Yaman Tegaskan Dukungan untuk Iran, Palestina, dan Lebanon: Kami Siap Hadapi Konfrontasi Apa Pun
Presisen Yaman menegaskan dukungannya terhadap Iran, Palestina, dan Lebanon, mendukung hak Teheran mengelola Selat Hormuz, serta memperingatkan agresi AS-Israel dan upaya memecah belah Yaman.
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Presiden Dewan Politik Tertinggi Yaman, Marsekal Mahdi Mohammed al-Mashat, menyampaikan pidato luas pada Rabu dalam peringatan 36 tahun persatuan Yaman, menegaskan kembali dukungan Yaman terhadap Iran, Palestina, dan Lebanon, sambil memperingatkan negara-negara koalisi dan milisi afiliasinya agar tidak mencoba merusak persatuan Yaman.
Dalam pidatonya, al-Mashat menegaskan bahwa Yaman akan terus berjuang hingga pembebasan “jengkal terakhir” wilayah republik dan menekankan kesiapan penuh negara itu untuk menghadapi setiap agresi Amerika atau Zionis di masa mendatang.
Pemimpin Yaman tersebut membahas berbagai perkembangan domestik, regional, dan internasional, serta menggambarkan persatuan Yaman sebagai kebutuhan nasional sekaligus bagian dari konfrontasi yang lebih luas melawan apa yang ia sebut sebagai proyek Zionis-Amerika di Asia Barat.
Yaman Tegaskan Solidaritas Penuh terhadap Iran
Al-Mashat kembali menegaskan “solidaritas penuh” Yaman terhadap Republik Islam Iran dan menekankan hak Teheran untuk membela diri dari agresi serta haknya mengelola Selat Hormuz.
Ia menyatakan bahwa Iran memiliki hak sah untuk mencegah jalur strategis tersebut digunakan oleh kekuatan musuh atau dengan cara-cara yang melayani dominasi Barat dan Zionis.
Presiden Yaman itu mengatakan bahwa agresi AS-Israel terhadap Iran bertujuan menyingkirkan hambatan terbesar bagi ambisi regional Washington dan Tel Aviv.
“Semua orang telah menyadari bahwa agresi Amerika-Israel terhadap Iran berangkat dari upaya menyingkirkan hambatan terbesar di hadapan proyek Zionis-Amerika,” ujarnya.
Al-Mashat menyerukan kepada rakyat dan pemerintahan dunia Islam agar bersatu menghadapi proyek tersebut, bukan malah bersekutu dengannya.
Ia juga mengatakan bahwa perkembangan medan perang di Gaza, Yaman, Lebanon, Irak, dan Iran telah membuktikan bahwa rezim Zionis, meski memiliki kekuatan militer besar, bukanlah kekuatan yang tak terkalahkan.
Menurutnya, bertahun-tahun konfrontasi telah memperlihatkan kelemahan musuh dan menunjukkan ketahanan serta daya juang gerakan perlawanan di kawasan.
Yaman Peringatkan Kejahatan Israel yang Terus Berlanjut di Palestina dan Lebanon
Pemimpin Yaman itu kembali menegaskan dukungan penuh Yaman terhadap rakyat Palestina dan Lebanon, serta mengecam serangan Israel yang terus berlangsung, pelanggaran gencatan senjata, dan meningkatnya kejahatan di Gaza dan Lebanon.
Ia secara khusus menyinggung pelanggaran Israel di Masjid Al-Aqsa dan mengecam upaya pengesahan undang-undang yang menargetkan tahanan Palestina.
Al-Mashat mendesak pemerintahan Arab dan Islam agar melampaui sekadar pernyataan resmi dan mengambil langkah nyata untuk menghentikan apa yang ia gambarkan sebagai kejahatan Zionis.
Ia memperingatkan bahwa pernyataan semata “tidak menghentikan kejahatan dan tidak menyembuhkan luka.”
Pada saat yang sama, ia memperingatkan rezim Zionis agar tidak melanjutkan agresinya terhadap rakyat Palestina dan Lebanon, seraya menegaskan bahwa Yaman tetap berada di garis depan Poros Perlawanan.
Persatuan Yaman Disebut Sebagai Kewajiban Agama dan Nasional
Sebagian besar pidato al-Mashat berfokus pada persatuan Yaman, yang ia gambarkan bukan sekadar pengaturan politik, melainkan tanggung jawab agama, sejarah, dan peradaban.
Ia mengatakan bahwa peringatan persatuan Yaman tidak boleh dipandang sebagai sekadar peristiwa politik atau prosedur administratif, tetapi sebagai hari bersejarah yang mencerminkan prinsip Qurani tentang persatuan dan penolakan terhadap perpecahan.
Mengutip ayat-ayat Al-Quran tentang persatuan dan persaudaraan, al-Mashat mengatakan bahwa rakyat Yaman mewujudkan persatuan sebagai respons terhadap petunjuk Ilahi dan karena identitas, takdir, serta iman bersama yang mendalam.
Ia menegaskan bahwa persatuan Yaman mencerminkan realitas satu bangsa dengan agama, bahasa, sejarah, dan peradaban yang sama dari utara hingga selatan dan dari timur hingga barat.
Menurut al-Mashat, periode perpecahan dalam sejarah Yaman merupakan kondisi tidak normal yang dipaksakan oleh pendudukan asing dan campur tangan kolonial.
“Fragmentasi yang dipaksakan pada masa-masa kelam pendudukan hanyalah pengecualian aneh yang bertentangan dengan geografi, realitas rakyat, dan semangat identitas yang satu,” katanya.
Agresi Asing Bertujuan Memecah Belah Yaman
Al-Mashat mengatakan bahwa Amerika Serikat, Arab Saudi, dan kekuatan sekutunya berupaya memecah Yaman melalui perang, blokade, pendudukan, dan penyulutan konflik internal.
Ia menyatakan bahwa agresi terhadap Yaman dirancang untuk membuka jalan bagi pembagian wilayah dan melemahkan negara demi menguasai sumber daya serta keputusan politiknya.
“Agresi dan pendudukan Amerika-Saudi atas sebagian wilayah Yaman adalah upaya putus asa untuk memecah tanah air dan merobek tubuh Yaman,” tegasnya.
Ia mengatakan bahwa kekuatan asing berusaha memaksakan proyek federalisasi yang telah ditolak oleh Revolusi 21 September.
Meski demikian, al-Mashat menegaskan bahwa rakyat Yaman “tidak akan menerima selain Yaman yang bersatu.”
Ia menekankan bahwa membela persatuan Yaman saat ini tidak dapat dipisahkan dari perjuangan lebih luas demi kedaulatan, kemerdekaan, dan pembebasan dari dominasi asing.
Kritik Tajam terhadap Rezim Yaman Sebelumnya
Presiden Yaman itu juga melontarkan kritik tajam terhadap rezim Yaman sebelumnya terkait perang saudara tahun 1994, dengan mengatakan bahwa rezim tersebut mengubah persatuan dari kemitraan nasional menjadi sistem dominasi, penjarahan, pengucilan, dan ketidakadilan.
Ia menggambarkan kepemimpinan lama sebagai “geng” yang merugikan rakyat dan persatuan Yaman itu sendiri.
Menurut al-Mashat, rakyat Yaman telah melewati fase tersebut melalui pengorbanan dan keteguhan selama bertahun-tahun.
Ia memperingatkan adanya upaya menghidupkan kembali kekuatan lama dengan nama-nama baru di bawah perlindungan agresi asing.
“Mereka mencoba kembali di bawah sayap agresi dan di atas tank-tank penjajah, dengan wajah pinjaman dan berbagai topeng,” katanya.
Peringatan terhadap Normalisasi dengan Israel
Al-Mashat mengecam keras langkah normalisasi terbaru yang dilakukan wilayah Somaliland yang memproklamirkan diri terhadap rezim Zionis.
Ia memperingatkan bahwa tindakan tersebut menjadi ancaman langsung bagi Yaman dan kawasan yang lebih luas, serta menggambarkan normalisasi dengan Israel sebagai pengkhianatan besar.
Presiden Yaman itu menggambarkan normalisasi sebagai bagian dari upaya Zionis-Amerika untuk mendominasi kawasan secara politik dan militer.
Kecaman terhadap Pembakaran Al-Quran
Pemimpin Yaman itu juga mengecam pembakaran salinan Al-Quran baru-baru ini yang dilakukan oleh apa yang ia sebut sebagai “penjahat Amerika.”
Ia menyerukan kepada rakyat dan pemerintahan Muslim untuk memboikot negara-negara yang membiarkan tindakan semacam itu dan gagal menghukum pelakunya.
Menurut al-Mashat, sikap diam terhadap provokasi tersebut hanya akan mendorong permusuhan lebih lanjut terhadap Islam dan umat Muslim.
Kemajuan dalam File Pertukaran Tahanan
Terkait isu pertukaran tahanan, al-Mashat menyambut kemajuan terbaru dalam negosiasi dan kembali menegaskan komitmen Yaman terhadap pertukaran menyeluruh berdasarkan prinsip “semua untuk semua.”
Ia mengatakan bahwa otoritas Yaman telah memberikan seluruh fasilitas yang diperlukan untuk menyelesaikan proses tersebut dan meyakinkan keluarga tahanan bahwa pembebasan para tahanan dan sandera semakin dekat.
Yaman Siap Menghadapi Perang Apa Pun di Masa Depan
Pada bagian akhir pidatonya, al-Mashat mengeluarkan peringatan langsung kepada pemerintahan kawasan agar tidak bekerja sama dengan operasi militer Amerika atau Israel di kawasan.
Ia menyerukan kepada negara-negara yang takut menghadapi konfrontasi agar tidak menjadi alat di tangan musuh dengan membiarkan wilayah atau wilayah udara mereka digunakan melawan bangsa-bangsa tetangga.
“Jika netralitas hari ini adalah pengkhianatan, maka memberikan fasilitas bagi agresi musuh adalah pengkhianatan besar,” tegasnya.
Al-Mashat kembali menegaskan bahwa Yaman tetap siap sepenuhnya menghadapi setiap agresi Amerika atau Israel di masa mendatang dan menekankan bahwa persatuan Yaman akan tetap menjadi fondasi bagi pembangunan Yaman yang berdaulat, merdeka, dan kuat. (FG)



