Yaman–Saudi Sepakati Pertukaran Hampir 3.000 Tahanan
Terobosan baru muncul hari ini dalam berkas kemanusiaan yang lama mandek, dengan penandatanganan kesepakatan yang mengatur pembebasan 1.700 tahanan sebagai imbalan atas 1.200 tahanan dari pihak lawan.
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Sebuah celah baru terbuka hari ini dalam berkas kemanusiaan yang lama tersendat, menyusul penandatanganan kesepakatan yang mengatur pembebasan 1.700 tahanan dari tentara Yaman dan Komite Rakyat sebagai imbalan atas 1.200 tahanan dari pihak lawan, termasuk 7 warga Saudi dan 23 warga Sudan.
Kepala delegasi nasional, Mohammed Abdulsalam, menyambut langkah ini dan menyampaikan terima kasihnya kepada Sultanate of Oman atas peran besar serta upaya berkelanjutan yang memastikan keberhasilan putaran perundingan ini.
Sementara itu, Ketua Komite Nasional Yaman untuk Urusan Tahanan, Abdul Qader al-Murtadha, mengungkapkan aspek-aspek kunci kesepakatan dan menegaskan bahwa rincian lengkap akan diumumkan pada tahap berikutnya.
Utusan PBB: Kesepakatan Dicapai Setelah 11 Hari Negosiasi
Dalam pernyataan yang dikeluarkan kantor Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Yaman, ditegaskan bahwa perundingan berlangsung selama 11 hari di Oman, dan berujung pada kesepakatan fase baru pembebasan tahanan yang melibatkan seluruh pihak.
Pernyataan tersebut menyebut kesepakatan ini sebagai langkah penting dan positif yang mampu meringankan penderitaan para tahanan dan keluarga mereka di seluruh Republic of Yemen, seraya menyerukan penguatan upaya untuk membangun kemajuan ini menuju pembebasan tambahan.
Oman Puji “Semangat Positif” Perundingan
Di sisi lain, Sultanat Oman menyambut apa yang disebutnya sebagai semangat positif yang mewarnai perundingan sepanjang Desember 2025. Atmosfer ini dinilai berperan menentukan dalam tercapainya kesepakatan kemanusiaan penting tersebut, yang diharapkan dapat menciptakan kondisi yang sesuai untuk menangani isu-isu tersisa terkait situasi Yaman.
Berkas Kemanusiaan yang Mandek
Pertukaran tahanan terakhir di bawah pengawasan PBB berlangsung pada April 2023, setahun setelah penandatanganan kesepakatan gencatan senjata. Sejak itu, seluruh upaya menghidupkan kembali berkas kemanusiaan gagal, terutama akibat tekanan Amerika Serikat terhadap Saudi Arabia, khususnya setelah dukungan kuat Yaman terhadap Gaza dalam pertempuran “Al-Aqsa Flood.”
Sejak 2022, agresi Saudi–Emirat yang didukung Amerika Serikat menghentikan serangan udara ke Yaman, sebagai imbalan atas penghentian serangan Yaman terhadap Saudi Arabia dan UEA.
Pengaturan ini dimaksudkan untuk membuka jalan penyelesaian kewajiban kemanusiaan terlebih dahulu sebelum memasuki negosiasi politik. Namun, tidak ada kemajuan nyata yang menyusul.
Bandara—terutama Sana’a International Airport—tetap ditutup, pembatasan masuknya barang ke Hodeidah Port masih diberlakukan, dan seluruh upaya sebelumnya untuk membebaskan tahanan berujung kegagalan.
Syarat Sana’a Tetap Tegas
Dalam beberapa tahun terakhir, Sana’a berulang kali memperingatkan Saudi Arabia agar tidak mempertahankan situasi “tidak perang, tidak damai” secara berkepanjangan, dan menegaskan bahwa kegagalan menyelesaikan berkas kemanusiaan dapat mengembalikan keadaan ke titik awal—kembali ke perang.
Selain pertukaran tahanan, Sana’a menuntut:
Pembayaran kompensasi
Pembayaran gaji pegawai sektor publik
Pembukaan kembali bandara dan jalur lintas
Penarikan pasukan asing dari Yaman
Tuntutan-tuntutan ini ditegaskan sebagai fondasi yang tidak dapat ditawar bagi setiap penyelesaian di masa depan.
Ujian Niat, Belum Terobosan Menyeluruh
Sekali lagi, kesepakatan ini tampak menjanjikan, menandai potensi keterlibatan pada berkas-berkas lain yang belum terselesaikan serta memberi indikasi awal yang positif bahwa Saudi Arabia mungkin bergerak menuju perdamaian alih-alih eskalasi.
Namun, kesepakatan ini lebih merupakan ujian niat ketimbang terobosan komprehensif. Jika diikuti langkah konkret terkait gaji, pembukaan bandara, dan pelonggaran masuknya barang, ia dapat meletakkan dasar bagi de-eskalasi yang lebih luas.
Jika diperlakukan sekadar sebagai langkah terpisah, risiko kemunduran tetap tinggi, membawa bahaya nyata eskalasi ulang—sesuatu yang secara konsisten telah diperingatkan oleh Sana’a dan berupaya untuk dihindari. (FG)


