WP: Iran Teguh di Islamabad, Ghalibaf Diakui Mengesankan oleh Delegasi AS
Iran tetap teguh dalam perundingan Islamabad, Ghalibaf diakui profesional oleh AS, mengungkap batas strategi tekanan dan gagalnya harapan penyerahan Iran
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Detail baru yang muncul dari perundingan AS–Iran di Islamabad mengungkapkan bahwa Mohammad Baqer Ghalibaf meninggalkan kesan kuat pada delegasi Amerika, dengan sumber-sumber AS menggambarkannya sebagai negosiator yang sangat profesional dan berpengalaman.
Menurut analisis The Washington Post oleh David Ignatius, pihak Iran memasuki perundingan dengan garis merah yang tegas—namun menunjukkan disiplin strategis dan keterampilan negosiasi sepanjang lebih dari 20 jam diskusi.
Iran Bernegosiasi dari Posisi Kuat
Perundingan yang dipimpin di pihak AS oleh JD Vance dimulai dengan posisi yang kaku dari kedua belah pihak. Namun, setelah berjam-jam pembahasan, bahkan pejabat Amerika pun mengakui efektivitas Ghalibaf.
Pengakuan ini muncul meskipun perundingan berakhir tanpa kesepakatan final, menegaskan satu realitas penting: Iran tidak menyerah di bawah tekanan.
Diskusi di Islamabad—yang menjadi salah satu kontak tingkat tinggi antara Teheran dan Washington dalam beberapa dekade terakhir—gagal mencapai kesepakatan akibat perbedaan mendasar, terutama terkait hak kedaulatan Iran dan tuntutan maksimalis dari AS.
Washington Menghadapi Batas Strategis
Analisis yang sama dari The Washington Post menunjukkan bahwa kebuntuan saat ini tidak serta-merta mengarah pada kembalinya perang. Sebaliknya, blokade dan eskalasi oleh AS lebih dipandang sebagai alat tekanan, bukan solusi militer yang menentukan.
Secara khusus, Donald Trump digambarkan memiliki keengganan terbatas terhadap konflik berkepanjangan, menyadari bahwa potensi keuntungan kecil sementara risikonya—terutama eskalasi regional yang lebih luas—sangat tinggi.
Di balik retorika publik, tujuan utama Washington tampaknya adalah mencari “jalan keluar dari krisis,” dengan ekspektasi bahwa perundingan tidak langsung akan terus berlanjut melalui mediasi Pakistan.
Salah Perhitungan Terbongkar
Sejak pecahnya perang pada akhir Februari, Trump dilaporkan memperkirakan Iran akan menyerah—sebuah kalkulasi yang gagal terwujud.
Sebaliknya, Iran mempertahankan posisinya, menolak apa yang disebutnya sebagai “tuntutan yang tidak masuk akal dan berlebihan,” sambil menjaga leverage strategisnya, terutama di wilayah seperti Selat Hormuz dan dinamika keamanan regional.
Para analis kini mengakui apa yang sejak awal telah diperingatkan para pengkritik: perang di West Asia mungkin mudah dipicu, tetapi sangat sulit untuk diakhiri.
Diplomasi Berlanjut di Tengah Kebuntuan
Meskipun tidak ada terobosan yang dicapai di Islamabad, kedua pihak tetap terlibat dalam proses diplomatik yang lebih luas, dengan para mediator mendorong kelanjutan dialog.
Bagi Iran, hasil ini menegaskan pesan yang konsisten: perundingan akan terus berjalan, tetapi tidak dengan mengorbankan kedaulatan atau di bawah paksaan.
Bagi Washington, perundingan ini mengungkap realitas yang berbeda—bahwa tekanan semata tidak lagi cukup untuk menentukan hasil. (FG)



