkan agar tidak terperdaya oleh slogan-slogan perdamaian palsu yang dipromosikan oleh Amerika Serikat dan pihak-pihak lainnya. (FG)


